
"Aku sudah si..." Kata-kata Lia terhenti begitu melihat dokter Adi yang tampak sedang terduduk diam di salah satu sisi ranjang mereka, suaminya itu terlihat sedang melamun.
"Sayang..." panggil Lia pelan sambil menepuk pundak suaminya itu. Dokter Adi terkejut.
"Kamu sudah siap?" ucapnya begitu mendapati istrinya telah selesai berpakaian karena mereka akan mengunjungi makam putra pertama mereka.
"Kamu kenapa?" tanya Lia.
"Tidak. Aku tidak apa-apa!" jawab dokter Adi, tapi Lia tidak begitu saja percaya dengan jawaban suaminya itu, ia menatap dokter Adi dengan tatapan curiga.
"Aku baik-baik saja, sayang! Sungguh!" terang dokter Adi, ia berusaha meyakinkan istri cantiknya itu.
"Ayo kita berangkat sekarang!" ajaknya. Lia mengikuti langkah suaminya dari belakang.
Seperti biasa, dokter Adi selalu memakaikan seat belt pada tubuh Lia dan karena perasaan Lia sudah banyak kembali, ia tidak lagi merasa canggung dengan sikap suaminya itu tapi malah merasa sangat bahagia. Sepanjang perjalanan menuju makam putra pertama mereka, dokter Adi terlihat lebih kalem dari biasanya, ia tidak banyak bicara dan tidak banyak mengajak Lia berbicara. Lia merasa sangat aneh dengan sikap suaminya yang tidak seperti biasanya itu, ia menduga ada sesuatu yang ditutup-tutupi oleh dokter Adi.
__ADS_1
Mereka menempuh 1 jam perjalanan untuk bisa tiba di pemakaman putranya itu. Dokter Adi menggandeng mesra tangan Lia dari awal mereka turun dari mobil hingga akhirnya tiba di depan pusara tempat putra mereka beristirahat untuk selamanya. Dokter Adi dan Lia duduk di samping makam putra pertama mereka.
"Di sini putra kita beristirahat." ucap dokter Adi pelan, suaranya terdengar sedikit berat dan bergetar.
"Arka Anugerah Prasetyo..." eja Lia, ia membaca nama putranya yang tertulis di batu nisan.
"Maaf, aku memberikannya nama tanpa memberi tahumu terlebih dahulu karna saat itu kamu belum siuman." ucap dokter Adi. Lia menatap wajah dokter Adi, sambil menggelengkan kepalanya, perlahan ia tersenyum lembut pada suaminya itu.
"Tidak apa-apa, aku menyukai namanya!" ungkap Lia.
"Arka..." Lia mengulang-ulang nama putranya itu.
"Sedangkan 'Anugerah' kuambil dari namamu dan 'Prasetyo' dari namaku." tambahnya.
"Jadi, anak ini menjadi penerang untuk kehidupan kita!" sambung Lia. Lia tampak sangat senang mengetahui nama putra pertamanya itu. Dokter Adi terdiam menatap Lia.
__ADS_1
"Kamu tahu, aku datang ke tempat ini hanya ketika aku mengantarkan putra kita untuk beristirahat selamanya dan setelah itu tidak pernah sekalipun aku mengunjunginya lagi." ungkap dokter Adi. Lia tersentak mendengar pengakuan suaminya itu.
"Kenapa?" tanya Lia sambil memandangi kedua mata suaminya dengan seksama. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.
"Karena aku belum bisa melepasnya." akunya. Kali ini suara dokter Adi terdengar bergetar. Lia terdiam sambil terus memandangi kedua mata dokter Adi yang mulai tampak berkaca-kaca.
"Mungkin aku terlalu banyak berharap pada anak ini sehingga ketika aku harus kehilangannya, aku merasa sangat terluka... bahkan sampai saat ini pun aku masih merasa seperti itu." lanjut dokter Adi. Sejenak, suasana di antara mereka menjadi sangat hening, Lia maupun dokter Adi tidak berkata apa-apa, mereka hanya memandangi batu nisan putra mereka.
"Maafkan aku.." ucap Lia pelan.
"Kalau bukan karena kelalaianku, kita tidak akan kehilangan putra kita." lanjutnya. Dokter Adi menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Lia! Semuanya memang sudah seharusnya terjadi seperti ini..." tukas dokter Adi.
"Hanya aku saja yang belum bisa mengikhlaskannya." lanjutnya.
__ADS_1
"Padahal aku seorang psikiater, aku terbiasa membantu orang untuk bisa menyembuhkan lukanya tapi ketika aku terluka, aku malah bertindak kekanak-kanakan seperti ini!" sesal dokter Adi. Dokter Adi tertunduk dan akhirnya air matanya perlahan mengalir membasahi pipinya.
...