Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Empat Belas


__ADS_3

Dokter Adi mengantarkan Bima kembali ke tempat kostnya baru kemudian ia pulang ke rumahnya bersama Lia.


"Tidak bisakah aku tinggal bersamamu di sini, Bim?" tanya Lia. Pertanyaan Lia itu kontan membuat dokter Adi dan Bima sangat terkejut.


"Ini kostan pria, kak!" ucap Bima.


"Memangnya ada apa?" tanya Bima.


"Aku takut dengan 'pria mesum' ini!" jawab Lia dengan suara berbisik. Dokter Adi tersentak mendengar ucapan Lia itu, tapi Bima malah terbahak-bahak mendengarnya.


"Sudahlah, aku harus cepat kembali karena harus bersiap-siap berangkat kerja lagi!" tukas Bima sambil membuka pintu mobil milik kakak iparnya itu.


"Kamu tidak boleh tinggal dengan orang lain, kak! Kamu harus tinggal bersama suamimu, tidur di kamar dan tempat tidur yang sama, dengan begitu kemesraan kalian akan kembali!" pesan Bima pada kakak perempuannya yang sangat cantik itu. Lia mengerutkan bibirnya, ia sepertinya tidak setuju dengan ucapan Bima itu. Sementara itu, dokter Adi hanya bisa menghela nafasnya karena istrinya terus-terusan menolak untuk bersamanya.


Dokter Adi menghentikan laju mobilnya tepat di depan gerbang rumahnya. Lia memperhatikan rumahnya bersama dokter Adi itu.


"Ini rumahmu?" tanyanya.


"Rumah kita!" tukas dokter Adi.


"Ada apa?" ucap dokter Adi balik bertanya. Lia terdiam sejenak sambil terus memperhatikan rumah itu.


"Aku tidak menyangka kalau kita memiliki rumah seperti ini!" ungkap Lia.


"Memangnya apa pekerjaanmu sampai bisa menghasilkan rumah seperti ini? Apa aku juga memiliki pekerjaan sehingga kita bisa membeli rumah seperti ini?" tanya Lia.

__ADS_1


"Mana yang harus kujawab terlebih dahulu?" tanya dokter Adi sambil melepas seat belt-nya.


"Jawab saja yang mana yang mau kamu jawab lebih dahulu!" ucap Lia kesal. Dokter Adi menatap kedua mata Lia dengan seksama.


"Lebih baik kita masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, aku akan menceritakannya semua!" ajak dokter Adi.


Dokter Adi dan Lia turun dari mobil dan melangkah memasuki pekarangan rumah mereka. Lia memperhatikan setiap sisi pekarangan itu, ia terlihat seperti orang yang benar-benar baru pertama kalinya ke tempat itu, tapi seketika langkahnya terhenti begitu akan masuk ke dalam rumahnya melalui pintu utama. Dokter Adi yang sudah masuk lebih dulu dibanding Lia dan menaruh barang-barang bawaannya itu di ruang tamu terkejut melihat istrinya masih terdiam mematung di depan pintu utama rumah mereka.


"Ada apa?" tanya dokter Adi pelan. Lia tidak menjawab pertanyaannya bahkan Lia tidak merespon ucapannya sama sekali. Dokter Adi melangkah cepat mendekati istrinya yang terlihat aneh itu.


"Hei! Kamu kenapa?" tanya dokter sambil menepuk pundak Lia hingga membuat Lia akhirnya tersadar.


"Ha ah?!" Lia tersentak, sejenak ia menatap kedua mata dokter Adi dan dokter Adi pun menatap kedua mata Lia. Jantung dokter Adi mulai berdebar lebih kencang dari sebelumnya, untuk sesaat tatapan Lia padanya itu terasa seperti tatapan Lia di masa lalu, di saat ia masih mengenal dan mencintai dokter Adi.


"Kepalaku sakit!" ucap Lia pelan.


"Bisakah kamu mengantarku ke kamarku? Aku ingin beristirahat sejenak!" pinta Lia.


"Kamarmu?" gumam dokter Adi bingung.


"Bukankah kita sudah membicarakan tentang tidur secara terpisah? Apa rumah sebesar ini hanya memiliki 1 kamar?" tanya Lia. Raut wajahnya kembali berubah menjadi Lia yang saat ini. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.


"Baiklah!" ucap dokter Adi pelan dan perlahan ia mengantarkan Lia ke kamar mereka.


"Ini kamar kita eh.. eem.. ini kamarmu!" ucap dokter Adi. Lagi-lagi Lia terlihat takjub dengan kondisi kamar mereka. Kamar itu terlihat sangat rapi dan sebuah foto pernikahan mereka yang berukuran besar tergantung di dinding yang ada di atas ranjang.

__ADS_1


"Masuklah!" ucap dokter Adi yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar itu dan mempersiapkan ranjangnya untuk tempat Lia beristirahat.


Lia melangkah perlahan memasuki kamar itu dan entah mengapa jantungnya berdebar sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sesak. Beberapa bayangan melintas di benaknya tapi hanya sekilas-sekilas sehingga membuatnya bingung dan malah menambah rasa sakit di kepalanya itu.


"Kamu baik-baik saja?" tanya dokter Adi yang mulai cemas karena melihat istrinya memegangi kepalanya.


"Aku benar-benar butuh istirahat!" ucap Lia.


"Baiklah! Ayo, baringkan tubuhmu di ranjang!" ajak dokter Adi. Dokter Adi membantu Lia membaringkan tubuhnya di ranjang lalu kemudian menyelimuti tubuh Lia.


"Kalau ada apa-apa, panggil saja aku ya!" pesan dokter Adi. Lia menganggukkan kepalanya pelan.


Ketika hendak meninggalkan Lia, tiba-tiba saja Lia menarik lengan kaus yang dikenakan dokter Adi sehingga membuat langkahnya terhenti dan ia kembali menoleh ke arah Lia.


"Maaf, aku belum bisa mengenalimu." ucap Lia pelan.


"Aku akan berusaha untuk mengembalikan semua ingatanku secepatnya!" lanjutnya dengan suara berbisik. Dokter Adi tersentak mendengar ucapan Lia itu tapi sesaat kemudian ia mulai tersenyum lembut pada istrinya itu.


"Tidak usah berusaha sangat keras untuk mengembalikan ingatan itu, perlahan saja!" ucap dokter Adi pelan.


"Kita nikmati saja setiap prosesnya bersama!" lanjutnya.


"Kalau cinta kita memang cinta sejati, kamu akan kembali mencintaiku dan aku akan bertahan di sisimu meskipun proses ini terasa sangat berat!" tambahnya. Mendengar ucapan bijak dokter Adi seketika wajah Lia memerah dan ia merasa sangat gugup berhadapan dengan suaminya itu.


..

__ADS_1


__ADS_2