
"Emm.. kamu tahu Felix?" tanya Lia tiba-tiba. Bima tersentak.
"Fe.. Felix?" Bima terlihat bingung, ia bingung bukan karena tidak mengenal Felix tetapi ia bingung mengapa Lia tiba-tiba saja menanyakan tentang Felix.
"Felix mantan atasan kak Lia itu?" ucap Bima balik bertanya. Lia menganggukkan kepalanya. Entah mengapa Bima merasa ada sesuatu yang aneh dengan pertanyaan Lia.
"Seperti apa orangnya?" tanya Lia.
"Kenapa kak Lia tiba-tiba saja menanyakannya?" ucap Bima balik bertanya.
"Aku bertemu dengannya 2 kali." jawab Lia.
"Dan Adi bilang kalau dia pernah menyukaiku!" ungkapnya.
"Kak Adi bilang begitu?" tanya Bima tak percaya. Lia menganggukkan kepalanya.
"Apa dia berbohong?" tanya Lia.
"Emm.. tidak! Kak Adi tidak berbohong, hanya saja aku pikir dia tidak akan pernah menceritakan tentang persaingan di antara mereka itu." ucap Bima.
"Persaingan seperti apa?" tanya Lia penasaran.
"Yah, mereka berdua sama-sama berjuang untuk mendapatkanmu, kak Lia!" jawab Bima.
"Mereka berdua sama-sama pria yang sangat baik." tambahnya.
"Oh ya? Lalu mengapa aku lebih memilih Adi?" tanya Lia lagi. Bima menatap kedua mata kakaknya dengan seksama.
"Yang tahu alasan kenapa kakak lebih memilih kak Adi di bandingkan pak Felix ya hanya kak Lia sendiri." ucap Bima.
"Sekarang aku tidak tahu apa alasanku itu." sesal Lia.
"Kenapa kakak bicara seperti itu?" tanya Bima.
"Aku hanya ingin tahu saja, Bim! Aku penasaran!" jawab Lia.
__ADS_1
"Mungkin Adi memang berjasa untuk kesembuhanku, tapi dia juga banyak menyakitiku, lalu kenapa akhirnya aku tetap memilih kembali padanya dan menikah dengannya? Padahal ada pria tampan dan sukses lainnya yang juga mencintaiku!" tukas Lia.
"Mungkin saja kalau tidak bersama Adi, kehidupanku tidak seperti sekarang ini." lanjutnya.
"Kalaupun aku mengalami kecelakaan dan ingatanku hilang, pasti dengan cepat aku bisa kembali mencintai pasanganku, tidak seperti sekarang ini!" tambah Lia.
"Kak Lia!" seru Bima, ia tampak sangat terkejut dengan ucapan kakaknya itu.
"Kenapa?" tanya Lia polos.
"Ucapanku tidak ada yang salah!" tukas Lia.
"Kalau jiwa kak Lia yang lama mendengar ini, dia akan sangat marah dengan jiwa kak Lia yang sekarang ini!" ungkap Bima.
"Kenapa begitu?" tanya Lia tak terima.
"Kamu kan tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya pada Adi!" ucapnya.
"Aku memang tidak tahu perasaan kakak yang sebenarnya seperti apa, tapi aku akan menjelaskan yang sebenarnya pada kak Lia!" ucap Bima.
"Bukan kak Adi yang banyak melukai kak Lia, tapi kak Lia-lah yang banyak melukai kak Adi! Bahkan sampai saat ini!" tegas Bima. Lia tersentak mendengar ucapan pedas adiknya itu.
"Apa buktinya kalau aku yang lebih banyak melukainya?" ucap Lia tak terima.
"Kak Adi punya banyak luka di tubuhnya, karena perbuatan kakak ketika kak Lia belum bisa sadar seperti saat ini!" jawab Bima.
"Itu kan sudah resikonya sebagai seorang dokter yang merawat pasien dengan gangguan jiwa!" tukas Lia.
