
"Bimo, maksud kakak mu apa? kok kalian kayak, ada rahasia? coba katakan sama bunda"
"Oh tidak ada bunda, adek tidak ada rahasia, percaya deh, adek tidur dulu ya, tapi sebelum nya adek, beresin mainan dulu" kilahnya.
Buk Salmah, yang melihat perubahan anaknya, malah kaget, "Biasanya, habis main mana mau dia beresin, sekarang begitu cekatan ni anak beresin mainannya sendiri.
Wah perubahan yang luar biasa nih" batinnya.
Habis membereskan mainannya, Bimo langsung masuk tidur, dia takut bundanya, tanya lagi.
"Ada apa bun? kok bengong gitu?" tanya suaminya.
"Eh, ayah, bunda lagi perhatikan Bimo tak biasanya dia beresin mainannya, terus tadi, habis debat ama kakaknya, kayaknya ada yang mereka sembunyikan deh, bunda jadi penasaran"
"Biarin saja selagi itu positif bun, sesekali memang ini anak harus di didik keras, terus dari mana dia belajar sudah suka cewek? ngompol aja masih di celana" gerutunya.
"Buk Salmah hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya, "begitu-begitu, anakmu yah"
"Iya bun, tapi kok genit sih, bunda kan pas ngidam Bimo, tidak pernah genit, tapi kok kebalik ya?" ujarnya, tanpa pak Arif ketahui, istrinya sudah keluar tanduk, sangat marah.
"Ayah! ulangi lagi ucapan genit itu, ayah siapin tikar tidur di luar!" ketusnya, sambil berkacak pinggang.
"Bunda sayang, maaf, ayah salah bicara, kilahnya langsung kabur meninggal kan istrinya, yang masih di ruang tengah, sambil mengecek seluruh pintu terkunci.
Setelah buk salmah masuk ke kamar sudah melihat suaminya tidur pulas.
"Huh, dasar anak sama ayahnya sama menyebalkan!" menggerutu sendiri, sambil merangkak ke atas kasur.
Kadang ada aja perdebatan kecil yang terjadi, tapi suamiku yang paling sabar, kalo aku udah marah, langsung kabur meniggalkan ku.
Akhirnya buk Salmah juga tertidur pulas, dengan damai, anak-anak masih libur, terasa ikut libur juga, bebas mengerjakan pekerjaan rumah juga.
***
Suara sapu lidi pagi-pagi sudah terdengar, buk Salmah kira Riska lah yang menyapu, karena bangun kesiangan jadi tidak tau aktivitas ke dua anaknya, karena buk Salmah lagi berhalangan.
Sesampainya di teras rumah, melihat Bimo yang menyapu, dan menyiram tanaman dan juga bunga.
sedangkan Riska menyapu dan mengepel di dalam rumah.
Pak Arif yang melihat istrinya bagun langsung bertanya.
"Bunda, ada apa?" tanya suaminya.
"lihat, anakku begitu rajin" sanjungnya.
Riska yang mendengar perkataan bundanya langsung mengingatkan.
__ADS_1
"Jangan di ganggu atau di bantu bunda, kami sudah sepakat mengerjakan, pekerjaan rumah" sela Riska.
Tentu ayah sama bunda nya kaget.
"Apa kalian ada masalah?" tanya pak Arif"
"Tentu saja tidak, tapi aku akan mengendalikan Bimo, dan mengajarkan mandiri, bunda sama ayah tenang aja, pokoknya jangan tegur dan tanyakan, biarkan adek mengerjakan nya" pesan Riska.
Bunga dan halaman semua sudah di siram, Bimo istirahat di pinggir teras dengan keringat bercucuran.
"Huh, aku terjebak dalam Perjanjian ini, tapi tidak apa, demi Ruhi ku tersayang, akan aku lakukan, apa pun agar aku tetap bisa melihat senyum indah mu" gumamnya.
Tampa dia sadari kakaknya mendengar ucapannya.
"Sudah selesai belum dek?"
"Iss, kakak ini bikin kaget aja" sahut Bimo yang benar-benar kaget, dengan pertanyaan kakaknya yang tiba-tiba.
"Udah!" jawabnya ketus.
"Kerja itu harus ikhlas, biar berkah apa pun yang di impikan" ledeknya, Riska menahan senyum.
"Iya kakak ku tersayang, tercantik sedunia" ujarnya, sambil menahan kekesalan.
Riska masuk meniggalkan Bimo yang cemberut, sementara ayah dan bundanya, heran dengan Bimo yang penurut.
"Iya, bunda, ada apa?"
"Itu adikmu sebenarnya kenapa,kok bisa jinak gitu sama kamu? coba jelaskan!"
