
Dokter Adi mengajak Lia ke ruangannya, ia hendak menanyakan apa yang terjadi pada Lia tadi. Lia mengikuti dokter Adi dari belakang, dan ketika ia memasuki ruangan suaminya itu, ia merasa sangat familiar dengan semua yang ada di ruangan itu. Lia memperhatikan setiap sisi ruangan itu.
"Apa aku sudah pernah ke tempat ini sebelumnya?" batinnya sambil mencoba mengingat-ingat kapan dirinya peenah ke tempat ini.
Mata cantik Lia menjelajah ke seluruh penjuru ruangan dan terhenti pada suaminya yang saat ini sedang memunggunginya. Lia memperhatikan pundak tegap suaminya itu dari belakang, perlahan jantungnya berdebar sedikit lebih cepat dari sebelumnya dan entah mengapa ia merasa kikuk hanya karena melihat pundak itu, tapi matanya tak mau beranjak dari pundak suaminya itu.
"Dia terlihat tampan dengan jas putih itu!" puji Lia dalam hatinya. Deg! Tiba-tiba jantung Lia seperti berhenti berdetak sejenak, seketika ia teringat sebuah mimpi yang pernah mampir di salah satu tidurnya.
"Dok.. ter..." gumam Lia pelan. Dokter Adi yang mendengar ucapan Lia itu tersentak dan segera membalikkan tubuhnya menghadap istrinya itu. Sejenak mereka hanya saling menatap tanpa berkata apa-apa.
"Aku pernah bermimpi tentang ruangan ini!" ucap Lia pelan. Dokter Adi tersentak.
"Seperti apa mimpimu itu?" tanyanya. Dokter Adi terkejut karena tiba-tiba saja ekspresi wajah Lia berubah, bahkan Lia menatapnya dengan tatapan dingin.
"Di mimpiku itu, aku bersama seorang pria dengan jas putih sepertimu. Pria itu mengatakan sesuatu..." ungkap Lia.
__ADS_1
"A.. apa yang dikatakannya?" tanya dokter Adi. Jantungnya mulai berdebar-debar karena sikap Lia sangat mencurigakan. Tatapan Lia berubah menjadi tajam.
"Aku lupa seperti apa persisnya, tapi inti dari ucapan pria itu adalah menyingkirkanku dari hidupnya." ucap Lia pelan.
"Pria itu ingin aku pergi dari hidupnya dengan cara bicara yang halus." terang Lia. Dokter Adi berusaha untuk tenang meskipun jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Apa yang Lia katakan sebagai mimpinya adalah masa lalunya. Sesuatu yang benar-benar pernah terjadi di antara mereka.
"Pria itu bilang, aku pasti bisa mendapatkan pria lain yang lebih baik darinya." ucap Lia lagi.
"Mengapa kamu lebih dulu ingat kejadian itu, Lia?!" batin dokter Adi.
"Aku tidak tahu siapa pria itu karena wajahnya tidak terlihat jelas di mimpiku itu, tapi entah mengapa aku yakin kalau ruangan di mimpiku itu adalah ruangan ini." ucap Lia.
"Dan pria itu berpakaian sama sepertimu!" tambahnya. Dokter Adi menyadari kalau ucapan Lia itu mengandung sindiran untuknya.
"Apa pernah ada pria lain yang kukenal pernah menempati tempat ini sebelumnya?" tanya Lia.
__ADS_1
"Ee.." Dokter Adi tidak tahu harus menjawab pertanyaan Lia seperti apa.
"Mungkin ada!" jawab dokter Adi akhirnya.
"Mungkin ada?" gumam Lia. Ia terus mengintimidasi suaminya itu dengan tatapan tajam, tapi dokter Adi terus berusaha untuk tenang.
"Mengapa jawabanmu itu tidak jelas?" tanya Lia curiga.
"Karena aku tidak tahu, Lia! Mungkin saja kamu mengenal orang lain yang pernah menempati ruangan ini sebelum aku!" tukas dokter Adi.
"Kamu tidak tahu atau memang tidak ada orang lain yang kukenal yang menempati ruangan ini selain kamu?" cecar Lia. Dokter Adi terdiam, ia tidak merespon ucapan Lia itu, ia hanya terus memandangi Lia. Lia melangkah perlahan mendekati suaminya itu.
"Kamu pernah menginginkan aku untuk pergi dari kehidupanmu?" tanya Lia dengan suara berbisik.
...
__ADS_1