"Ya, kak Lia benar! Pekerjaannya memang memiliki resiko seperti itu, tapi di luar pekerjaannya, dia juga menanggung resiko itu demi menyelamatkan kehidupan kak Lia setelah keluar dari rumah sakit!" terang Bima. Lia terdiam.
"Apa kakak pernah memperhatikan luka di lehernya?" tanya Bima. Lia masih terdiam, ia tidak pernah memperhatikan tubuh suaminya itu dengan benar-benar.
"Luka di leher kak Adi itu terjadi ketika akan menyelamatkan kak Lia dari percobaan pelecehan yang dilakukan oleh mantan calon tunangan kakak!" ungkap Bima.
"Pelecehan lagi?" tanya Lia.
__ADS_1
"Ya kak! Kak Lia hampir merasakan pelecehan ke dua dan dilakukan oleh orang yang pernah menjadi calon tunangan kakak!" terang Bima.
"Saat itu kak Lia sudah keluar dari rumah sakit, kak Lia sudah menjalani kehidupan normal tapi karena peristiwa itu trauma kak Lia kembali, kak Lia seperti orang yang kerasukan dan akan mencelakai mantan calon tunangan kakak itu tapi kak Adi mencegahnya hingga akhirnya tanpa sengaja dialah yang kakak lukai!" lanjut Bima. Lia tampak sangat terkejut mendengar cerita baru tentang masa lalunya itu.
"Itu baru luka di fisik, kak Lia pasti belum tahu juga bagaimana luka batinnya ketika memperjuangkan kakak!" tukas Bima.
"Aku tidak mau mengungkit semua ini, kakak mungkin terluka karena kak Adi pernah mencampakkan kak Lia, tapi kakak tidak tahu alasan di balik itu semua." ucap Bima. Lia menatap kedua mata Bima dengan seksama.
"Dia terpaksa melakukan hal itu agar kak Lia bisa hidup lebih baik dari sebelumnya dan karena dia harus bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak dilakukannya." terang Bima.
"Kesalahan yang tidak dilakukannya? Kesalahan apa?" tanya Lia bingung. Bima menghela nafasnya perlahan.
"Kurasa hal ini lebih pantas kalau kak Adi sendiri yang menyampaikannya." ucap Bima pelan.
"Bima! Beri tahu aku!" desak Lia. Bima menggelengkan kepalanya.
"Dulu kak Lia sudah tahu tentang semua ini makanya dia bisa memaafkan satu-satunya kesalahan kak Adi pada kakak itu dan memilih kembali bersama dengannya!" ungkap Bima. Lia terdiam sejenak, tapi dari wajahnya ia terlihat belum cukup puas dengan semua cerita Bima.
"Kuharap ingatan kakak cepat kembali!" ucap Bima.
"Sepertinya kamu mengetahui banyak tentang Adi itu!" ucap Lia pelan. Kata-katanya itu bernada curiga.
"Karena aku-lah saksi dari peristiwa itu, kak!" ungkap Bima.
"Kak Lia boleh tidak mempercayai semua ucapanku tapi lihat bagaimana bapak dan ibu begitu mempercayai kak Adi!" ucap Bima.
"Tidak ada orang tua yang begitu mempercayai menantunya seperti bapak-ibu mempercayai kak Adi!" tegas Bima.
"Semuanya karena mereka sudah melihat bukti kalau kak Adi sangat menyayangi kakak!" lanjutnya. Lia kembali terdiam sambil terus menatap kedua mata adiknya itu.
"Kak Adi dan pak Felix memang pria yang sangat baik tapi untuk perjuangan yang sudah dilakukan, mereka tidak bisa dibandingkan, kak!" tambah Bima.
"Kak Lia akan sangat menyesal pernah melakukan hal ini ketika ingatan kak Lia sudah kembali nanti!" ucap Bima.
...
__ADS_1