Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Tujuh Puluh Enam


__ADS_3

"Lia!" seru dokter Adi yang terlihat sangat terkejut. Lia menarik tangan suaminya itu dan membawanya menuju kamar mereka.


"Kamu kenapa sayang?" tanya dokter Adi lagi sambil terus mengikuti langkah kaki Lia yang menariknya masuk ke kamar mereka. Lia menutup pintu kamar dengan rapat begitu mereka sudah berada di dalam kamar.


Dokter Adi memperhatikan ekspresi wajah Lia yang terlihat sangat kesal. Nafas Lia terdengar menderu.


"Kamu tidak boleh terlalu dekat dengannya!" ucap Lia akhirnya.


"Maksudnya?" tanya dokter Adi bingung.


"Kamu tidak boleh terlalu dekat dan akrab dengan suster Rina!" Lia memperjelas ucapannya.


"Kenapa?" tanya dokter Adi.


"Karena aku tidak suka!" jawab Lia.


"Kenapa kamu tidak menyukainya?" tanya dokter Adi lagi.


"Aku tidak suka orang-orang yang mengganggu apa yang menjadi milikku!" ungkap Lia.


"Jadi maksudmu, aku ini milikmu?" ucap dokter Adi.


"Kalau bukan milikku, lalu kamu ini milik siapa? Milik suster Rina? Atau ada perempuan lain lagi?" tukas Lia dengan nada bicara yang tinggi, ia terlihat sangat kesal, tapi dokter Adi justru merasa sangat bahagia karena Lia menyebut dirinya adalah milik Lia.


"Lalu, kamu akan mengunciku sepanjang hari di dalam kamar?" tanya dokter Adi. Lia menatap kesal ke arah suaminya itu.

__ADS_1


"Iya!" jawabnya ketus.


"Kalau begitu, apa yang akan kita lakukan berdua di kamar ini?" Pertanyaan dokter Adi itu dimaksudkan untuk menggoda Lia, ia bahkan berjalan perlahan untuk merapatkan tubuhnya ke tubuh istrinya itu. Sikap dokter Adi itu membuat Lia menjadi kikuk, tanpa di sadari ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Hei! Kamu seperti melihat hantu saja!" protes dokter Adi. Perlahan ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lia dan menarik tubuh Lia agar merapat pada tubuhnya.


"Iya, aku memang sedang melihat hantu! Hantu yang sangat menakutkan!" ucap Lia pelan. Dokter Adi mendekatkan wajahnya ke wajah Lia.


"Apa kamu bilang?" tanyanya dengan suara berbisik. Dokter Adi mengigit lembut pipi istrinya itu.


"Aw.. sakit!" pekik Lia. Dokter Adi tertawa kecil dan kemudian mulai menciumi pipi istrinya itu. Ciumannya itu tidak hanya pada satu sisi wajah Lia tapi ia menciumi seluruh wajah cantik istrinya itu. Lembut dan intens. Sampai pada bibirnya berhadapan dengan bibir mungil Lia.


Kedua mata dokter Adi menatap kedua mata Lia dengan seksama. Dokter Adi mendekatkan kembali wajahnya dengan wajah Lia dan hendak mendaratkan sebuah ciuman romantis di bibir mungil milik istrinya itu, tapi...


"Kenapa?" tanya dokter Adi pelan.


"Aku tidak bisa melakukannya denganmu!" ucap Lia.


"Kenapa?" tanya dokter Adi dengan raut wajah kecewanya.


"Karena aku masih marah padamu!" terang Lia.


"Aaargh.. Lia!" Dokter Adi langsung menjatuhkan kepalanya di pundak Lia.


"Menyingkir dariku!" ucap Lia sambil mendorong tubuh suaminya itu.

__ADS_1


"Aku sudah 'setengah jalan', Lia!" ucap dokter Adi.


"Ayo kita lanjutkan sedikit lagi!" pintanya.


"Tidak!" tolak Lia.


"Kalau begitu, aku tidak akan membiarkanmu pergi!" ancam dokter Adi.


"Coba saja kalau berani, aku akan berteriak!" tukas Lia.


"Menyingkir dari hadapanku!" seru Lia sambil mendorong tubuh suaminya itu.


"Kalau begitu aku akan keluar dari kamar dan menemui Rina!" ancam dokter Adi lagi. Lia tersentak.


"Untuk apa kamu menemuinya?" tanya Lia geram.


"Untuk.. ee.. untuk.." Dokter Adi kikuk.


"Kamu mau melakukannya dengan suster Rina?" tanya Lia. Matanya menatap tajam ke arah suaminya itu.


"Karena aku tidak mendapatkannya darimu!" ucap dokter Adi. Ia tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu, ia hanya berniat mengancam Lia.


"Coba saja lakukan kalau kamu berani, aku akan melakukan hal yang buruk pada kalian!" Bukannya ketakutan, Lia malah balik mengancam suaminya itu.


...

__ADS_1


__ADS_2