Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Lima Puluh Tujuh


__ADS_3

Meskipun suasana di antara mereka menjadi sedikit canggung, tapi dokter Adi tetap melanjutkan acara berkencan sehariannya hari ini. Ia sudah bertekad tidak akan menyerah untuk merebut hati istrinya kembali. Dokter Adi mengajak Lia ke restoran yang dekat dengan tempat kerjanya, tempat ia dan Lia bertemu kembali setelah berpisah. Dokter Adi bahkan memilihkan tempat duduk yang sama dengan waktu itu, ia berharap Lia akan mengingat kembali masa itu.


"Kamu mau pesan apa?" tanya dokter Adi. Lia mengamati daftar menu yang ada di dalam buku menu. Deg! Tiba-tiba sebuah perasaan muncul di dalam hatinya. Lia mengangkat kepalanya dan menatap dokter Adi yang ada di hadapannya sejenak, tapi dokter Adi sedang sibuk dengan buku menunya sehingga ia tidak menyadari kalau terjadi sesuatu pada Lia.


"Lalu bagaimana dengan ini? Apa kamu merindukannya juga?" Lia mendengar suaranya sendiri di telinganya dan kemudian di benaknya terlintas bayangan dirinya sedang tersenyum lebar hingga membuat matanya membentuk eye smile yang cantik.


"Hei Adi! Lia!" Tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria yang memecah lamunan Lia.


"Felix!" seru dokter Adi sambil bangkit dari tempat duduknya. Dokter Adi dan Felix saling berjabat tangan, sementara itu Lia menatap mereka dengan bingung.


"Hai Lia, bagaimana kabarmu?" sapa Felix ramah.


"Ah eh! Aku baik!" jawab Lia kikuk.


"Sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu!" ucap Felix.


"Ya, benar! Ayo bergabung dengan kami di sini!" ajak dokter Adi.


"Maaf! Klienku sudah menunggu di meja sana!" terang Felix.


"Ah sayang sekali!" sesal dokter Adi.


"Nanti, di lain kesempatan ayo kita makan siang bersama!" ajak Felix.

__ADS_1


"Oke! Kami tunggu undangan makan siangnya!" sahut dokter Adi.


"Baiklah! Kalau begitu aku pamit dulu!" ucap Felix sambil menepuk pundak dokter Adi dan berlalu dari hadapan dokter Adi dan Lia.


Dokter Adi kembali duduk di kursinya yang berhadapan dengan Lia.


"Siapa dia?" tanya Lia. Dokter Adi menatap Lia sejenak.


"Dia mantan atasanmu. Kamu pernah bekerja di WO miliknya!" terang dokter Adi.


"Oh ya?! Jadi aku pernah bekerja di WO?" ucap Lia tak menyangka. Dokter Adi menganggukkan kepalanya.


"Lalu kenapa aku tidak bekerja lagi dengannya?" tanya Lia.


"Oh!" Dokter Adi menatap Lia dengan seksama.


"Kamu tahu?" ucapnya pelan.


"Dia salah satu orang yang menyukaimu dulu!" ungkap dokter Adi.


"Hah?!" Lia tersentak.


"Dia juga mengetahui kalau kamu pernah memiliki riwayat gangguan jiwa tapi dia tetap menyukaimu!" lanjut dokter Adi.

__ADS_1


"Oh ya?!" Lia tak percaya. Dokter Adi menganggukkan kepalanya.


"Sudah kubilang, meskipun seorang mantan pasien gangguan jiwa, tapi istriku itu wanita terbaik!" puji dokter Adi.


"Dia punya kualitas hati nurani dan kehidupan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan wanita lainnya!" tambahnya.


"Kamu berbicara seakan aku orang yang berbeda!" protes Lia.


"Sangat berbeda!" tukas dokter Adi.


"Lihat saja pemikiranmu di mobil tadi!" terangnya. Lia menghela nafasnya dengan kasar dan memalingkan matanya dari suaminya itu dengan kesal, sejenak Lia memandangi Felix dari kejauhan.


"Kenapa aku lebih memilihmu dibandingkan pria itu, ya?" tanya Lia pelan. Dokter Adi terkejut mendengar pertanyaan Lia itu.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya dokter Adi.


"Yah, kalau dilihat dari fisiknya, pria itu cukup tampan dan dia juga memiliki bisnis yang cukup baik, lalu mengapa aku lebih memilih seorang psikiater yang pernah mencampakkanku?" tukas Lia. Dokter Adi menghela nafasnya.


"Hanya dirimu sendiri yang tahu alasan mengapa kamu lebih memilihku daripada dia!" ucap dokter Adi.


"Yang kulakukan hanya berjuang untuk bisa bersamamu." lanjutnya. Dokter Adi menatap kedua mata cantik istrinya itu.


"Kurasa dia juga berjuang untuk bisa bersamamu, tapi yah.. kalau memang Tuhan sudah menentukan akulah jodohmu, kamu tidak akan bisa menghindarinya!" tambah dokter Adi. Ia tersenyum lembut pada istrinya itu. Lia menatap senyuman manis dokter Adi, senyuman itu terasa sangat familiar baginya, tapi ia tidak bisa mengingat di mana ia melihat senyuman itu sebelumnya.

__ADS_1


...


__ADS_2