
"Tidak ada istilah 'merepotkan' dalam hubungan suami-istri, Lia! Apa pun kebutuhanmu, itu menjadi tanggung jawabku karena aku suamimu!" tegas dokter Adi. Jantung Lia kembali berdebar dengan sangat kencang karena ucapan dokter Adi barusan. Lia memalingkan wajahnya ketika ia mulai merasa kalau darahnya mengalir naik ke wajahnya hingga membuat wajahnya memerah. Entah mengapa ucapan sederhana dokter Adi itu membuatnya gugup.
"Kamu kenapa?" tanya dokter Adi tiba-tiba karena melihat tingkah aneh Lia.
"Tidak! Tidak apa-apa!" jawab Lia kikuk.
"Kalau ada yang kamu rasa sakit, katakan saja padaku!" ucap dokter Adi.
"Sekecil apapun rasa sakit itu, katakan saja! Itu sangat penting, karena dokter harus mengobservasimu!" terang dokter Adi. Dokter Adi terlihat emosional ketika menyampaikan hal itu, ia terlihat sangat cemas dengan keadaan Lia dan sikapnya itu membuat Lia tersentuh tapi juga merasa bingung.
"Apa terjadi sesuatu dengan tubuhku?" tanya Lia. Dokter Adi tersentak.
"Ti.. tidak!" bantah dokter Adi.
"Kamu baik-baik saja! Hanya saja aku takut kalau terjadi sesuatu yang buruk lagi padamu!" terang dokter Adi. Ia menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan mata Lia karena Lia selalu bisa menerka kalau ia sedang berbohong.
"Jangan berbohong padaku!" desak Lia, ia mendekatkan wajahnya pada dokter Adi.
"Tidak! Aku tidak berbohong!" seru dokter Adi sambil terus menghindari tatapan mata Lia.
"Lalu kenapa kamu bersikap seperti itu?" cecar Lia.
"Bersikap seperti apa?" tanya dokter Adi.
"Kamu terus menghindari tatapanku!" ucap Lia.
"Tidak!" bantah dokter Adi sambil memalingkan wajahnya ke arah Lia, dan... Jantung mereka seperti berhenti berdetak sesaat tapi sedetik kemudian debaran jantung mereka malah terasa sangat kuat dan kencang. Ada apa dengan mereka?
Ketika dokter Adi memalingkan wajahnya ke arah istrinya, ia tidak menyadari kalau wajah istrinya begitu dekat sehingga ketika wajahnya berbalik, tidak sengaja hidungnya bersentuhan dengan bibir mungil istrinya itu. Lia pun tidak menyangka kalau dokter Adi akan memalingkan wajahnya sehingga ia pun sangat terkejut. Sejenak mereka hanya saling menatap tanpa berkata apa-apa, jantung mereka terus berdebar dengan cepat, debarannya sama seperti saat pertama kali mereka merasa saling jatuh cinta.
"A.. ada apa ini? Mengapa aku berdebar-debar seperti ini?" tanya Lia dalam hatinya.
"Aku jatuh cinta sekali lagi padanya!" batin dokter Adi. Akhirnya mereka sama-sama saling memalingkan wajah mereka dan sesaat suasana di antara mereka menjadi sangat canggung.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kalau wajahmu begitu dekat denganku!" ucap dokter Adi pelan. Ia berusaha menjelaskan kalau peristiwa yang baru saja terjadi adalah sebuah ketidak sengajaan agar Lia tidak merasa kembali tidak nyaman padanya.
"A.. aku juga tidak tahu kalau kamu akan memalingkan wajahmu ke arahku, aku hanya ingin menggodamu tadi!" ucap Lia. Lia pun berusaha menjelaskan kalau dirinya mendekati dokter Adi hanya untuk menggodanya.
"Aku hanya bercanda." tambahnya. Dokter Adi memandangi wajah istrinya itu yang saat ini sedang tertunduk, perlahan tanpa disadarinya, sebuah senyuman lembut merekah di bibir tipisnya.
Dokter Adi meraih tangan kiri Lia dengan tangan kanannya dan menggenggamnya erat. Lia yang sangat terkejut berusaha menarik tangannya itu dari genggaman dokter Adi tapi genggaman itu terlalu kuat.
"Kumohon biarkan seperti ini, sekali ini saja!" pinta dokter Adi. Lia terdiam sambil menatap ke arah dokter Adi.
