
"Hai Lia!" sapa suster Rina.
"Sudah lama kita tidak bertemu!" lanjutnya. Lia menatap suster Rina dengan tatapan dingin.
"Sepertinya kamu berharap sekali bisa bertemu denganku!" tukasnya.
"Iya, aku sebenarnya berharap kamu akan sering menjengukku sejak pertemuan kita waktu itu." ungkap suster Rina.
"Tapi ternyata kamu tidak pernah datang lagi ke sana!" lanjut suster Rina.
"Untuk apa aku datang ke sana?" celetuk Lia.
"Bukankah pembicaraan kita waktu itu belum selesai?" ucap suster Rina. Lia menatap tajam ke arah suster Rina, sementara itu suster Rina tersenyum sinis pada Lia.
"Pembicaraan kita tidak penting!" tukas Lia.
"Oh tidak penting ya? Jadi kamu tidak mau mendengar kisah indah di masa lalu lagi?" tanya suster Rina.
"Apa kalian akan terus seperti ini?" potong dokter Adi tiba-tiba. Ia merasa tidak nyaman dengan sikap istri dan mantan kekasihnya itu.
"Kalau kalian mau terus bertengkar, lebih baik kalian kerjakan saja semua ini bersama!" ucap dokter Adi. Ia beranjak dari tempatnya.
"Kamu mau ke mana, Di?" tanya suster Rina dengan nada bicara yang menggoda, membuat emosi Lia semakin meningkat.
"Nonton tv!" jawab dokter Adi singkat.
__ADS_1
...
"Om dokter kenapa?" tanya Dina yang berpapasan dengan dokter Adi dan melihat ekspresi kesal di wajah dokter Adi.
"Ada anjing dan kucing bertengkar di belakang!" jawab dokter Adi.
"Hah?" Dina bingung mendengar jawaban dokter Adi itu.
"Kamu lihat saja sana di dapur, Din!" ucap dokter Adi.
"Sekalian kamu jagai mereka agar tidak menggunakan benda tajam untuk bertengkar!" tambahnya.
"Hah? Anjing dan kucing bertengkar dengan benda tajam?" Dina semakin bingung mendengar ucapan dokter Adi, ia segera berlari ke dapur untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Mama.. tante.." ucapnya pelan begitu masuk ke dapur dan hanya mendapati ibunya bersama Lia.
"Anjing dan kucing... ee.." Dina tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Ada apa denganmu?" tanya suster Rina lagi.
"Tidak jadi!" seru Dina sambil berlari keluar dari dapur dan kembali menemui dokter Adi.
"Om!" panggil Dina sambil menghampiri dokter Adi yang berada di ruang keluarga.
"Sudah kamu urus anjing dan kucing itu, Din?" tanya dokter Adi.
__ADS_1
"Anjing dan kucing yang om maksud itu mama dan tante Lia?" tanya Dina dengan suara berbisik. Dokter Adi menganggukkan kepalanya.
"Sudah kamu urus mereka?" tanya dokter Adi. Dina menggelengkan kepalanya.
"Ketika aku ke sana, ekspresi wajah mereka sangat menakutkan, om!" ungkap Dina.
"Oh ya?" ucap dokter Adi tak menyangka. Dina menganggukkan kepalanya.
"Bahkan aura di seluruh dapur pun menjadi tidak enak!" terang Dina.
"Lalu, apa mereka sama-sama memegang benda tajam?" tanya dokter Adi. Dina menganggukkan kepalanya lagi. Dokter Adi tersentak.
"Pokoknya, suasana di dapur sangat mencekam, om!" ungkap Dina.
"Om harus memisahkan mereka!" tambahnya. Dokter Adi terdiam sejenak, tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Aku tidak berani melawan wanita yang sedang berseteru, Din!" akunya.
"Kamu tahu sendiri kalau para wanita sedang bertengkar seperti apa!" tambahnya.
"Aku juga seorang wanita, om!" protes Dina.
"Kalau begitu kamu saja yang memisahkan mereka! Kamu pasti punya kekuatan yang sama seperti mereka!" tukas dokter Adi.
"Maksud om?" Dina merasa kesal mendengar ucapan dokter Adi. Dokter Adi tertawa kecil.
__ADS_1
"Sudahlah, biarkan saja! Ada Oma yang akan memisahkan mereka kalau terjadi apa-apa!" ucap dokter Adi sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
...