
"Dia tidak mencoba menggodaku Lia, dia..." Belum sempat dokter Adi menyelesaikan kata-katanya, Lia sudah bangkit dan duduk di ranjang lalu ia menurunkan salah satu tali lingerie yang dikenakannya itu.
"Bagaimana menurutmu, lebih cantik aku atau dia?" tanya Lia tiba-tiba dengan nada bicara dan pose yang menggoda. Seketika dokter Adi terdiam, terpaku, dan terpesona dengan apa yang terlihat dihadapannya itu.
"Lebih menarik aku atau dia?" tanya Lia lagi.
"Bagaimana mungkin aku bisa membandingkanmu dengannya, aku saja tidak pernah melakukan apa-apa dengannya!" tukas dokter Adi. Seketika ekspresi wajah Lia berubah setelah mendengar ucapan suaminya itu.
"Maksudmu?" tanyanya.
"Jadi kamu berniat ingin 'mencicipinya' baru bisa membandingkannya denganku?" lanjut Lia.
"Kamu harus tahu rasa dari kedua pihak sebelum bisa membandingkannya kan?!" tukas dokter Adi.
"Cih!" Lia memalingkan wajahnya dari suaminya itu, ia tampak kesal mendengar ucapan dokter Adi barusan.
Melihat istrinya lengah, dengan cepat dokter Adi menarik tangan Lia hingga membuat tubuh Lia terjatuh ke ranjang dan dokter Adi meraih kedua tangan Lia, memposisikan kedua tangan itu di atas kepala Lia, dan menjaga kedua tangan itu agar tetap dalam posisi yang sama dengan menggunakan tangan kirinya.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu!" protes Lia. Dokter Adi mendekatkan bibirnya ke telinga Lia.
"Aku ingin mencicipimu!" bisiknya pelan. Seketika wajah putih Lia berubah menjadi merah, Lia terlihat seperti kepiting rebus.
"Sejujurnya, aku tidak punya niatan untuk mencicipi yang lain." aku dokter Adi.
"Aku sudah ketagihan dengan yang ini!" lanjutnya.
"Aku hanya ingin terus merasakan wanita yang ada di hadapanku ini." tambah dokter Adi. Lia terdiam terpaku, ia tidak bisa berkata apa-apa, tubuhnya pun terasa kaki dan lemah setelah mendengar ucapan suaminya itu, hanya jantungnya yang bisa mengekspresikan perasaannya saat ini, jantungnya itu berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sesak.
Dokter Adi melepaskan kaus yang dikenakannya di hadapan Lia, hal itu membuat jantung Lia berdebar semakin kencang dan ia pun kesulitan bernafas karena dadanya terasa semakin sesak, tapi tiba-tiba saja matanya tertuju pada bekas luka yang terlihat di leher bagian bawah dokter Adi.
Mata Lia terbuka lebar menatap bekas luka itu, dalam pandangannya, ia melihat darah mengalir dari luka itu dan mengotori tangannya.
"A.. apa ini?" batinnya. Ia belum bisa mengingat apa yang terjadi dengan luka itu tapi entah mengapa ia menyadari kalau luka itu adalah hasil perbuatannya.
"I.. ini aku yang perbuat?" ucap Lia pelan. Dokter Adi tersentak, ia meraih tangan Lia dan menyingkirkannya dari bekas luka itu.
__ADS_1
"Ini aku yang melakukannya?" tanya Lia lagi. Dokter Adi menatap Lia sejenak dan perlahan menganggukkan kepalanya.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan luka ini!" tukas dokter Adi.
"Luka ini sudah lama sekali dan tidak berbahaya!" lanjutnya.
"Apa rasanya sangat sakit?" tanya Lia lagi. Dokter Adi menghela nafasnya pelan.
"Sakit, tapi tidak berbahaya untukku sama sekali!" terang dokter Adi. Mata Lia mulai tampak berkaca-kaca dan dokter Adi menyadari hal itu.
"Kamu tidak perlu bersedih dengan luka ini..." ucapnya pelan.
"Asal kamu tahu, aku bahagia mendapat luka ini!" ungkap dokter Adi. Kening Lia berkerut mendengar ucapan suaminya itu.
"Luka ini yang mengembalikanmu padaku!" terangnya. Dokter Adi tersenyum lembut pada Lia.
"Kamu sangat berarti untukku dan berkat luka ini kita bisa bersatu lagi!" tambahnya. Dengan lembut dokter Adi mencium bibir mungil istrinya itu.
__ADS_1
...