
Setelah berpamitan dengan bapak dan ibu Tanto, dokter Adi dan Lia masuk ke dalam mobil, seperti biasa, dokter Adi membantu Lia mengenakan seat belt-nya dan Lia yang sudah mulai terbiasa dengan sikap manis suaminya itu, membiarkannya. Perlahan dokter Adi melajukan mobilnya.
"Sepertinya kamu menjadi menantu kesayangan di keluargaku, ya?!" ucap Lia tiba-tiba. Ucapan Lia itu membuat dokter Adi sedikit terkejut. Lia memalingkan pandangannya ke wajah suaminya itu.
"Mereka sepertinya sangat mempercayaimu. Apa pun yang mereka rasakan dan yang terjadi dalam kehidupan kedua orang tuaku itu, mereka ceritakan padamu." lanjutnya.
"Ya! Mereka sangat mempercayaiku bahkan dari sebelum kita menikah." ungkap dokter Adi. Lia menatap mata suaminya itu dengan seksama.
"Aku tidak pernah melihat seseorang mempercayai orang lain sampai seperti itu!" tukas Lia.
"Jelas saja kamu tidak pernah melihat hal seperti itu karena ingatanmu dimulai setelah kecelakaan." tukas dokter Adi.
"Walaupun begitu, tetap saja semuanya terasa aneh untukku! Apa kamu melakukan sesuatu pada keluargaku sampai-sampai mereka menaruh kepercayaan penuh padamu?" tanya Lia. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.
"Kalau sedang menghadapi dirimu yang seperti ini, aku ingin sekali ingatanmu cepat kembali!" ucap dokter Adi pelan.
"Maksudmu?" tanya Lia bingung.
"Tanpa kamu sadari, Lia, terkadang ucapanmu itu terkesan menuduhku melakukan sesuatu yang tidak benar untuk mendapatkan apa yang kuinginkan." jelas dokter Adi.
"Aku kan hanya bertanya! Apa salahnya aku bertanya?" tukas Lia.
"Ya! Baiklah!" ucap dokter Adi pasrah.
"Aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan sebagai dokter dan orang yang mencintaimu, makanya mereka bisa menaruh kepercayaan penuh kepadaku!" jelas dokter Adi akhirnya. Dokter Adi memalingkan pandangannya dari jalanan dan menatap wajah cantik istrinya itu sejenak, lalu sesaat kemudian kembali menatap ke jalanan yang ada di hadapannya.
"Tidak hanya keluargamu..." ucap dokter Adi pelan.
__ADS_1
"Bahkan kamu pun menaruh kepercayaan penuh padaku!" tegasnya. Lia terdiam mendengar ucapan dokter Adi itu. Sejenak suasana di dalam mobil menjadi sangat hening.
"Aku memang tidak sempurna, aku juga memiliki banyak kesalahan padamu tapi aku bersungguh-sungguh ketika aku mencintaimu!" ungkap dokter Adi pelan. Jantung Lia mulai berdebar dengan lebih kencang dari sebelumnya, ia merasa seperti mendengar pengakuan cinta dari seorang dokter Adi.
"Kamu lupa kalau kamu pernah mencampakkan aku dengan begitu kejinya?" sindir Lia. Dokter Adi menghela nafasnya kembali.
"Kamu yang dulu, sangat mengerti dengan keadaanku, karna itu, meskipun aku pernah melakukan kesalahan padamu tapi kamu bisa memaafkanku dan mencintaiku lagi!" lanjut dokter Adi. Dokter Adi kembali memandangi wajah cantik istrinya itu sejenak.
"Sampai sekarang aku tidak mengerti mengapa sejak kamu sadar setelah kecelakaan itu, kamu terus saja membenciku dan berpikiran buruk tentangku." ucap dokter Adi pelan.
"Setahuku, kita menikah karena saling mencintai dan sampai terakhir kali sebelum kecelakaan itu terjadi, keadaan kita baik-baik saja dan kita sangat bahagia dengan kehidupan kita bersama." ungkapnya.
