Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Lima Belas


__ADS_3

Lia memperhatikan ruangan putih tempatnya berada saat ini. Ruangan itu terlihat seperti kantor seorang dokter, matanya terpaku begitu melihat sesosok pria yang berdiri di salah satu sudut ruangan itu sambil memandangi pemandangan yang ada di balik jendela. Sesaat kemudian pria itu membalikan tubuhnya tapi Lia tidak bisa melihat wajah pria itu karena pandangannya seketika menjadi kabur.


"Di luar sana banyak yang menyayangimu dan akan menjagamu." Pria itu mulai mengucapkan kata-kata sambil berjalan mendekati dirinya.


"Hidupmu tidak akan berakhir meskipun kamu tidak bersamaku, suatu saat akan ada pria yang pantas berada di sampingmu." lanjutnya. Lia merasa bingung, entah mengapa jantungnya berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sangat sesak mendengar ucapan pria itu.


"Si.. siapa dia sebenarnya?" tanya Lia dalam hatinya. Ia mengusap kedua matanya untuk menjernihkan pandangannya tapi sia-sia! Pandangannya tetap saja kabur.


"Percayalah, aku bukan pria yang baik, aku tidak pantas berada di sisimu. Aku sudah banyak melakukan dosa dan aku akan menjalani hukumanku." aku pria itu. Seketika Lia merasa pipinya terkena sebuah tetesan air, ia mengusap pipinya yang basah itu.


"Aku menangis?" tanyanya lagi di dalam hati.


"Siapa pria itu sampai bisa membuatku menangis hanya dengan kata-katanya?" lanjutnya. Lia merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri yang begitu mudah menangis hanya karena perasaannya.


"Tunggu dulu! Suaranya itu terasa sangat familiar di telingaku!" batin Lia.


"Kamu, wanita yang sangat baik, kamu pantas didampingi oleh pria yang sangat baik juga!" ucap pria itu lagi.


"Siapa pria ini sebenarnya? Apa dia mantan kekasihku?" tanya Lia dalam hatinya. Perlahan Lia menghela nafasnya dan menatap wajah pria itu yang masih tidak bisa terlihat jelas oleh matanya.


"Baiklah!" ucap Lia pelan.


"Aku akan mengabulkan keinginanmu itu!" lanjutnya.

__ADS_1


"Aku akan melupakan perasaan ini dan menyerahkan semua perasaanku pada pria yang pantas untuk menerimanya!" tegas Lia.


"Eh!" Lia merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh mulutnya itu. Ia merasa kalau mulutnya bergerak sendiri tanpa bisa diatur olehnya.


Lia membuka matanya dengan cepat, tampak di kejauhan sinar matahari mulai menerobos masuk ke dalam kamar melalui celah-celah tirai yang menutupi jendela dan akhirnya ia menyadari kalau ternyata semuanya itu hanya sebuah mimpi.


"Mimpinya terasa nyata sekali!" gumam Lia pelan. Lia mengusap keningnya yang penuh dengan keringat, padahal pendingin ruangan kamar itu menyala tapi kening Lia tetap basah dengan keringat.


"Mimpi yang aneh!" ucap Lia sambil membangkitkan tubuhnya dan duduk di ranjangnya. Sejenak Lia hanya terdiam sambil memperhatikan setiap sisi ruang kamarnya.


"Sepertinya pria itu benar-benar mencintai istrinya!" gumam Lia. Lia menilai seperti itu karena banyak sekali foto-foto dirinya yang ada di kamar itu.


"Atau istrinya yang mendekor ruangan ini sendiri sehingga menaruh begitu banyak fotonya di kamar ini?" terka Lia. Sejenak ia hanyut dalam pemikirannya itu.


Lia berjalan mengendap-endap mencari keberadaan dapur di rumah itu tapi ia tidak ingin dokter Adi mengetahuinya, tak perlu waktu lama ia sudah bisa menemukan di mana dapurnya, tapi langkahnya berhenti tepat setelah ia melongok ke dalam dapur, ternyata ada dokter Adi yang sedang memasak makanan di ruangan itu. Lia menghela nafasnya perlahan.


"Kamu sedang apa?" tanya Lia basa-basi. Dokter Adi yang mendengar suara Lia secara tiba-tiba itu tersentak dan langsung membalikkan tubuhnya.


"Kamu sudah bangun!" ucap dokter Adi. Lia menganggukkan kepalanya sambil melangkah perlahan mendekati meja makan lalu kemudian duduk di salah satu kursinya.


"Kamu sudah sibuk sekali pagi-pagi begini." ucap Lia.


"Ya! Kita harus segera sarapan dan berangkat!" terang dokter Adi.

__ADS_1


"Berangkat? Berangkat ke mana?" tanya Lia bingung. Dokter Adi membalikkan tubuhnya kembali menghadap istrinya.


"Kamu bilang ingin mengunjungi Rina, jam berkunjungnya dari jam 10.00 - 12.00." jawab dokter Adi. Lia terlihat bertambah bingung.


"Kenapa ada jam berkunjungnya? Apa suster Rina berada di rumah sakit atau..." terka Lia.


"Nanti juga kamu akan mengetahuinya sendiri!" potong dokter Adi sambil membalikkan tubuhnya dan kembali sibuk dengan makanan-makanannya.


Sejenak Lia terdiam dan hanya memandangi punggung dokter Adi, ia masih bingung dengan keberadaan perawat kesayangannya itu, suster Rina. Lia merebahkan kepalanya pada meja makan dan tiba-tiba saja matanya tertuju pada sebuah pintu yang ada di sudut ruangan. Entah mengapa mata Lia sangat tertarik memandangi pintu itu dan akhirnya timbul rasa penasarannya dengan apa yang ada di balik pintu itu.


Akhirnya Lia bangkit dari tempat duduknya dan melangkah perlahan mendekati pintu itu, ia sudah tidak sabar untuk mengetahui apa yang ada di balik pintu itu.


"Kamu mau ke mana?" tanya dokter Adi tepat sebelum tangan Lia menyentuh handle pintu itu. Lia membalikkan badannya menghadap dokter Adi.


"Aku mau melihat ke balik pintu ini." jawab Lia polos. Dokter Adi tersentak, ia menatap kedua mata Lia dengan seksama hingga membuat Lia bingung.


"Ada apa?" tanya Lia penasaran.


"Apa kamu mengingat sesuatu?" tanya dokter Adi, ia terlihat seperti mengharapkan sesuatu.


"Mengingat apa?" ucap Lia balik bertanya. Sejenak mereka hanya saling menatap tanpa berkata apa-apa.


"Kamu membuatku penasaran!" seru Lia sambil membalikkan tubuhnya kembali dan membuka pintu itu dengan cepat. Seketika jantung Lia berdebar kencang, matanya terbuka lebar.

__ADS_1


...


__ADS_2