
"Tolong selamatkan bayiku.."
"Kumohon.."
Lia terus memandangi dirinya yang memohon dengan lirih pada orang-orang yang mendorong kasur pasien tempat tubuhnya terbaring. Darah terus mengalir ke kakinya, sementara tubuhnya penuh dengan luka. Tanpa disadari, air mata Lia mengalir dengan derasnya. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat hingga membuat dadanya terasa sesak.
"Tolong selamatkan bayiku.."
Lia masih mengucapkan kata-kata yang terdengar sangat menyedihkan itu hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri di ruang operasi, sementara itu Lia yang saat ini pun akhirnya keluar dari bayangan itu dan tersadar. Tangisnya meledak hingga suaranya memenuhi seluruh sudut ruang tamu rumahnya.
...
"Bagaimana kalau Rina yang meminta untuk menjadi anggota tim dokter lagi?" tanya suster Indah tiba-tiba dan pertanyaannya itu berhasil membuat dokter Adi tersentak.
"Saya yang menentukan anggota tim saya!" ucap dokter Adi.
"Bagaimana kalau Rina memaksa?" tanya suster Indah lagi.
"Hei, kenapa kamu memikirkan hal yang tidak berguna seperti itu?" tegur dokter Adi.
"Saya hanya takut dokter akan mengeluarkan saya dari tim ini. Saya sudah terlalu mencintai pekerjaan di dalam tim ini, dok!" aku suster Indah.
__ADS_1
"Kalau kamu seperti ini terus, saya akan benar-benar menggantikan kamu dengan orang lain!" ancam dokter Adi. Suster Indah terdiam.
"Kalau kamu tetap ceroboh dan terus memikirkan hal-hal tidak berguna itu, saya akan menggantikan kamu dengan orang lain, tapi bukan juga Rina, mungkin Dimas atau Rio atau bisa juga yang lainnya, masih banyak kandidat perawat yang lebih baik!" lanjut dokter Adi.
"Dokter jahat!" seru suster Indah.
"Kumohon jangan gantikan saya!" rengeknya.
"Lebih baik kamu banyak belajar dan memperbaiki kinerjamu daripada mengurusi hal lain yang tidak berguna!" saran dokter Adi.
"Saya akan melakukannya, dok, tapi dokter tidak akan mengganti saya kan?!" ucap suster Indah.
"Entahlah!"
"Sudahlah, saya mau pulang! Wanita yang sangat cantik sudah menunggu saya di rumah!" seru dokter Adi.
"Dokter bukan lagi dokter cinta tapi dokter bucin!" ejek suster Indah.
"Biar saja, setidaknya saya tidak tergantikan!" ucap dokter Adi balik mengejek.
"Dokteeerr!!!" seru suster Indah kesal. Dokter Adi tertawa keras sambil meninggalkan rekan kerjanya itu.
__ADS_1
...
Dokter Adi melangkah keluar dari mobilnya, ia sedikit tercengang melihat rumahnya yang tampak gelap dari luar, hanya cahaya remang yang terlihat dari salah satu jendela rumahnya.
"Apa Lia tidak di rumah?" gumamnya pelan. Ia melangkah perlahan menuju pintu utama rumahnya itu dan.... Dokter Adi kembali terdiam karena mendapati pintu utama rumahnya itu tidak terkunci.
"Lia..." panggil dokter Adi pelan sambil membuka pintu itu lebar-lebar.
"BRUUK!!" Tiba-tiba sesuatu menerjang tubuhnya hingga membuat tubuhnya sedikit terdorong ke belakang, tak lama kemudian sesuatu itu memeluk erat tubuhnya.
"Li.. Lia?" ucap dokter Adi bingung. Ternyata Lia-lah yang memberikan pelukan erat di tubuhnya itu.
"Lia?" ulang dokter Adi. Lia tidak menjawab panggilan suaminya itu, ia diam sambil terus memeluk tubuh dokter Adi.
"Kamu kenapa, Lia?" tanya dokter Adi yang mulai merasa cemas dengan tindakan Lia yang tidak seperti biasanya itu. Dokter Adi mencoba melepaskan pelukan Lia dari tubuhnya, bukan karena ia tidak menyukainya tetapi karena ia ingin melihat wajah istrinya itu dan menanyakan keadaannya, tapi Lia malah mempererat pelukannya pada tubuh suaminya itu.
Dokter Adi pasrah, ia balas memeluk tubuh Lia dan tangan kanannya mengusap lembut punggung istrinya itu.
"Ada apa, sayang? Apa yang terjadi?" bisiknya. Lia masih tidak menjawab pertanyaan suaminya itu, tapi perlahan tubuhnya bergetar dan air matanya mulai menetes membasahi pipinya. Dokter Adi mempererat dekapannya pada tubuh Lia begitu merasakan kalau tubuh istrinya itu bergetar.
"Ma.. maaf!" ucap Lia pelan.
__ADS_1
"Maafkan aku!" tambahnya. Sesaat setelah mengucapkan kata-kata itu, tangis Lia pun pecah.
...