Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Lima Puluh Empat


__ADS_3

Dokter Adi merebahkan tubuhnya di ranjang seteleh selesai membersihkan tubuhnya. Ia meraih ponsel yang ada di meja samping ranjangnya. Sejenak ia terlihat mengutak atik ponselnya itu untuk menelepon seseorang.


"Hai sayangku!" sapanya lembut.


"Siapa kamu?" sahut seseorang dari seberang sana yang ternyata adalah Lia, istri tercintanya. Dokter Adi tertawa kecil mendengar respon Lia itu.


"Bagaimana kabarmu seminggu ini, sayang?" tanyanya.


"Untuk apa kamu menanyakan kabarku, bukankah kamu sudah tidak peduli padaku lagi makanya kamu tidak menghubungiku selama seminggu ini?!" tukas Lia.


"Kamu bilang, kamu sangat menyayangiku, kamu tidak bisa hidup terpisah dariku, tapi setelah berpisah, kamu tidak menghubungiku samq sekali!" gerutu Lia. Dokter Adi tersenyum lebar mendengar semua ucapan Lia itu, ia bahagia dengan respon Lia yang terdengar seperti merindukannya dan berharap ia untuk terus menghubunginya.


"Kenapa kamu merajuk seperti itu? Apa kamu sedang merindukanku?" terka dokter Adi. Lia tersentak.


"Tidak!" bantahnya.


"Katakan saja kalau kamu merindukanku!" sindir dokter Adi.


"Tidak!" Lagi-lagi Lia membantahnya, bahkan kali ini suaranya terdengar lebih keras dari sebelumnya.


"Aku juga sangat merindukanmu!" ucap dokter Adi dengan suara berbisik. Mendengar ucapan suaminya itu, seketika air mata Lia meleleh ke pipinya, jantungnya berdebar sangat kencang, dan entah mengapa ia merasa sangat senang mendengar ucapan itu.


"Pembohong! Kamu bilang kamu merindukanku tapi kamu tidak menghubungiku sama sekali!" seru Lia.


"Aku pikir kamu akan merasa risih kalau aku terus menghubungimu." ucap dokter Adi.

__ADS_1


"Pembohong!" maki Lia lagi.


"Pasti kamu sibuk dengan wanita lain di luar sana!" tuduh Lia. Suaranya mulai terdengar bergetar.


"Tidak, sayang!" bantah dokter Adi.


"Dulu saja kamu mencampakkan aku dengan mudah!" sindir Lia.


"Kamu mengungkit masalah itu lagi!" ucap dokter Adi.


"Apa karena aku mantan pasien gangguan jiwa makanya semudah itu kamu mencampakkan aku dan sekarang setelah hidup terpisah dengan mudahnya kamu melupakan aku!" Bersamaan dengan ucapannya itu, tangis Lia pun pecah.


"Astaga, Lia!" seru dokter Adi tak percaya kalau Lia akan berkata seperti itu. Dia benar-benar terkejut mendengar ucapan Lia itu.


"Aku tidak pernah sedikitpun memiliki pemikiran seperti itu padamu!" ucap dokter Adi pelan.


"Aku sangat mencintaimu, aku sangat merindukanmu, bahkan aku ingin kamu pulang ke rumah saat ini juga! Kamu tidak tahu seberapa bucinnya aku padamu!" aku dokter Adi.


"Bohong!" seru Lia.


"Aku ini serba salah!" ucap dokter Adi.


"Waktu itu kamu selalu bilang kalau tidak nyaman berada di sisiku, lalu aku membiarkanmu mengambil waktu dan tidak mengganggumu dengan apapun tentang aku, kamu marah seperti itu, menuduhku bermain dengan perempuan lain bahkan bilang kalau aku mencampakkanmu lagi, dan sekarang aku mengungkapkan semua perasaanku padamu, kamu bilang aku berbohong. Aku harus bagaimana padamu, Lia?" lanjutnya. Lia terdiam, ia tidak tahu harus bagaimana merespon ucapan suaminya itu, karena ucapannya benar.


"Apa kamu mau aku menjemputmu sekarang juga?" tanya dokter Adi tiba-tiba. Lia tersentak.

__ADS_1


"I.. ini sudah malam!" ucapnya.


"Aku tidak peduli meskipun ini sudah malam!" seru dokter Adi.


"Kalau aku datang menjemputmu, kamu harus pulang bersamaku!" tambahnya. Jantung Lia berdebar kencang, entah mengapa ia merasa gugup mendengar ucapan suaminya itu.


"Aku jemput kamu sekarang juga, ya!" ucap dokter Adi.


"Tidak! Ini sudah malam!" tolak Lia.


"Lalu aku harus bagaimana sekarang? Aku sudah terlalu merindukanmu!" ungkap dokter Adi. Jantung Lia semakin kuat berdebar hingga membuat dadanya terasa sesak. Ia merasa sangat gugup.


"Kalau begitu, bagaimana kalau besok kita pergi berkencan?" tanya dokter Adi. Jantung Lia seperti berhenti berdetak sejenak.


"Be.. berkencan?" gumam Lia kikuk.


"Iya! Besok aku libur, ayo kita pergi berkencan berdua seharian!" ajak dokter Adi. Meskipun tidak berhadapan langsung dengan dokter Adi tapi wajah Lia memerah, ia tersipu, dan merasa sangat gugup.


"Ee.."


"Kalau kamu menolak ajakanku kali ini, aku tidak akan pernah mengajakmu lagi!" ancam dokter Adi.


"Ba.. baiklah!" ucap Lia akhirnya.


...

__ADS_1


__ADS_2