
"Aaaa!" teriak Lia. Teriakan Lia yang sangat tiba-tiba itu tidak mengejutkan Dimas dan Rio yang berada di sampingnya tetapi juga suster Indah bahkan dokter Adi yang berada di dalam ruangan. Seketika wajah Lia menjadi pucat, keringat mulai mengucur dari keningnya. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sangat sesak. Bayangan itu sangat menakutkan bagi Lia.
Lia memandangi kedua tangannya, ia terpaku melihat kedua tangannya itu berlumuran darah. Jantungnya seperti berhenti berdetak sejenak.
"Kamu kenapa, Lia?" tanya dokter Adi. Lia tersentak dan tersadar dari lamunannya karena suara suaminya itu, tapi ia masih saja terdiam dan hanya menatap kedua mata dokter Adi.
"Lia!" panggil dokter Adi lembut sambil menggenggam kedua tangan Lia.
"A.. aku..." Suara Lia terdengar berat dan bergetar, wajahnya masih terlihat pucat, nafasnya terdengarenderu dan keringat mengucur deras dari keningnya. Perlahan dokter Adi meraih tubuh Lia dan mendekapnya lembut.
Lia duduk di kursi yang berada di depan kamar 208, di sampingnya suster Indah, Dimas, dan Rio menemaninya, sementara itu dokter Adi melanjutkan pemeriksaan pada pasiennya. Lia menghela nafasnya perlahan untuk menenangkan dirinya.
"Kamu kenapa Lia?" tanya suster Indah pelan. Lia menggelengkan kepalanya perlahan.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Rio mencoba mengorek Lia. Lia menatap wajah Rio dengan seksama hingga membuat Rio sedikit kikuk.
"Tidak ada apa-apa." jawab Lia pelan. Ia menghela nafasnya sekali lagi.
"Tadi aku hanya terkejut karena ada serangga yang terbang ke arahku." terang Lia. Lia mencoba membohongi ketiga perawat itu, tapi mereka tidak begitu saja percaya, mereka menatap Lia dengan tatapan curiga.
"Sungguh!" ucap Lia untuk meyakinkan ketiga perawat itu.
"Aku takut sekali pada serangga! Tadi kupikir serangga itu hinggap di kedua tanganku makanya aku histeris." Lia mencoba menjelaskan kepada suster Indah, Dimas, dan Rio agar mereka percaya pada ucapannya.
"Aku tidak melihat serangga sama sekali yang terbang ke arahmu, Lia!" celetuk Dimas.
__ADS_1
"Jadi maksudmu aku berbohong?" tukas Lia. Ditatapnya Dimas.
"Bu.. bukan begitu maksudku.." ucap Dimas kikuk. Seketika suasana di antara mereka menjadi hening dan canggung, untung saja dokter Adi telah selesai melakukan pemeriksaannya pada pasien.
"Ini!" ucap dokter Adi sambil menyerahkan berkas pemeriksaannya kepada suster Indah.
"Terima kasih kalian sudah mau menemani Lia, maaf kalau saya jadi merepotkan kalian!" ucap dokter Adi lagi.
"Tidak, dok! Tidak merepotkan sama sekali!" tukas Rio.
"Baiklah, kalau begitu saya kembali ke ruangan dulu!" pamit dokter Adi.
"Baik dok!" seru Dimas, Rio, dan suster Indah bersamaan.
Dimas, Rio, dan suster Indah masih terdiam terpaku di tempat mereka sambil memandangi Lia dan dokter Adi yang melangkah menjauh dari mereka.
"Apa kalian merasa ada yang aneh dengan Lia?" tanya suster Indah tiba-tiba. Dimas dan Rio tersentak.
"Kupikir hanya aku yang merasakannya!" sambung Dimas.
"Tidak! Aku juga merasakannya!" ucap Rio. Dimas, Rio, dan suster Indah saling berpandangan.
"Lia berubah sekali!" ungkap suster Indah. Dimas dan Rio menganggukkan kepala mereka.
"Sifat dan sikapnya sangat berbeda dari Lia yang kita kenal sebelumnya!" dukung Rio.
__ADS_1
"Tadi sebelumnya dia juga bersikap aneh, tiba-tiba saja dia mengalami sakit kepala, tapi Lia tidak mau dokter Adi mengetahuinya!" ungkap suster Indah.
"Tadi juga ketika kami berkeliling, Lia menanyakan tentang Rina." ungkap Dimas.
"Iya benar!" sambung Rio.
"Menanyakan tentang apa?" tanya suster Indah.
"Banyak! Lia menanyakan berapa lama Rina bekerja di sini, mengapa Rina mengundurkan diri dari rumah sakit ini, dan di mana suster Rina bekerja setelah tidak bekerja di sini lagi!" jawab Dimas.
"Dia bertanya sedetail itu?" tanya suster Indah tak percaya. Dimas dan Rio menganggukkan kepala mereka.
"Dan cara bertanyanya tidak seperti Lia yang dulu, tapi lebih dengan cara mencecar dan mendalesak kami agar mau bercerita padanya!" tambah Rio.
"Aneh! Padahal dia sudah pernah bertemu dengan Rina di penjara!" tukas suster Indah. Dimas dan Rio terkejut mendengar ucapan suster Indah.
"Oh ya?" tanya Rio.
"Iya! Dokter Adi menceritakannya sendiri padaku!" jawab suster Indah.
"Pasti terjadi sesuatu!" terka Dimas. Suster Indah dan Rio menganggukkan kepala mereka.
"Kasihan dokter Adi, sekali lagi dia harus berjuang!" ucap Rio pelan.
...
__ADS_1