Hihihi, Riska hanya terkekeh mendengar pertanyaan bundanya.
"Tapi janji bunda tidak akan bahas sama Bimo ya? karena dengan cara inilah, aku bisa mengatur dia bunda" "Ya ya cepat" ucap bundanya tak sabar.
"Seperti biasa anak laki-laki bunda itu, sok keren, tebar pesona terus dia, huh kemaren di taman dia pergi mendekati gadis kecil yang cantik, tapi dia pergi minta ijin dulu sama papa mamanya gadis kecil itu, baru dia berkenalan sam anak kecil itu, dan mereka main bersama.
"Haha keren ya putraku, yah" melihat muka suaminya tak bersahabat, buk Salmah lalu diam.
"Aku mengancamnya, kalo tidak ikuti perjanjian yang aku buat, akan aku adukan sama ayah, biar di kirim ke pesantren, agar tidak bertemu dengan Ruhi dan Ana, ingat ayah sama bunda jagan pernah singgung tentang perubahannya, biar dia belajar mandiri walau terpaksa"
"Ok kak, lanjutkan saja misi mu" perintah ayahnya.
Melihat anaknya lelah begitu, buk Salmah tak tega pada anaknya, dan ingin menghampirinya, tapi suaminya sudah menatapnya tajam.
"Hukuman buat putramu, bun, awas jangan pernah di bantu, biar itu jadi urusannya dengan kakaknya" buk Salmah yang mendengar suaminya bicara begitu hanya mencebikkan bibirnya.
Pura-pura pak Arif duduk di teras, "Adek lagi apa, pagi-pagi sudah di halaman, biasanya masih tidur" sindir ayahnya.
__ADS_1
"Adek lagi bantuin kakak yah, kami bagi tugas, mumpung libur" kilahnya, dia kira ayahnya tak tau perjanjiannya sama kakaknya itu.
"Oh bagus itu bisa mengajar kan adek mandiri dari kecil"
"Iya ayah" jawab Bimo.
"Ayah, kalo adek suka cewek, boleh nggak?" Bimo pelan-pelan bertanya.
"Tidak boleh, kalo adek lakukan sebelum lulus sekolah menengah atas, mulai sekarang ayah akan bawa kamu masuk pesantren" tegas ayahnya, membuat Bimo takut.
"I iya ayah" ujarnya.
"Kalo udah selesai, adek mandi sana" perintah ayahnya.
"Adek kenapa, mukanya di tekuk gitu?" tanya bundanya, di jawab, gelengan kepala sma Bimo.
"Buruan sana siap-siap, kita sepedaan, keliling komplek" teriak kakaknya, Bimo langsung berbinar.
Riska dan Bimo keliling komplek, beberapa kali, dan matanya tertuju, pada gadis pujaannya, yang lagi beli permen kapas.
Dia pun ingin beli tapi dia tidak punya uang, Riska yang ngerti adiknya mau, langsung dia kasih uang, dan Bimo menyambutnya dengan senang.
Tapi sebelum dia sampai, Ruhi sudah masuk ke rumahnya.
"Huh aku telat" lirihnya pelan.
"Sejak kapan kakak tau Ruhi tinggal di komplek sini juga?" tanya Bimo. Sudah lama, Ruhi adiknya teman kelas kakak" ucapnya santai.
"Ingat perjanjian kita, kalo kamu melanggar, kakak akan suruh teman ku, mencarikan Ruhi pacar" ancam Riska.
"Tidak kak, adek janji, akan patuh sama kakak, dan perjanjian kita" ucapnya sambil makan permen kapasnya.
"Ok aku pegang ucapan mu" ucapnya sambil berjabat tangan.
Bimo langsung pulang dengan hati riang bersama kakaknya.
Sedangkan papanya jessica, masih murka dengan kelakuan anaknya, mamanya selalu menangis, khawatir akan hidup anaknya di luar sana, sebenarnya kecewa juga, setelah melihat kelakuan, anaknya di video rekaman itu.
"kamu tak becus ngurus anak satu saja! cuma satu malah jadi wanita murahan! itu akibat kamu memanjakannya!" geram suaminya.
Buk Tari hanya menangis tak berani melawan lagi.
"Jika kamu masih ngotot bela anakmu,kamu ikuti ke luar sana sama anakmu, dengan mudah aku akan mencari pengganti kalian yang lebih berguna!" ucapnya tersenyum miring.
"Papa tega demi harta, papa begini" balas istrinya sambil menangis.
"Terserah sekali kalian keluar, selamnya kalian tidak akan bisa kembali ke sini lagi!" camkan itu tunjuk pak Bayu pada istrinya buk Tari.
__ADS_1
BERSAMBUNG...