
"Apa ada sesuatu yang terlintas di ingatanmu melihat tempat ini?" tanya dokter Adi yang sedari tadi memperhatikan sikap istrinya itu. Lia menggelengkan kepalanya pelan. Ia terdiam sejenak, lalu tiba-tiba ia tersentak karena menyadari suatu hal.
"Mengapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Lia.
"Apa aku pernah berada di sini?" tambahnya. Dokter Adi terdiam, ia hanya memperhatikan sikap Lia itu.
"Apa aku pernah menjadi pasien di sini?" Lia memperjelas pertanyaannya. Dokter Adi hanya menghela nafasnya.
"Kenapa kamu tidak menjawab?" desak Lia.
"Lebih baik ingatanmu sendiri yang memberi tahu!" sahut dokter Adi sambil melepaskan seat belt dari tubuh Lia.
"Bagaimana kalau aku tidak berhasil mengingat apa pun juga di sini?" tanya Lia.
"Kita coba saja dulu!" ucap dokter Adi lembut sambil menepuk kepala Lia beberapa kali.
"Ayo turun!" ajak dokter Adi.
Lia membuka pintu mobil dokter Adi dan perlahan hembusan angin menerpa tubuhnya, serta meniup beberapa helai rambut lurusnya. Entah mengapa, jantung Lia berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Lia menurunkan kakinya satu-persatu dan begitu kakinya berhasil menapak di pelataran parkir Rumah Sakit Jiwa itu, debaran jantung Lia bertambah kencang, sebuah perasaan muncul di dalam hatinya, sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskan olehnya.
"A.. ada apa ini?" tanya Lia dalam hatinya. Tanpa disadarinya, tangannya mencengkram salah satu sisi pintu mobil itu.
"Ayo!" ajak dokter Adi. Suara lembut dokter Adi itu membuat Lia tersadar. Lia segera menutup pintu mobilnya dan melangkah beriringan bersama suaminya.
Dokter Adi mengajak Lia berjalan melalui lorong kamar pasien. Ketika kakinya melangkah memasuki lorong itu sebuah bayangan terlintas sekejap di dalam benak Lia. Lia tersentak, di benaknya ia melihat dirinya berlari di lorong itu bersama seorang pria yang tidak begitu jelas. Ia dan pria itu bersembunyi di balik pilar, mereka terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
Jantung Lia berdebar kencang begitu melihat senyuman manis dari bibir tipis pria itu, meskipun wajah pria itu tidak terlihat begitu jelas dalam bayangannya tapi Lia bisa melihat senyuman yang begitu manis untuknya.
"Apa aku benar-benar pernah berada di sini?" tanya Lia dalam hatinya.
"Tapi untuk apa? Apa aku pernah bekerja di tempat ini?" lanjutnya.
"Atau.... aku pernah menjadi penghuni di sini?" tambah Lia.
"Tidak! Tidak mungkin aku pernah menjadi pasien di tempat ini!" tolak Lia dalam hatinya.
"Ta.. tapi aku pernah di rawat oleh suster Rina, apakah di rumah sakit ini?" Lia tidak hanya terlihat sangat bingung tapi ia juga tampak sangat ketakutan.
"Tidak mungkin! Pasti bukan di tempat ini aku dirawat oleh suster Rina!" Sekali lagi Lia mencoba membantah kalau ia pernah dirawat di tempat ini.
"Aku tidak mengenal tempat ini!" tegas Lia dalam hatinya.
"Ah itu mereka!" Tiba-tiba terdengar suara dokter Adi. Suaranya itu memecahkan semua lamunan Lia, spontan Lia tersadar dan menoleh ke arah suami yang tidak dikenalnya itu.
"Mereka pasti sedang menggosipkanku!" terka dokter Adi. Di kejauhan tampak Dimas, Rio serta suster Indah sedang berbincang-bicang bersama.
"Ayo kita temui mereka!" ajak dokter Adi, ia meraih tangan Lia dan menggandengnya lembut. Mereka berjalan perlahan mendekati ketiga perawat yang terlihat sangat serius itu.
"Loh?! Dokter Adi belum datang?" Terdengar suara Dimas yang terlihat terkejut. Suster Indah tampak menggelengkan kepalanya.
"Tidak seperti biasanya! Apa dokter Adi sedang ada masalah?" sambung Rio.
__ADS_1
"Entahlah!" jawab suster Indah.
"Tidak! Aku tidak sedang ada masalah!" ucap dokter Adi menyambung pembicaraan ketiga rekan kerjanya itu.
"Dokter!" seru Dimas dan Rio bersamaan. Mereka tampak sangat terkejut karena dokter Adi sudah berada di balik tubuh mereka tanpa sepengetahuan mereka.
"LIA!" Mereka kembali berseru keras karena melihat Lia yang juga berada di samping dokter Adi, suster Indah pun ikut terkejut karenanya.
"Ha.. hai!" sapa Lia kikuk sambil melambaikan tangannya pelan.
"Bukannya bekerja yang benar, kalian malah asyik-asyikkan bergosip di sini!" ucap dokter Adi.
"Saya tadi sedang menunggu dokter di sini tapi mereka malah datang dan mengajak saya bergosip, dok!" tukas suster Indah.
"HEI!!" protes Dimas dan Rio.
"Bagaimana kabarmu Lia?" tanya suster Indah pada Lia.
"Ah.. ee.. aku baik!" jawab Lia kikuk.
"Tidak biasanya dokter mengajak Lia ke sini!" ucap Dimas. Dokter Adi tersenyum lembut sambil mempererat genggaman tangannya pada tangan Lia.
"Iya! Lia ingin sedikit mengenang di sini!" jawab dokter Adi. Lia tersentak mendengar ucapan dokter Adi barusan.
"Mengenang?" batinnya. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat dari sebelumnya lagi, kali ini debarannya lebih kuat hingga membuat dadanya terasa sedikit sesak.
__ADS_1
...