"Aku sangat merindukan istriku!" ucapnya lirih. Dokter Adi menundukkan kepalanya dan menatap tangan Lia yang berada di dalam genggamannya itu. Akhirnya, Lia membiarkan dokter Adi untuk menggenggam tangannya itu.
...
Dokter Adi membereskan semya barang-barang Lia yang ada di rumah sakit untuk dibawa pulang, lalu ia memberikan pakaian bersih untuk Lia kenakan. Lia meraih pakaian itu dari tangan suaminya itu lalu menunggu suaminya untuk menutup tirai yang mengelilingi ranjangnya dan memberikan waktu padanya untuk berganti pakaian, tapi dokter Adi tidak juga beranjak dari sisi ranjang dan malah terus memandanginya.
"Kamu mau mengintipku berganti pakaian?" ucap Lia akhirnya. Dokter Adi sangat terkejut dengan ucapan Lia barusan.
"Mengintipmu?" serunya tak percaya.
"Lalu untuk apa kamu terus berdiri di situ? Kamu mau melihatku berganti pakaian?" tuduh Lia lagi. Dokter Adi semakin terkejut, ia benar-benar tidak menyangka kalau Lia akan menuduhnya seperti itu.
"Aku bahkan sudah melihat seluruh tubuhmu tanpa sehelai benangp pun, Lia!" seru dokter Adi. Kini giliran Lia yang sangat terkejut mendengar ucapan dokter Adi itu.
"Untuk apa aku sekedar mengintip istriku sendiri berganti pakaian?! Aku bisa melihatnya dengan puas!" tambah dokter Adi.
"DASAR PRIA MESUUUM!!!" jerit Lia sambil melemparkan pakaian bersih yang ada di tangannya.
"Astaga, Lia! Sekarang kamu menyebut suamimu dengan sebutan 'Pria Mesum'?!" seru dokter Adi tak percaya.
"Kamu bukan suamiku!" tukas Lia. Ucapan Lia itu membuat dokter Adi sangat terkejut.
"Tidak mungkin aku menikah dengan pria mesum sepertimu!" maki Lia.
__ADS_1
"Astaga!!" Dokter Adi terlihat benar-benar tidak menyangka mendapat makian seperti itu dari istrinya sendiri.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Bima yang baru saja masuk ke dalam kamar Lia dan melihat pertengkaran antara kakaknya dengan kakak iparnya itu. Lia dan dokter Adi terdiam.
"Dulu kalian seperti Romeo dan Juliet, tapi kenapa sekarang seperti Tom dan Jerry?" tukas Bima.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Bima penasaran.
"Kakakmu ini menghinaku dengan mengataiku 'Pria Mesum'!" adu dokter Adi. Bima terkejut mendengar ucapan dokter Adi itu.
"Bukankah wajahnya memang seperti 'Pria Mesum'?!" ejek Lia. Bima tertawa kecil mendengar ejekan Lia pada dokter Adi itu.
"Memangnya kenapa kak Lia bisa menyebutnya sebagai 'Pria Mesum'?" tanya Bima pada kakaknya itu.
"Dia mau mengintipku berganti pakaian!" ungkap Lia. Bima mulai terbahak-bahak.
"Kak Lia, dia suamimu! Kalian pasti sudah pernah saling melihat tubuh masing-masing!" ucap Bima.
"Ya benar!" timpal dokter Adi.
"Aku tidak percaya kalau dia suamiku! Tidak mungkin aku menikah dengan 'Pria Mesum' sepertinya!" bantah Lia.
"Astaga, Lia!" seru dokter Adi tak terima. Bima semakin terbahak-bahak melihat pertengkaran konyol Lia dan dokter Adi itu.
"Tapi dulu kak Lia tergila-gila padanya loh!" canda Bima.
"Aku pasti sudah gila saat itu!" tukas Lia. Dokter Adi tersentak mendengar ucapan Lia itu, ia menatap kedua mata Lia dan Lia pun menatapnya tapi dengan tatapan tajam.
"Lihat saja, aku akan membuatnya tergila-gila lagi!" ucap dokter Adi dengan nada mengancam.
"Sudah! Sudah! Apa kalian akan seperti itu terus?" tanya Bima di sela-sela tawanya.
"Apa kita tidak jadi pulang ke rumah?" lanjutnya.
__ADS_1
"Biar saja! Mungkin dia mau tinggal selamanya di rumah sakit ini!" seru dokter Adi kesal. Dokter Adi dan Bima membawa barang-barang Lia ke luar kamar, sementara itu Lia mengganti pakaian pasiennya dengan pakaian bersih yang diberikan oleh suaminya tadi.
...