
Ardo mencengkram kerah pakaian dokter Adi itu dengan lebih kuat lagi hingga membuat dokter Adi sedikit kesulitan bernafas.
"Anda pikir, anda saja yang punya masalah di hidup ini?" ucap Ardo.
"Anda seorang dokter, tidak sepatutnya anda meninggalkan pasien anda hanya untuk masalah pribadi anda!" tambahnya. Ia menatap dokter Adi dengan tajam seakan mencoba untuk mengintimidasi dokter Adi.
"Anda bukan seorang dokter yang bertanggung jawab!" ejek Ardo.
Dokter Adi menghela nafasnya perlahan, ia menggenggam kedua tangan Ardo yang masih mencengkram kerah pakaiannya dan balik menatap Ardo dengan tatapan tegas.
"Kamu benar!" ucap dokter Adi pelan.
"Apa yang kamu ucapkan itu sangat benar! Saya bukan satu-satunya orang yang memiliki masalah dalam hidup ini, tapi pernahkan kamu berpikir kalau kamu pun bukan satu-satunya orang yang memiliki masalah dalam kehidupan ini!" lanjut dokter Adi. Ardo tersentak mendengar ucapan dokter Adi itu. Dokter Adi menarik tangan Ardo perlahan hingga akhirnya cengkraman Ardo pada kerahnya itu terlepas.
"Saya memang mendedikasikan sebagian besar dari waktu saya untuk merawat pasien saya, tapi psikiater adalah pekerjaan saya." ungkap dokter Adi.
"Saya tidak sedang meninggalkan pekerjaan dan semua tanggung jawab saya, saya hanya mengambil sedikit jeda untuk bisa menghadapi masalah pribadi saya!" terang dokter Adi.
"Dan sekarang kamu lihat sendiri! Saya kembali untuk mengambil tanggung jawab itu lagi!" serunya. Dokter Adi terlihat sedikit emosional dan hal itu membuat Ardo yang semula terlihat sangat garang sedikit melunak.
"Apa yang saya rasakan saat ini sama seperti apa yang kamu rasakan beberapa tahun yang lalu!" ungkap dokter Adi. Sekali lagi Ardo tersentak mendengar ucapan dokter Adi.
__ADS_1
"Kamu saja bisa melakukan semuanya di masa lalu, apa saya tidak boleh mengambil sedikit waktu untuk diri saya sendiri?" tanya dokter Adi. Keadaan berbalik, sekarang dokter Adi-lah yang terlihat mengintimidasi Ardo.
"Kalau kamu memang merasa kalau saya bukan dokter yang baik untukmu, kamu bisa mengajukan pergantian dokter dan saya tidak akan memberatkanmu!" tegas dokter Adi.
...
Lia bangkit dan duduk di pinggir ranjangnya. Sejenak ia hanya terdiam sambil memegangi dadanya, jantungnya masih berdebar tak karuan akibat dari perlakuan dokter Adi padanya tadi.
"Aargh!" serunya kesal. Lia mengusap-usap dadanya agar detak jantungnya normal kembali. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan... langkahnya terhenti sejenak, tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam benaknya.
"Dia pasti pergi cukup lama kan?!" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Ini saatnya aku mencari tahu!" gumam Lia. Ia terlihat sangat antusias.
Lia beralih pada setiap laci yang ada di meja itu, ia memeriksanya dengat teliti satu persatu. Banyak sekali berkas-berkas pekerjaan dokter Adi di setiap lacinya. Akhirnya Lia tiba pada laci terakhir, satu-satunya laci yang memiliki kunci. Lia menarik laci itu dengan cepat, tapi ternyata laci itu terkunci. Lia memutar kunci yang tergantung di laci itu. Jantungnya mulai berdebar-debar tak karuan ketika ia berhasil membuka kunci laci itu.
Lia menghela nafasnya perlahan sebelum ia membuka laci yang terlihat seperti menyimpan sesuatu yang dirahasiakan karena itu satu-satunya laci yang terkunci, yah.. meskipun kunci laci tersebut ada di situ. Lia membukanya perlahan, tampak beberapa berkas pekerjaan dokter Adi di laci itu. Lia mengeluarkannya untuk melihat apa lagi yang ada di dalam laci itu.
Akhirnya Lia menemukan sesuatu. Sebuah bingkai foto berukuran sedang ada di dalam laci itu. Bingkai foto itu sudah terlihat sedikit kusam, seperti barang yang berumur cukup tua. Bingkai itu berada dalam posisi terbalik dan perlahan Lia membalikkannya. Lia memperhatikan foto yang ada di dalam bingkai tersebut, sebuah foto bersama kumpulan dokter dan perawat di sebuah rumah sakit. Jantung Lia seperti berhenti berdetak sejenak lalu kemudian jantungnya berdebar dengan sangat kencang.
"I... ini bukannya?" gumamnya pelan. Terlihat pada foto itu dokter Adi berdiri berdekatan dengan suster Rina, mereka tersenyum lebar di foto itu dan terlihat sangat bahagia. Melihat senyuman pada wajah mereka membuat jantung Lia berdebar semakin kencang.
__ADS_1
"Hmm!" Dengus Lia, ia tampak tidak nyaman melihat foto itu.
"Jadi mereka bekerja dalam lingkungan yang sama?" tanya Lia dalam hati.
"Aduh!" Lia meringis kesakitan, rasa sakit tiba-tiba menyerang kepalanya. Lia memegangi kepalanya itu sambil sesekali mengusap keningnya. Ia menyandarkan kepalanya sejenak di kursi kerja suaminya.
"Ting.. tong!" Lia tersentak mendengar suara bell rumahnya berbunyi. Ia segera merapikan berkas-berkas dan bingkai foto milik dokter Adi itu dan memasukkannya kembali ke dalam laci. Ia takut kalau dokter Adi yang menekan bell tersebut.
Lia beranjak dari tempatnya dan segera berjalan menuju pintu utama rumahnya untuk menemui orang yang menekan bell itu. Sebelum membukakan pintu, Lia mengintip dari balik jendela untuk melihat siapa yang bertamu ke rumahnya itu.
"Siapa dia?" tanya Lia dalam hati begitu mengetahui kalau seorang wanita muda berambut ikal dan mengenakan seragam Sekolah Menengah Atas (SMA) berdiri di balik pintu utama rumahnya.
Lia membukakan pintu utama rumahnya itu dan menemui wanita muda tersebut.
"Hai tante!" sapa wanita muda itu.
"Ha.. hai!" sahut Lia kikuk.
"Maaf, kamu siapa ya?" tanya Lia pelan. Wanita itu menatap Lia sejenak tapi kemudian ia tersenyum manis pada Lia.
"Aku Dina, tante! Aku anaknya suster Rina." ucap wanita itu memperkenalkan dirinya. Mendengar nama suster Rina disebut, membuat jantung Lia kembali berdebar dengan kencang.
__ADS_1
"Suster Rina?" gumam Lia pelan. Perasaan dalam diri Lia mulai bercampur aduk.
...