
Akhirnya hari ini dokter Adi dan Lia memutuskan untuk tinggal terpisah sampai batas waktu yang belum bisa dipastikan. Dokter Adi membantu Lia mengemasi beberapa barangnya yang sekiranya nanti akan diperlukannya selama tinggal bersama keluarganya.
"Apa aku tidak memiliki ponsel selama ini?" tanya Lia.
"Nanti kita mampir untuk membeli ponsel baru!" ucap dokter Adi.
"Memangnya ke mana ponselku yang lama?" tanya Lia lagi. Dokter Adi terdiam sejenak.
"Ponselmu sudah rusak karena kecelakaan waktu itu." terang dokter Adi.
"Memangnya tidak bisa diperbaiki saja?" tanya Lia. Dokter Adi tidak menjawab pertanyaan Lia itu, ia hanya terus membereskan barang-barang Lia.
"Mungkin saja di ponsel itu ada informasi yang akan mengembalikan ingatanku!" lanjut Lia. Dokter Adi masih saja tidak merespon ucapan Lia.
"Ayolah, perbaiki saja daripada kamu harus membelikanku ponsel baru!" bujuk Lia.
"Semua barang yang kamu kenakan saat kecelakaan itu terjadi masih terbungkus dengan rapi, Lia! Aku tidak pernah dan tidak mau membukanya apalagi melihatnya!" ucap dokter Adi akhirnya, nada suaranya sedikit meninggi hingga membuat Lia tersentak dan terdiam. Dokter Adi yang menyadari reaksi Lia itu perlahan menghela nafasnya.
"Meskipun aku seorang psikiater, tapi aku tidak bisa mengontrol perasaanku ketika aku harus melihat barang-barang itu lagi, Lia. Aku pasti mengingat semua peristiwa itu!" ungkap dokter Adi lembut. Lia terdiam, ia hanya memandangi wajah suami yang tidak dikenalnya itu.
__ADS_1
"Kumohon, kali ini pahami aku sedikit saja!" pinta dokter Adi.
Akhirnya Lia dan dokter Adi selesai mengemasi barang-barang Lia. Dengan sigap dokter Adi memasukkan barang-barang itu ke dalam mobilnya, sementara itu Lia sudah duduk rapi di dalam mobil. Setelah selesai, dokter Adi segera melajukan mobil kesayangannya itu menuju sebuah mall untuk membelikan istrinya sebuah ponsel baru, namun di sepanjang perjalanan mereka tidak berbicara sedikitpun.
Lia beberapa kali mencoba untuk melirik ke arah suaminya karena ia merasa canggung dengan suasana di dalam mobil yang sangat hening. Ia sudah merasa terbiasa dengan sikap dokter Adi yang selalu berbagi cerita dengannya.
"Maaf kalau aku tadi menyinggungmu!" ucap Lia akhirnya, ia mencoba memecah kesunyian itu.
"Hah?!" Dokter Adi tersentak dengan ucapan Lia yang tiba-tiba itu.
"Kamu tersinggung dengan kata-kataku tadi kan, makanya kamu terus diam dan tidak mau bicara padaku?!" terka Lia. Dokter Adi menatap Lia sejenak, lalu kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Katakan saja!" desak Lia.
"Kamu benar-benar ingin tahu alasannya?" tanya dokter Adi.
"Kalau aku tidak mau tahu jawabannya, aku tidak akan bertanya padamu!" tukas Lia kesal. Dokter Adi tersenyum lembut.
"Baiklah! Aku hanya merasa sedikit bimbang dan ragu!" jawab dokter Adi.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Lia, ia terlihat semakin penasaran. Dokter Adi kembali menghela nafasnya perlahan.
"Ini pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya aku harus hidup terpisah lagi darimu!" ungkap dokter Adi. Dadanya terasa sesak ketika mengucapkannya, sedangkan Lia terdiam dan terus memandangi wajah tampan suaminya itu.
"Aku sudah terbiasa menjalani kehidupanku bersamamu!" aku dokter Adi. Ucapan dokter Adi itu membuat jantung Lia berdebar kencang dan seketika wajahnya memerah.
"Bukannya dari dulu kamu ingin menyingkirkanku dari kehidupanmu?" tukas Lia.
"Rasanya memalukan sekali seorang wanita harus dicampakkan oleh kekasihnya seperti itu!" sindir Lia.
"Kamu tidak mengetahui yang sebenarnya terjadi, Lia!" ucap dokter Adi.
"Apapun alasannya, aku tidak bisa menerima hal itu! Sangat memalukan dan menyakitkan untukku!" ucap Lia. Dokter Adi menghela nafasnya.
"Sekarang kamu nikmati saja bagaimana rasanya!" seru Lia.
"Kamu jahat sekali, Lia!" ucap dokter Adi.
"Aku belajar darimu!" tukas Lia.
__ADS_1
...