Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Tiga Puluh Tujuh


__ADS_3

Lia masuk ke dalam mobil dokter Adi, begitu ia sudah duduk dengan baik di kursi depan, dokter Adi dengan sigap memasangkan seat belt pada tubuh Lia seperti biasanya. Lia yang mendapat perlakuan manis dari suami yang tak dikenalnya itu spontan tersentak, jantungnya berdebar tak karuan.


"Kamu sudah siap?" tanya dokter Adi lembut. Lia menatap wajah dokter Adi yang berada sangat dekat dengan wajahnya dan perlahan menganggukkan kepalanya.


"Tapi sebelum kita berangkat, aku mau kamu berjanji kalau apapun yang kamu rasakan atau mungkin ada kenangan yang samar-samar bisa kamu ingat lagi nanti, kamu harus menceritakannya padaku! Oke?!" pinta dokter Adi. Lia terdiam.


"Kalau kamu tidak mau berjanji untuk menceritakan semuanya, aku tidak akan membawamu ke tempat itu!" ancam dokter Adi. Lia menghela nafasnya.


"Baiklah! Aku akan menceritakannya!" ucap Lia akhirnya.


"Semuanya?" desak dokter Adi.


"Iya! Semuanya!" jawab Lia pasrah. Dokter Adi tersenyum lembut pada Lia dan kemudian membenarkan posisi duduknya lalu mulai menyalakan mesin mobilnya.


...


"Rumah sakit ji.. wa..." eja Lia begitu ia membaca sebuah papan nama besar yang berada di atas sebuah gerbang besar dan dokter Adi mengarahkan mobilnya menuju ke gerbang itu.


"Tempat apa ini?" tanya Lia polos.


"Ini rumah sakit jiwa, Lia!" jawab dokter Adi.


"Lalu kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Lia bingung. Dokter Adi hanya tersenyum lembut tanpa menjawab pertanyaan Lia, lalu kemudian membuka jendela mobilnya untuk menyapa petugas keamanan yang bertugas siang itu.

__ADS_1


"Siang, pak!" sapanya.


"Selamat siang, pak dokter! Ah ada ibu Lia, selamat siang ibu!" seru petugas keamanan itu. Petugas keamanan itu juga menyapa Lia dan Lia membalas sapaannya dengan senyuman lebarnya. Tak lama kemudian petugas keamanan itu membukakan gerbang agar mobil dokter Adi bisa masuk ke dalam area rumah sakit.


"Kamu dokter di sini?" tanya Lia. Dokter Adi menganggukkan kepalanya.


"Di rumah sakit ini eem.. maksudku di rumah sakit jiwa ini?" tanya Lia lagi, ia terlihat tidak percaya dengan jawaban dokter Adi. Dokter Adi kembali menganggukkan kepalanya.


"Jadi kamu bekerja sebagai dokter jiwa?!" ucap Lia tak yakin.


"Iya, sayangku!" sahut dokter Adi.


"Kamu bisa menyebutnya psikiater!" tambahnya. Lia menatap wajah dokter Adi dengan seksama.


Dokter Adi memarkirkan mobilnya di tempat biasanya ia memarkirkan mobilnya. Lia memperhatikan lingkungan di sekitar tempat suaminya memarkirkan mobil.


"Mengapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Lia.


"Apa aku pernah berada di sini?" tambahnya. Dokter Adi terdiam, ia hanya memperhatikan sikap Lia itu.


"Apa aku pernah menjadi pasien di sini?" Lia memperjelas pertanyaannya.


...

__ADS_1


Dimas dan Rio berjalan menyusuri lorong kamar pasien dan mereka bertemu dengan suster Indah yang sedang duduk di kursi yang ada di depan kamar pasien no. 208


"Hei!" seru Dimas, ia mencoba mengejutkan suster Indah yang terlihat sedang melamun.


"HEI!!" seru suster Indah kesal karena terkejut.


"Enak ya, di saat semua perawat swdang sibuk, kamu malah asyik-asyikkan melamun di sini!" sindir Rio.


"Enak saja!" bantah suster Indah.


"Aku sedang menunggu dokter Adi di sini!" terang suster Indah.


"Loh?! Dokter Adi belum datang?" tanya Dimas. Suster Indah menggelengkan kepalanya.


"Tidak seperti biasanya! Apa dokter Adi sedang ada masalah?" tanya Rio.


"Entahlah!" jawab suster Indah.


"Tidak! Aku tidak sedang ada masalah!" Tiba-tiba terdengar suara dokter Adi dari balik tubuh Dimas dan Rio, spontan Dimas dan Rio membalikkan tubuhnya.


"Dokter!" seru Dimas dan Rio bersamaan. Mereka terkejut mengetahui keberadaan dokter Adi yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang mereka.


"LIA!" seru mereka lagi diikuti juga dengan suster Indah. Mereka kembali terkejut dengan kehadiran Lia di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Ha.. hai!" sapa Lia kikuk sambil melambaikan tangannya pelan.


...


__ADS_2