
"Kamu tidak perlu takut, semuanya hanya sebuah mimpi!" Dokter Adi mencoba menghibur Lia.
"Tapi rasanya seperti nyata sekali!" tukas Lia. Lia menatap kedua mata dokter Adi dengan seksama.
"Semuanya memang nyata Lia, itu semua bagian dari ingatanmu." ucap dokter Adi dalam hati.
"Aku tidak sanggup untuk mengatakannya!" batinnya.
"Apa aku pernah mengalami peristiwa seperti itu di masa lalu?" tanya Lia tiba-tiba. Pertanyaan Lia itu membuat dokter Adi tersentak, ia tidak menyangka Lia akan menerka seperti itu. Jantung dokter Adi kembali berdebar kencang, ia bimbang akan menceritakan semuanya pada Lia atau tetap menyembunyikan yang sebenarnya terjadi.
"Apa yang harus kukatakan?" tanya dokter Adi pada dirinya sendiri.
"Kalau aku memberi tahu yang sebenarnya, apa dia akan baik-baik saja?" lanjutnya.
"Tapi bagaimana kalau dia terluka lagi dengan kenyataan itu? Bagaimana kalau traumanya kembali lagi? Aku tidak akan sanggup melihatnya menderita seperti dulu lagi!" Dokter Adi bergumul dalam hatinya.
"Kenapa kamu diam?" ucap Lia tiba-tiba. Suara Lia itu memecah lamunan dokter Adi. Lia menatap dokter Adi dengan curiga.
"Sebenarnya, aku hanya asal bicara tapi ekspresi wajahmu membuat jantungku berdebar-debar." aku Lia. Dokter Adi menatap Lia dengan seksama.
"Apa aku benar-benar pernah mengalami peristiwa seperti itu di masa lalu?" tanya Lia lagi.
__ADS_1
"Ee.." Dokter Adi merasa benar-benar bingung akan mengatakan yang sebenarnya pada Lia atau tidak.
"Katakan yang sebenarnya!" desak Lia.
"Kumohon! Ceritakan yang sebenarnya padaku!" bujuknya. Dokter Adi masih saja terdiam, ia masih terus bimbang akan mengatakan apa pada Lia.
Perlahan tangan Lia meraih tangan dokter Adi dan menggenggamnya erat, sikapnya itu membuat dokter Adi terkejut.
"Apa kamu tidak kasihan padaku?" tanya Lia pelan. Ia menatap dokter Adi dengan mata yang sendu.
"Aku tidak bisa mengingat siapa pun di dunia ini, aku tidak bisa mengingat apa pun ceritaku di kehidupanku, aku tidak tahu tentang semuanya!" lanjutnya.
"Seburuk dan semenyakitkan apa pun ingatanku, aku ingin semuanya kembali!" ucap Lia. Suaranya mulai terdengar bergetar.
"Terakhir kali aku menceritakan tentang masa lalumu, kamu justru marah padaku dan mengatakan banyak hal yang menyakitkan." tukas dokter Adi.
"Maafkan aku! Itu semua karena aku belum bisa mengingat semuanya!" terang Lia.
"Kalau ingatanku sudah kembali, mungkin aku akan kembali seperti dulu, seperti Lia yang kamu kenal sebelumnya!" lanjutnya.
"Mungkin selanjutnya kita bisa hidup bersama seperti dulu!" tambah Lia. Ia menggenggam tangan suami yang tidak dikenalnya itu dengan lebih erat. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.
__ADS_1
"Kamu yakin dengan keputusanmu ini?" tanya dokter Adi pelan. Lia menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.
"Kamu sudah siap kalau harus mendengar sesuatu yang menyakitkan sekalipun?" tanya dokter Adi lagi untuk memastikan keyakinan Lia itu. Lia kembali menganggukkan kepalanya.
"Aku akan berusaha untuk menerimanya dengan baik!" ucap Lia. Dokter Adi menghela nafasnya lagi.
"Kalau begitu bersiaplah!" ucap dokter Adi sambil beranjak dari tempatnya.
"Bersiap?" tanya Lia bingung.
"Ya! Mandi dan gantilah pakaianmu! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat." terang dokter Adi.
"Ke mana?" tanya Lia.
"Apa mengunjungi suster Rina lagi?" terkanya.
"Aku tidak mau ke sana! Aku tidak su..."
"Bukan!" potong dokter Adi. Lia terdiam sambil menatap dokter Adi dengan seksama, entah mengapa jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya.
"Aku akan membawamu ke tempat yang mungkin bisa mengembalikan sedikit ingatanmu!" ungkap dokter Adi.
__ADS_1
...