
Lia membuka matanya perlahan, ia mengedipkan matanya beberapa kali. Entah mengapa pandanganya terlihat buram dan cahaya di ruangan itu pun terasa sangat minim sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas. Lia mencoba menggerakkan tangannya untuk mengusap matanya agar pandangan matanya bisa lebih jelas dari sebelumnya, tapi...
"Kenapa tanganku sulit sekali digerakkan?" gumam Lia pelan. Perlahan Lia menoleh ke arah tangan kanannya.
Lia mencoba memperhatikan sekelilingnya dan ia sangat terkejut ketika ia menyadari ada 4 orang pria yang memegangi kedua tangan dan kakinya, tapi sayang pandangan mata Lia masih buram sehingga ia tidak bisa melihat wajah keempat pria itu dengan baik.
"Apa-apaan ini?" seru Lia. Ia berusaha untuk melepaskan kedua tangan dan kakinya dari cengkraman keempat pria tersebut.
"Si.. siapa kalian?" sentak Lia sambil terus meronta agar kaki dan tangannya terlepas dari cengkraman pria-pria itu. Keempat pria itu tidak menggubris pertanyaan Lia sama sekali.
"Siapa kalian?" Lia mengulangi pertanyaannya. Jantungnya mulai berdebar dengan kencang dan perasaannya pun menjadi tak karuan.
"LEPASKAN!" Lia menjerit dengan sekuat tenaga karena ia merasa tidak nyaman dengan perlakuan keempat pria itu, tapi aneh, keempat pria itu seperti tidak mendengar jeritan Lia, mereka terus saja mencengkram kedua tangan dan kaki Lia tanpa terpengaruh jeritan Lia sedikitpun.
"Kak Lia!" Tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang memanggil nama Lia, suara itu terdengar berat dan kasar. Lia menoleh ke setiap sudut ruangan gelap itu untuk menemukan orang yang memanggilnya, tapi tidak ada orang lain selain keempat pria itu.
Lia kembali meluruskan pandangannya, dan ia tersentak. Sebuah wajah seorang pria yang sangat menyeramkan baginya sudah berada sangat dekat dengan wajahnya. Wajah itu semakit dekat hingga akhirnya menyentuh permukaan kulit wajah Lia. Lia mulai merasa ketakutan karena perlakuan pria memyeramkan itu.
"LEPASKAN!! APA-APAAN KALIAN!!!" Berkali-kali Lia berteriak namun teriakkannya itu seperti tidak berpengaruh sama sekali pada kelima pria yang berlaku kasar padanya itu.
Air mata Lia mulai mengalir dan semakin lama semakin bertambah deras. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sesak, tubuhnya pun terasa kaku. Ketakutan Lia bertambah besar ketika ia merasakan sentuhan kasar tangan pria itu di tubuhnya yang akhirnya membuat pakaiannya robek dan berantakan.
"HENTIKAAAANNN!!!" Lia berteriak sekuat tenaganya.
...
Lia membuka matanya dengan cepat, jantungnya berdebar dengan sangat kencang dan nafasnya pun menderu. Tubuh Lia dibasahi oleh keringat meskipun di kamarnya itu menggunakan pendingin ruangan. Ia bangkit dari ranjangnya dan memperhatikan sekelilingnya, tapi ia tidak bisa melihat apa-apa karena pandangannya terasa sangat gelap. Lia mengusap matanya dengan kedua tangannya, ia berharap penglihatannya bisa menjadi lebih baik. Ketakutan masih terus menyelimutinya karena ia hanya bisa melihat dengan pandangan yang samar-samar.
__ADS_1
Lia tidak sengaja menjatuhkan tubuhnya dari ranjang karena ia terlalu ketakutan. Dengan merangkak, Lia mencoba meraih pintu kamarnya untuk keluar dari kamarnya. Air matanya mulai bercucuran membanjiri pipinya.
"To.. tolong!" ucapnya pelan. Suaranya terdengar seperti seorang yang sedang tercekik.
Dengan susah payah akhirnya Lia bisa meraih pintu kamarnya, membukanya dan keluar dari kamarnya itu. Lia meraih meja yang ada di dekatnya dan berusaha untuk bisa berdiri. Lia segera berlari menuju kamar dokter Adi begitu ia bisa berdiri dengan tegak. Dengan air mata yang semakin deras mengalir, Lia mengetuk pintu kamar dokter Adi dengan tenaganya yang tersisa.
