
Hari ini, Dina kembali menemani Lia selama dokter Adi bekerja. Lia menghampiri Dina dengan beberapa bungkus camilan yang ada di tangannya.
"Makanlah camilan-camilan ini agar kamu tidak bosan mengerjakan tugas-tugasmu!" ucap Lia sambil menaruh camilan-camilan itu di samping Dina.
"Terima kasih banyak tante!" seru Dina, ia tersenyum lebar pada Lia. Lia duduk di sofa yang ada tepat di samping Dina dan mulai memperhatikan apa yang Dina kerjakan.
"Kamu anak yang tekun, suster Rina pasti bahagia memiliki anak sepertimu!" puji Lia.
"Aku berharap begitu, tan!" sahut Dina. Lia membelai lembut rambut ikal Dina. Dina tersentak, sejenak ia menatap Lia dan kemudian tersenyum lembut pada Lia lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
...
Lia tampak sibuk menyiapkan makanan untuk dirinya dan Dina, ia memasak makanan itu sendiri, dan ia terlihat sedikit kewalahan karena ia merasa tidak bisa memasak.
"Tante sedang apa?" tanya Dina yang baru saja masuk ke dalam ruangan dapur.
"Ee.. ini! Aku memasak sedikit makanan untuk kita makan." terang Lia sambil menunjukkan masakannya yang telah tersaji di piring.
"Waah!" seru Dina.
"Maaf, aku tidak bisa memasak makanan dengan baik!" ucap Lia.
"Hah?!" Dina terkejut mendengar ucapan Lia itu.
"Mungkin dulu aku juga tidak bisa memasak jadi meskipun aku sudah kembali sehat sekarang, aku tetap tidak bisa memasak!" ungkap Lia.
"Tidak!" tukas Dina sambil menggelengkan kepalanya.
"Dulu masakan tante adalah yang terbaik!" ungkap Dina.
"Makanan yang tante masak tidak pernah gagal!" lanjutnya.
"Oh ya?!" seru Lia tidak percaya.
"Tapi kenapa sekarang aku sangat kesulitan untuk memasak?" gumam Lia.
"Aku tidak berbohong, tante! Semua orang menyukai masakan tante!" ungkap Dina.
"Apa aku benar-benar sangat berubah?" tanya Lia. Dina terdiam sejenak sambil menatap Lia tapi sesaat kemudian ia menganggukkan kepalanya pelan. Melihat jawaban Dina, Lia terlihat sedih.
__ADS_1
"Mungkin karena tante masih belum bisa mengingat kembali semuanya." hibur Dina. Lia menghela nafasnya.
"Tapi meskipun begitu, aku senang!" ucap Dina. Lia tersentak, ditatapnya wajah manis Dina dengan bingung karena ucapan Dina barusan.
"Karena tante tetap memperlakukanku dengan baik dan lembut!" tambah Dina.
"Tante orang yang baik, sangat baik untukku!" ungkap Dina.
"Setelah semua yang terjadi, tante bahkan masih bisa bersikap baik pada orang-orang yang berbuat jahat pada tante." lanjutnya. Suara Dina mulai terdengar bergetar.
Lia berjalan mendekati Dina dan duduk di kursi yang ada di samping kursi Dina.
"Apa ada orang-orang yang berbuat jahat padaku? Apa yang mereka lakukan dan siapa orang-orang itu?" tanya Lia pelan. Dina terdiam sejenak sambil menatap kedua mata Lia, tapi kemudian ia menundukkan kepalanya.
"Aku masih sangat kecil saat itu, tan! Aku belum begitu mengerti apa yang terjadi, yang aku tahu orang-orang itu melakukan hal yang buruk pada tante!" ungkap Dina. Dina kembali menatap kedua mata Lia.
"Siapa orang-orang itu?" tanya Lia. Dina terdiam.
