
"Setidaknya istri saya tidak apa-apa, meskipun tidak akan memiliki keturunan saya rasa saya bisa bertahan." ucap dokter Adi pelan. Suaranya terdengar sangat pelan bahkan nyaris tidak terdengar.
Dokter Adi keluar dari ruangan dokter yang bertanggung jawab pada Lia itu dan berjalan perlahan kembali menuju kamar istrinya. Langkahnya terasa sangat lemah dan berat.
"Mengapa Tuhan memberikan ujian bertubi-tubi seperti ini?" ucap dokter Adi dalam hati.
"Aku mungkin saja bisa menghadapi semuanya ini, tapi bagaimana dengan Lia?" tanyanya.
"Waktu itu dia sangat bahagia ketika mengetahui dirinya hamil dan sangat merawat bayi yang ada dalam kandungannya, dia juga mempersiapkan semuanya dengan sangat baik! Kalau sekarang dia harus menerima kenyataan kalau kemungkinan untuk bisa memiliki bayi lagi sangat kecil, apa yang akan dirasakannya?" batin dokter Adi.
Perlahan tangannya menyentuh handle pintu kamar Lia, lalu kemudian menggeser pintu itu. Ia tersentak begitu melihat keadaan di dalam kamar itu. Tampak di kejauhan Lia sedang duduk bersila di ranjangnya dengan sekaleng biskuit berada dalam pelukkannya, matanya menatap lurus ke arah televisi, dan ia terlihat sangat fokus dengan film yang sedang ditayangkan di televisi itu. Tanpa disadari, perlahan sebuah senyuman lembut merekah di bibir tipisnya.
Perlahan Lia memalingkan pandangannya dari televisi ke sosok pria tampan yang berdiri terpaku di depan pintu kamarnya sambil menatapnya.
"Kenapa berdiri saja di situ?" tanya Lia. Dokter Adi yang mendengar suara Lia itu akhirnya tersadar dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
"Apa yang sedang kamu tonton?" tanya dokter Adi.
"Film romantis!" jawab Lia.
"Film romantis?" gumam dokter Adi.
"Dulu kamu paling tidak menyukai film romantis!" ungkap dokter Adi.
"Oh ya?!" seru Lia tak percaya.
"Tapi aku suka ketika melihat film ini!" aku Lia. Dokter Adi menoleh ke arah televisi dan memperhatikan film romantis seperti apa yang menarik perhatian istrinya itu, dan ia tersentak begitu menyadari film yang ditontonnya itu adalah film yang sama seperti yang ia dan Lia tonton ketika pertama kali mereka menonton film romantis bersama di rumahnya.
"Kita punya film ini di rumah!" ucap dokter Adi.
__ADS_1
"Oh ya?!" seru Lia. Dokter Adi menganggukkan kepalanya pelan.
"Ini film pertama yang kita tonton bersama." ungkap dokter Adi. Lia tampak tersentak, sejenak ia menatap kedua mata dokter Adi dengan seksama. Dokter Adi duduk di sisi ranjang Lia.
"Ada sebuah kenangan manis yang terjadi setelah itu menonton film ini." lanjutnya.
"A.. apa itu?" tanya Lia. Dokter Adi menatap Lia sambil tersenyum lembut.
"Hari itu untuk pertama kalinya kamu singgah di rumahku, yang saat ini menjadi rumah kita..." ucap dokter Adi memulai ceritanya. Lia menyimak setiap ucapan dokter Adi dengan seksama agar tidak sedikitpun ucapannya yang terlewat.
"Aku mengajakmu untuk menonton film dan aku memilihkan film ini!" ungkap dokter Adi.
"Awalnya kamu terus menolaknya dan meminta untuk diputarkan film horor saja tapi aku memaksa untuk memutar film ini!" lanjut dokter Adi.
"Kamu pasti sengaja melakukannya untuk membuat suasana menjadi romantis, kan?!" canda Lia. Dokter Adi tertawa kecil.
"Saat itu kita belum memiliki hubungan spesial, Lia!" tukas dokter Adi. Lia terkejut mendengar penjelasan dokter Adi itu.
"Maksudmu?" tanya Lia.
"Setelah aku memutarkan film itu untuk ditonton bersamamu, aku malah tertidur dan kamu menonton film itu sendiri!" terang dokter Adi, ia kembali tertawa kecil.
"Dasar!" maki Lia sambil memukul lengan suaminya itu.
"Paginya, ketika aku membuka mataku, aku melihat kamu yang sedang tertidur di hadapanku. Wajahmu terlihat sangat cantik saat itu!" ucap dokter Adi. Seketika wajah Lia memerah mendengar pujian dokter Adi barusan.
"Kamu sangat malu ketika aku melihat wajahmu yang baru saja terbangun dari tidur, tapi sungguh! Kamu sangat cantik ketika kamu baru bangun tidur!" puji dokter Adi lagi. Lia terlihat kikuk karena dokter Adi terus memujinya dan sikap kikuknya itu membuat dokter Adi tertawa kecil.
"Pagi itu, aku tidak bisa menahan lagi perasaanku yang meluap-luap karena ada gadis cantik di hadapanku..." ucap dokter Adi pelan.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Lia pelan.
"Untuk pertama kalinya aku mencium bibir mungilmu itu!" aku dokter Adi. Lia tersentak, seketika jantungnya berdebar dengan sangat kencang.
"Apa karna itu makanya aku merasa sangat antusias menonton film ini?" tanya Lia dalam hati.
"Apa karena ada kenangan itu makanya aku sangat menyukai film ini?" lanjutnya. Perlahan Lia menatap wajah dokter Adi dengan seksama.
"Apa dia benar-benar suamiku?" batin Lia.
"Ada apa?" tanya dokter Adi yang bingung melihat Lia yang terus menatap ke arahnya. Lia tersadar.
"Ah.. eh.. tidak! Tidak apa-apa!" jawab Lia kikuk. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah tampan suami yang belum berhasil dikenalinya itu, jantungnya berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sedikit sesak.
"Besok kamu boleh kembali ke rumah!" ucap dokter Adi tiba-tiba. Lia yang terkejut mendengar ucapak dokter Adi itu kembali menatap wajah pria itu.
"Dokter sudah mengijinkan kamu untuk kembali ke rumah!" Dokter Adi memperjelas ucapannya.
"Sungguh?!" ucap Lia tak menyangka. Dokter Adi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut pada istrinya itu.
"Tapi kamu masih tetap harus mengkonsumsi obat dari rumah sakit dan check up setiap dua minggu sekali!" terang dokter Adi.
"Kenapa? Apa tubuhku belum pulih sepenuhnya?" tanya Lia penasaran. Dokter Adi terdiam sejenak.
"Tidak! Dokter hanya perlu melihat perkembangan kesehatanmu saja sampai kamu benar-benar sembuh!" jawab dokter Adi. Ia membohongi istrinya karena ia tidak ingin membuat istrinya itu khawatir dengan penyakit baru yang ada di tubuhnya. Lia menganggukkan kepalanya pelan.
"Ternyata setelah keluar dari rumah sakit ini pun aku masih harus merepotkanmu!" gumam Lia pelan. Sebenarnya suaranya itu sangat pelan tetapi telinga dokter Adi berhasil menangkap ucapannya itu.
"Tidak ada istilah 'merepotkan' dalam hubungan suami-istri, Lia! Apa pun kebutuhanmu, itu menjadi tanggung jawabku karena aku suamimu!" tegas dokter Adi. Jantung Lia kembali berdebar dengan sangat kencang karena ucapan dokter Adi barusan.
__ADS_1
...