Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Tujuh Puluh Dua


__ADS_3

"Lia kenapa?" tanya suster Rina dengan suara berbisik. Dokter Adi menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa dia merajuk karena ada aku di sini?" terka suster Rina. Dokter Adi hanya menghela nafasnya perlahan.


"Awal yang bagus!" ucap suster Rina.


"Hah?!" Dokter Adi tampak terkejut mendengar ucapan mantan kekasihnya itu.


"Kalau dia mulai cemburu karena kehadiran wanita lain di sampingmu, berarti di hatinya mulai ada perasaan untukmu!" terang suster Rina.


"Tapi pernikahanku nyaris berantakan!" tukas dokter Adi.


"Tenang saja, pernikahan kalian tidak akan berakhir!" ucap suster Rina, ia tertawa kecil melihat raut wajah dokter Adi yang terlihat galau.


"Kalian dari tadi mengobrol saja!" tegur bu Elisa.


"Ini, lebih baik kalian membantu membersihkan daging ini dan memotong-motongnya!" perintahnya.


"Oke ma!" jawab dokter Adi pelan.


"Siap, tante!" sahut suster Rina.


"Lia di mana?" tanya bu Elisa.


"Di kamar, ma! Dia sedang beristirahat sebentar." jawab dokter Adi, ia membohongi ibu kandungnya itu agar ibunya tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka.


"Oh ya sudah, biarkan dia beristirahat!" ucap bu Elisa.


...

__ADS_1


Lia beranjak dari tempatnya setelah emosinya mereda, ia mencuci wajahnya untuk menghilangkan sisa-sisa air matanya dan kemudian ia keluar dari kamarnya. Sebenarnya ia enggan untuk keluar kamar tapi ia merasa tidak enak dengan ibu mertuanya itu.


"Ma." sapa Lia sembari mendekati bu Elisa yang terlihat sedang sibuk dengan peralatan masaknya.


"Eh Lia!" sahut bu Elisa yang terkejut dengan kehadiran menantu cantiknya itu.


"Ada yang bisa kubantu, ma?" tanya Lia.


"Sini, bantu mama memasak! Masakanmu kan jauh lebih baik dari mama!" seru bu Elisa.


"Eee.." Lia terlihat ragu.


"Bolehkah aku membantu yang lain, ma? Memotong atau mencuci sayur begitu..." tawar Lia. Bu Elisa mengerutkan keningnya.


"Memangnya kenapa, nak?" tanya bu Elisa bingung.


"Aku sudah berusaha untuk belajar memasak lagi tapi sampai saat ini aku belum bisa." terangnya.


"Oh begitu!" sahut bu Elisa. Lia menganggukkan kepalanya.


"Maafkan aku, ma!" ucap Lia pelan.


"Tidak apa-apa, nak! Perlahan-lahan saja, nanti semuanya akan kembali seperti semula." hibur bu Elisa.


"Kalau begitu kamu cuci dan potong sayur ini saja ya!" ucap bu Elisa.


"Baik, ma!" sahut Lia, ia terlihat bersemangat kembali. Lia melangkah menuju dapur dengan membawa baskom berisi sayuran yang akan dicucinya, tapi langkahnya seketika terhenti tepat di depan pintu dapur. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya, nafasnya menderu, dan emosinya kembali meningkat secara drastis.


...

__ADS_1


"Bagaimana kabar di rumah sakit?" tanya suster Rina.


"Baik! Semuanya berjalan seperti biasa!" jawab dokter Adi.


"Kamu masih menangani pasien-pasien berat?" tanya suster Rina lagi. Dokter Adi menganggukkan kepalanya.


"Dan masih di kamar yang sama!" terangnya.


"208?" tanya suster Rina.


"Yap!" sahut dokter Adi.


"Setelah keluar, sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya dokter Adi.


"Apa kamu akan kembali menjadi perawat di rumah sakit itu?" tambahnya.


"Entahlah! Kalau masih ada kesempatan untukku, aku sangat ingin kembali ke..."


"BRAAK!" Dokter Adi dan suster Rina tersentak, tiba-tiba saja Lia menaruh baskom besar berisi sayur-sayuran dengan kasar tepat di samping dokter Adi.


"Li.. Lia!" ucap dokter Adi kikuk. Lia tidak merespon suaminya itu, ia menarik kran wastafel yang sedang di gunakan dokter Adi dan suster Rina itu ke arahnya dan menggunakannya tanpa permisi terlebih dahulu pada dokter Adi dan suster Rina yang lebih dulu menggunakannya.


"Hai Lia!" sapa suster Rina.


"Sudah lama kita tidak bertemu!" lanjutnya. Lia menatap suster Rina dengan tatapan dingin.


"Sepertinya kamu berharap sekali bisa bertemu denganku!" tukasnya.


...

__ADS_1


__ADS_2