"Mungkin saja sebenarnya aku tidak bahagia!" celetuk Lia. Ucapan Lia itu seperti sebuah petir yang menyambar hati dokter Adi. Dokter Adi benar-benar terkejut.
"Maksudmu?" tanya dokter Adi. Lia menghela nafasnya.
"Begini, kalau dipikirkan secara logika, sangat aneh kan kalau aku hidup dalam kebahagiaan bersamamu tapi aku tidak mengingatnya sedikitpun?!" terang Lia. Dokter Adi terdiam, ia berusaha menyimak setiap ucapan Lia meskipun dadanya terasa sesak.
"Mungkin saja selama bersamamu dulu aku hanya berpura-pura bahagia dan yang saat ini kurasakan adalah perasaan yang sesungguhnya." tambahnya.
"Ya! Mungkin kamu benar!" ucap dokter Adi.
"Meskipun aku seorang psikiater tapi dalamnya hati seseorang, siapa yang mengetahuinya." tambahnya. Dokter Adi tersenyum getir.
"Atau mungkin saja aku menikah denganmu karena sebuah keterpaksaan?" terka Lia. Lagi-lagi ucapan Lia membuat dokter Adi terkejut.
"Keterpaksaan karena apa?" tanya dokter Adi.
__ADS_1
"Karena keadaan!" jawab Lia santai.
"Keadaan bagaimana maksudmu? Seingatku, ketika kita menikah keadaan kita benar-benar sangat baik dan kita memang sama-sama siap untuk menikah!" tukas dokter Adi tidak terima.
"Itu kan seingatmu, tapi mungkin saja yang terjadi pada diriku tidak seperti itu!" ucap Lia.
"Aku kan mantan pasien gangguan jiwa, mungkin saja aku menikahimu karena aku berpikir tidak ada lagi yang akan mau menikahiku!" terang Lia. Dokter Adi menghela nafasnya dengan kasar dan menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa menerima ucapan Lia itu.
"Aku tidak menyangka kalau alur pemikiranmu akan seperti itu, Lia!" ucap dokter Adi kecewa.
"Aku kan hanya mencoba berpikir dengan logika saja!" tukas Lia. Dokter Adi menghela nafasnya sekali lagi.
"Apa yang salah dengan status 'mantan pasien gangguan jiwa'?" tanya dokter Adi.
"Meskipun saat ini kamu bersikap seperti ini, tapi aku mengenal Lia yang dulu, aku mengenal baik bagaimana istriku itu, dan aku yakin kalau dia tidak akan pernah berpikir seperti itu!" tegas dokter Adi.
"Tahu apa kamu tentang diriku yang sebenarnya?" ucap Lia.
"Kamu pikir istriku itu tidak memiliki pria lain yang mencintainya selain aku?" tanya dokter Adi. Lia tersentak.
"Bahkan aku harus berjuang keras untuk bisa mendapatkan dan menikahinya!" aku dokter Adi. Nafasnya mulai menderu karena kesal dengan pernyataan Lia, tapi dokter Adi mencoba menenangkan dirinya. Lia menatap mata dokter Adi dengan seksama.
"Kamu harus ingat hal ini, Lia! Meskipun istriku itu mantan pasien gangguan jiwa, tapi dia bukan wanita rendahan!" ucap dokter Adi.
"Dia wanita yang jauh lebih baik dibanding dengan wanita normal lainnya! Dia sudah membuktikannya, makanya banyak pria yang menyayanginya!" ungkapnya.
"Dan satu hal yang kuyakini sampai saat ini, dia sangat mencintaiku dan akupun sangat mencintainya! Meskipun keadaannya seperti saat ini, di dalam hatinya yang terdalam pasti masih ada cintanya untukku!" tegas dokter Adi.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah menyerah sampai perasaannya itu kembali kepadaku!" tambahnya.
...