"Siapa orang-orang yang berbuat jahat padaku itu, Dina?" cecar Lia. Dina menghela nafasnya.
"Pria yang ada di foto bersama tante itu." jawab Dina akhirnya.
"Ti.. tidak mungkin!" ucap Lia tak percaya.
"Maaf, aku tidak bisa menjelaskannya pada tante kemarin bahkan hari ini pun aku tidak bisa mengungkapkan semuanya pada tante..." sesal Dina.
"Sepertinya ada peristiwa lain yang terjadi lebih dari ini?" tanya Lia curiga. Dina menganggukkan kepalanya.
"Ceritakan padaku, Dina!" pinta Lia.
"Aku tidak mengetahui semuanya secara detail, tante!" tukas Lia.
"Ceritakan saja apa yang kamu ketahui!" paksa Lia. Dina terdiam, dipandanginya kembali kedua mata Lia.
"Aku hanya bisa bilang satu hal, tante..." ucapnya pelan. Lia menatap Dina dengan seksama.
"Percayalah pada om dokter, dia orang yang paling menyayangi tante! Aku yakin, om dokter tidak akan pernah menyakiti tante karena yang aku tahu, dia akan bersedih setiap kali tante menderita atau merasakan sakit!" tegas Dina.
"Aku memang tidak mengenal om dokter sebaik tante, tapi aku pernah melihatnya memperjuangkan tante sampai tidak memikirkan dirinya sendiri." ungkapnya. Lia terkejut mendengar semua pernyataan Dina itu, bahkan hal itu membuat jantungnya berdebar dengan kencang, tetapi meskipun Dina menyampaikannya dengan tegas, entah mengapa ia belum bisa mempercayai sepenuhnya ucapan Dina itu.
__ADS_1
...
Dokter Adi merebahkan tubuhnya di ranjang, ia menarik selimut dan bersiap untuk tidur. Lia yang baru saja selesai menggosok gigi, segera keluar dari kamar mandi dan ia tampak terkejut mendapati dokter Adi yang sudah berbaring di ranjangnya.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Lia. Dokter Adi yang mendengar pertanyaan Lia itu tersentak.
"A.. aku mau tidur." jawab dokter Adi kikuk. Ia bingung mengapa Lia bertanya seperti itu padanya.
"Kenapa kamu tidur di sini?" tanya Lia lagi.
"Karna.. karna ini ranjangku!" ucap dokter Adi.
"Tidurlah di kamarmu!" seru Lia.
"Ini kan kamarku!" tukas dokter Adi.
"Tidurlah di tempat biasa kamu tidur!" sentak Lia. Dokter Adi menatap Lia dengan seksama.
"Kamu hanya meminta ijin untuk tidur di sini kemarin dan aku hanya mengijinkanmu tidur di sini selama satu malam saja!" terang Lia.
"Sekarang kembalilah ke kamarmu!" paksa Lia.
"Tapi ini juga kamarku..." gerutu dokter Adi.
"Aku tidak nyaman tidur bersamamu!" tegas Lia. Dokter Adi terdiam mendengar ucapan Lia barusan, ia tidak menyangka kalau Lia akan berbicara seperti itu padanya, rasanya seperti sebuah petir menyambar hatinya dan membuatnya hancur berkeping-keping. Dokter Adi akhirnya mengalah dan beranjak dari ranjang itu. Ia keluar dari kamarnya dan meninggalkan Lia sendirian dalam kamar itu.
...
"Hai teman-teman...
Saya memohon maaf baru bisa melanjutkan cerita ini kembali karena adanya berbagai keperluan dan urusan, tapi saya sangat berterima kasih kepada teman-teman semua yang tetap setia menantikan kelanjutan cerita ini dan terus mendukung karya ini...
Dukungan teman-teman semua sangat berarti untuk saya ❤️...
Saya berharap teman-teman semua selalu sehat dan bahagia...
Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya..
Love u all..."
__ADS_1
...