Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Delapan


__ADS_3

"Apa kamu ingin aku menjauhi kak Lia?" tanya Bima. Dokter Adi terdiam, ia hanya terus menatap Bima, begitu juga dengan Bima. Sejenak mereka hanya saling memandang tanpa berkata apa-apa.


"Kalau memang itu yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku, aku akan melakukannya!" ucap Bima, kepalanya tertunduk, wajahnya terlihat sangat sedih.


"Tidak untuk saat ini!" tukas dokter Adi. Bima tersentak dan kembali menatap dokter Adi. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.


"Hanya ada 1 orang yang sampai saat ini Lia ingat dalam kenangannya." ungkap dokter Adi pelan.


"Kamu ingat dengan Rina?" tanya dokter Adi tiba-tiba. Bima menganggukkan kepalanya.


"Lia hanya mengingat wanita itu!" ungkap dokter Adi. Ucapan dokter Adi itu membuat Bima tersentak.


"Hanya Rina yang tertinggal di ingatannya saat ini!" tambah dokter Adi. Ia kembali menghela nafasnya.


"Lia tidak ingat dengan apa yang terjadi pada Rina, dia tidak tahu kalau Rina sekarang berada di dalam penjara karena perbuatan jahatnya pada Lia." ungkap dokter Adi.


"Dari situ aku berpikir kalau Lia hanya mengingat ketika Rina masih merawatnya dengan baik!" lanjutnya.


"Karena dia mengingat ketika Rina merawatnya, ketakutanku muncul. Aku takut Lia juga mengingat peristiwa 7 tahun lalu yang membuatnya bisa dirawat oleh Rina." terang dokter Adi.


"Makanya aku merasa sangat takut kalau dia melihatmu akan membuka traumanya lagi, tapi aku lega karena Lia juga tidak mengenalimu." ucap dokter Adi. Bima menundukkan kepalanya.


"Aku tidak memintamu untuk menjauhi Lia saat ini!" terang dokter Adi pelan, ia merangkul pundak Bima.


"Aku hanya ingin kamu mempersiapkan segala sesuatunya kalau terjadi sesuatu yang buruk itu." lanjutnya.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ingatan Lia kembali dan ada kemungkinan kalau Lia akan membenci kita ketika ingatannya itu kembali. Kita pria brengsek yang ada di hidup Lia! Jadi, kita harus bersiap untuk kemungkinan yang terburuk itu." tambah dokter Adi. Bima menganggukkan kepalanya pelan.


"Sampai saat itu tiba, ayo kita menebus dosa kita dengan merawat Lia dan memperlakukannya dengan baik!" ajak dokter Adi sambil menepuk pundak Bima.

__ADS_1


"Kalau nanti Lia membenci kita, setidaknya kita sudah mencoba untuk memperbaiki kesalahan kita." tambahnya. Bima menganggukkan kepalanya lagi dan menghela nafasnya.


...


Pak Dony, bu Elisa, serta bapak dan ibu Tanto berpamitan dengan Lia dan dokter Adi karena mereka akan pulang dan tak lama kemudian mereka pun akhirnya keluar dari kamar itu. Kini hanya ada dokter Adi, Lia, dan Bima dalam kamar itu.


"Kak Lia mau makan buah atau cemilan lagi?" tawar Bima. Lia menggeleng pelan. Ia menatap wajah adiknya itu dengan seksama.


"Ada apa kak?" tanya Bima pelan. Lia menggelengkan kepalanya pelan. Bima mendekati Lia.


"Katakan saja kalau ada yang kak Lia rasakan!" ucap Bima. Lia terdiam sejenak sambil terus memandangi wajah adiknya itu.


"Apa aku pernah melakukan kesalahan padamu?" tanya Lia pelan. Bima dan dokter Adi yang mendengar pertanyaan Lia itu tersentak.


"Kenapa kak Lia bertanya seperti itu?" tanya Bima, ia terlihat kikuk.


"Tidak! Kak Lia tidak melakukan kesalahan sedikitpun padaku!" tukas Bima. Lia kembali terdiam, ia terlihat seperti tidak yakin dengan ucapan Bima karena perasaannya masih saja tidak karuan.


"Kamu tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak, Lia!" sambung dokter Adi sambil berjalan mendekati istrinya itu.


"Aku tidak berpikiran tidak-tidak, tapi itulah yang kurasakan ketika pertama kali melihatnya!" aku Lia.


"Kak Lia tidak melakukan kesalahan sama sekali padaku, sungguh!" ucap Bima tiba-tiba. Lia dan dokter Adi menatap Bima.


"Kak Lia adalah orang yang sangaaat baik untukku!" lanjutnya. Suaranya mulai terdengar berat dan bergetar.


"Kak Lia yang membuat hidupku lebih baik dan lebih berarti dari sebelumnya!" tambah Bima. Matanya mulai terlihat berkaca-kaca.


"Sungguh?" tanya Lia lagi, ia masih terlihat tidak yakin.

__ADS_1


"Lalu kenapa perasaanku tak karuan seperti ini ya?" lanjutnya.


"Mungkin karena kamu belum bisa mengingat adik yang sangat kamu sayangi ini makanya perasaanmu tidak karuan!" ucap dokter Adi sambil membelai lembut rambut istrinya itu. Dokter Adi tersentak ketika tiba-tiba Lia menangkap tangannya yang sedang membelai rambut Lia itu dan kemudian Lia menatapnya dengan raut wajah serius.


"Bisakah kamu tidak terus-terusan menyentuhku?" pinta Lia dengan tegas. Bima dan dokter Adi terlihat sangat terkejut.


"Kak Lia, dia suamimu!" tegur Bima pelan. Lia menatap Bima.


"Aku tidak memiliki perasaan sedikitpun padanya, aku tidak yakin kalau dia benar-benar suamiku!" ungkap Lia.


"Kamu masih tidak yakin meskipun aku sudah menunjukkan foto pernikahan kita?" tanya dokter Adi tak menyangka kalau Lia masih tidak yakin dengannya.


"Kalian benar-benar saling mencintai, kak!" sambung Bima. Lia kembali menatap dokter Adi dengan tatapan dinginnya.


"Aku benar-benar tidak memiliki perasaan padamu saat ini!" tegasnya. Dokter Adi terdiam, ia tidak menyangka kalau wanita kesayangannya itu akan mengatakan hal itu padanya. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sesak dan hatinya terasa sakit.


Lia melepaskan tangan dokter Adi dan menggeser sedikit tubuhnya untuk menjaga jarak dengan suami yang tidak dikenalinya itu. Ia menghela nafasnya perlahan dan menundukkan kepalanya.


"Hanya ada suster Rina di ingatanku, tidak bisakah kalian memanggil suster Rina untuk datang ke sini? Atau mempertemukanlu dengannya di suatu tempat?" pinta Lia.


"Aku ingin berbicara dengannya!" tambahnya. Bima dan dokter Adi saling menatap satu sama lain.


"Kamu bersungguh-sungguh ingin bertemu dengan Rina?" tanya dokter Adi akhirnya. Lia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah! Aku akan mengantarmu menemuinya setelah kondisimu membaik dan kamu diijinkan keluar dari rumah sakit ini!" ucap dokter Adi. Lia mengangkat kepalanya dan menatap wajah dokter Adi.


"Biar dia yang akan menjelaskan semuanya!" tambah dokter Adi.


...

__ADS_1


__ADS_2