Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Dua Puluh Empat


__ADS_3

"Maaf, kamu siapa ya?" tanya Lia pelan. Wanita itu menatap Lia sejenak tapi kemudian ia tersenyum manis pada Lia.


"Aku Dina, tante! Aku anaknya suster Rina." ucap wanita itu memperkenalkan dirinya. Mendengar nama suster Rina disebut, membuat jantung Lia kembali berdebar dengan kencang.


"Suster Rina?" gumam Lia pelan. Perasaan dalam diri Lia mulai bercampur aduk.


"Lalu, ee.. ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Lia.


"Om dokter menyuruhku menemani tante di rumah karena dia bilang sepertinya dia akan pulang agak larut malam ini!" terang Dina. Lia tersentak, jantungnya berdebar lebih kencang lagi.


"Apa keluarga kalian begitu dekat?" gumam Lia pelan. Lia tidak bermaksud bertanya pada Dina, ia hanya mempertanyakan hal itu pada dirinya sendiri, tapi Dina mendengar gumaman Lia itu dan ia terlihat sangat terkejut.


"Mama dan dokter sudah saling mengenal sejak mereka masih SMA, tan!" terang Dina pelan. Dina tampak berhati-hati dengan ucapannya agar Lia tidak salah paham, tapi Lia sangat terkejut dengan ucapan Dina itu karena ia mendapatkan sebuah fakta baru yang belum ia ketahui. Tidak! Dia sudah mengetahui sebelumnya hanya saja ingatannya tentang semua hal itu menghilang, dan sekarang entah mengapa ia merasa sangat kesal mengetahuinya kembali.


"Apa tante kurang nyaman kalau aku menemani tante di sini?" tanya Dina pelan. Lia tersentak.


"Ti.. tidak! Bukan begitu..." tukas Lia kikuk.


"Om dokter hanya takut kalau tante memerlukan bantuan tapi tidak ada orang yang bisa tante mintai bantuannya makanya om dokter menyuruhku untuk menemani tante di sini." terang Dina. Lia terdiam sejenak sambil memandangi wajah Dina, ia merasa tidak enak karena Dina sampai harus menjelaskan hal seperti itu.

__ADS_1


"Maaf, aku bukan tidak ingin kamu berada di sini tapi aku hanya merasa sedikit terkejut karena aku belum bisa mengingat kalian semua." ucap Lia pelan.


Lia mempersilahkan Dina untuk masuk ke dalam rumahnya. Lia sebenarnya ingin memeriksa rumahnya selama dokter Adi bekerja, tapi karena ada Dina, ia takut kalau Dina akan melaporkannya pada dokter Adi.


"Boleh aku mengerjakan tugas sekolahku di sini, tan?" tanya Dina.


"Ah iya! Kerjakan saja!" seru Lia. Ia seperti mendapatkan angin segar untuk bisa melakukan rencananya.


Dina mulai mengeluarkan peralatan sekolahnya untuk mengerjakan tugas di ruang tamu.


"Eem.. sepertinya aku akan sedikit sibuk karena aku akan membereskan barang-barang. Kalaua kamu butuh camilan dan minuman, kamu bisa mengambilnya di dapur ya!" ucap Lia. Dina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis pada Lia.


Lia bergegas kembali ke kamarnya karena ia sudah tidak sabar untuk menemukan barang-barang lainnya dan mengungkap kisah yang terjadi sebenarnya. Kali ini Lia mulai memeriksa lemari besar tempat pakaiannya dan dokter Adi berada.


Ia memulai inspeksinya dari pintu lemari yang berada di sisi paling kiri, lalu Lia berpindah ke pintu selanjutnya setelah ia tidak menemukan barang-barang yang berarti, dan akhirnya ia tiba pada pintu lemari terakhir dan yang paling besar. Di balik pintu itu terdapat banyak sekali barang-barang serta kotak-kotak yang tersusun dengan rapi.


Lia mulai memeriksa setiap barang dan kotak yang ada di sana satu-persatu dengan sangat teliti, ia benar-benar tidak ingin melewatkan petunjuk sedikitpun. Lia mengeluarkan sebuah kotak yang cukup besar dari dalam lemari, perlahan ia membuka penutup kotak itu.


"Wah! Apa ini?" gumamnya pelan. Ia mengeluarkan satu-persatu barang yang ada di dalam kotak tersebut dan pandangan matanya terpaku pada sebuah kotak cincin kecil berwarna merah. Tangannya meraih kotak cincin itu dan memeriksa apa yang ada di dalamnya. Sepasang cincin emas polos tersusun rapi di dalam kotak cincin itu.

__ADS_1


"Cincin siapa ini?" tanya Lia dalam hatinya. Jantungnya mulai berdebar tak karuan, di dalam pikirannya mulai muncul berbagai macam dugaan negatif.


Lia melanjutkan aktifitasnya membongkar barang-barang yang ada di dalam kotak besar itu dan tiba-tiba saja jantungnya seperti berhenti berdetak sejenak.


"Apa ini?" gumamnya lagi. Perlahan tangannya mengeluarkan selembar foto kecil yang tergeletak begitu saja di dalam kotak. Pada foto menampilkan dirinya bersama seorang pria, tapi pria itu bukanlah dokter Adi, suaminya. Lia tampak tersenyum bahagia pada foto itu, hal itu membuat jantungnya berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sesak.


"Si.. siapa dia?" tanya Lia dalam hati.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" lanjutnya. Tanpa disadarinya, perlahan air matanya menetes ke pipinya. Lia mengusap pipinya yang basah dan ia sangat terkejut begitu menyadari kalau dirinya menangis setelah melihat foto itu.


"Aku menangis?" ucapnya tak percaya.


"Kenapa aku menangis?" tanyanya lagi.


"Apa karena foto ini?" lanjutnya. Perasaannya menjadi semakin tak karuan.


"Apa pria ini sangat berharga untukku sampai melihat foto ini bisa membuatku menangis seperti ini?" batin Lia.


...

__ADS_1


__ADS_2