
Dokter Adi merebahkan tubuhnya perlahan di ranjang. Ini bukan pertama kalinya ia tidur bersama istrinya tapi ia merasa sangat berdebar-debar malam itu. Sejenak ia memandangi punggung istrinya yang berada di sampingnya itu, meskipun Lia yang meminta untuk ditemani tapi tetap saja Lia menjaga jarak darinya.
"Kamu mau kumatikan lampunya atau tidak?" tanya dokter Adi.
"Biarkan saja lampunya menyala!" jawab Lia pelan tanpa membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah suaminya itu. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan dan mulai memejamkan matanya untuk melanjutkan tidurnya.
...
"Aku bilangkan, jangan matikan lampunya!" gerutu Lia sambil membalikkan tubuhnya, tapi jantungnya terasa seperti berhenti berdetak seketika begitu ia melihat kalau yang berada di sampingnya bukanlah suaminya melainkan 2 orang pria yang sebelumnya. Mereka kembali memegangi tangan dan kakinya. Lia menoleh ke arah lainnya dan ada 2 orang pria lainnya yang juga memegangi tangan dan kakinya tapi kembali wajah mereka tidak begitu terlihat karena cahaya di dalam ruangan terlalu minim.
"Siapa kalian sebenarnya?" tanya Lia.
"Kenapa kalian kembali lagi?" tambahnya. Rasa takut mulai menyelimutinya lagi. Lia mencoba berontak untuk melepaskan cengkraman keempat pria itu.
"Kak Lia!" Terdengar kembali suara pria menyeramkan yang sebelumnya itu. Suara beratnya itu membuat jantung Lia berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sesak.
"A.. Adi!" Lia berusaha memanggil dokter Adi yang saat ini keberadaannya tidak diketahui.
__ADS_1
Lia memejamkan matanya dalam-dalam begitu sosok pria menyeramkan yang sebelumnya itu hadir kembali di hadapannya dan mulai mendekatinya. Kali ini Lia merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam pakaiannya dan itu membuat rasa takutnya bertambah kuat.
"To.. tolong!" lirih Lia. Air matanya mulai mengalir dari kedua sudut matanya.
"Tolong aku, Adi!!" serunya sekuat tenaga.
Lia kembali membuka matanya dengan cepat, tapi kali ini pandangan yang dilihatnya sangat berbeda. Bukan lagi ruangan gelap yang ada di hadapannya tapi ruang kamarnya yang terang, meskipun begitu, jantungnya masih saja berdebar kencang dan dadanya pun terasa sangat sesak.
Lia mengalihkan pandangannya ke arah dokter Adi yang kali ini ada di sampingnya. Air matanya mengalir deras begitu ia menemukan kembali sosok suaminya itu masih tertidur tepat di sampingnya. Perlahan Lia mendekatkan tubuhnya ke arah dokter Adi, ia menyusup di antara kedua tangan suaminya itu seakan ia mencari perlindungan dari dokter Adi.
"Kamu kenapa?" tanya dokter Adi cemas karena melihat air mata Lia yang mengalir deras dari kedua mata indahnya.
"Kamu bermimpi buruk lagi?" tanya dokter Adi lagi. Lia tidak menjawab pertanyaan dokter Adi itu, ia malah menarik bagian dada dari kaus yang dikenakan dokter Adi dan membenamkan wajahnya di dada suaminya itu. Dokter Adi yang menyadari ada sesuatu yang buruk yang dirasakan pujaan hatinya itu, segera mendekap tubuh mungil Lia dan mengusap punggung Lia dengan lembut agar bisa sedikit menenangkan istrinya itu.
...
Dokter Adi merasa sedikit tenang begitu ia menyadari kalau Lia sudah bisa kembali tertidur meskipun kedua tangannya masih mencengkram kaus yang dikenakannya.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" tanya dokter Adi dalam hatinya.
"Mimpi buruk apa yang dialaminya?" lanjutnya. Dokter Adi memikirkan mimpi apa yang membuat istrinya menangis seperti itu.
"Apa Lia bermimpi tentang perbuatanku dulu yang meninggalkannya?" terka dokter Adi.
"Tapi tidak mungkin! Kalau dia bermimpi tentang itu, dia pasti akan membenciku bukan malah memelukku seperti ini!" tukasnya dalam hati.
"Tunggu dulu! Dia tadi bilang kalau ada orang di kamarnya..." lanjut dokter Adi.
"... dan dia terlihat sangat ketakutan!" tambahnya.
"Apa dia bermimpi tentang peristiwa itu?" terkanya dalam hati. Dokter Adi mempererat dekapannya pada tubuh Lia yang kini sedang terlelap. Jantungnya mulai berdebar lebih cepat dari sebelumnya.
"Kalau benar, apa hal itu akan kembali mempengaruhi psikisnya?" batin dokter Adi.
...
__ADS_1