...
"Tok.. tok.. tok.. toktoktok!"
Dokter Adi tersentak, ia terbangun dari tidur nyenyaknya karena mendengar suara pintu kamarnya diketuk seseorang dengan cukup kuat. Sejenak ia hanya terdiam sambil memperhatikan pintu kamarnya itu, tapi begitu terdengar kembali ketukan pintu itu, dokter Adi segera beranjak dari ranjangnya.
Dokter Adi sangat terkejut begitu membuka pintu kamarnya, ia mendapati Lia, istrinya berdiri di balik pintu itu dalam keadaan yang cukup kacau.
"Ada apa denganmu?" tanya dokter Adi cemas. Lia mencoba mengatur nafasnya sejenak.
"Ada orang di kamarku!" jawab Lia akhirnya. Suaranya terdengar berat dan bergetar.
"Tidak mungkin!" ucapnya tidak percaya.
"Cepat periksa kamarku!" seru Lia. Dokter Adi terdiam sambil memperhatikan Lia dengan seksama.
"Cepat!" desak Lia. Dokter Adi masih saja terdiam, ia hanya menatap kedua mata Lia.
"Kumohon, periksalah kamarku!" pinta Lia, ia meraih tangan suaminya itu dan mengguncang-guncangkannya agar dokter Adi mau memeriksa kamarnya.
Akhirnya dokter Adi melangkah perlahan menuju kamar tempat Lia beristirahat tadi, sementara itu Lia mengikutinya dari belakang sambil mencengkram ujung kaus yang dikenakan dokter Adi. Dokter Adi menekan saklar lampu yang ada di salah satu sisi dinding kamar Lia dan seketika ruangan kamar Lia menjadi terang benderang.
__ADS_1
Dokter Adi mulai memeriksa seisi kamar Lia dengan seksama, sementara itu Lia berdiri di dekat pintu kamarnya. Dokter Adi berjongkok untuk memeriksa ruang di bawah ranjang Lia.
"Kosong!" ucapnya sambil menunjukkan pada Lia kalau di bawah ranjangnya tidak ada orang yang bersembunyi.
Dokter Adi melanjutkan pemeriksaannya di setiap sisi ruang kamar itu, bahkan ke dalam kamar mandi yang ada di kamar itu, dan hasilnya nihil!
"Tidak ada orang sama sekali di tempat ini!" ucapnya.
"Sungguh?" tanya Lia tak percaya. Dokter Adi menganggukkan kepalanya.
"Mungkin tadi kamu hanya sedang bermimpi." terka dokter Adi.
"Tapi seperti nyata sekali, bahkan tangan dan kakiku benar-benar tidak bisa bergerak!" gumam Lia pelan.
"Hah? Apa?" tanya dokter Adi yang tidak begitu mendengar ucapan Lia tersebut.
"Ti.. tidak! Tidak apa-apa!" ucap Lia.
"Mungkin kamu benar, aku hanya sedang bermimpi!" tambahnya.
"Kalau begitu, kembalilah tidur!" ucap dokter Adi lembut. Sambil berlalu dari hadapan Lia, ia membelai lembut kepala Lia.
"Tunggu!" ucap Lia tiba-tiba sambil meraih tangan dokter Adi itu. Dokter Adi tersentak, ia menduga kalau Lia tidak menyukai sikapnya itu.
Lia membalikan tubuhnya menghadap dokter Adi, ia menatap kedua mata dokter Adi dengan seksama.
"A.. ada apa?" tanya dokter Adi kikuk, ia takut Lia akan bicara kalau ia tidak nyaman kalau kepalanya disentuh seperti itu. Dokter Adi mulai merasa trauma dengan kata-kata 'tidak nyaman' yang belakangan ini sering diucapkan wanita cantik pujaan hatinya itu.
__ADS_1
"Bisakah kamu menemaniku di sini?" ucap Lia akhirnya. Permintaan Lia yang sangat mendadak itu membuat jantung dokter Adi berdebar dengan sangat kencang. Dadanya terasa sangat sesak karena debaran jantungnya itu tapi ia juga merasa sangat bahagia mendengar permintaan istrinya itu.
...