CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
KALAH SEBELUM WAKTUNYA.


__ADS_3

Reno saling mengejar sama sahabatnya sehingga membuat teman-temannya yang lain iri dengan persahabatan mereka, Reno yang terkenal dingin pada orang lain, tapi tidak pada orang-orang terdekatnya.


Tara yang melihatnya, yang begitu bahagia semakin iri.


"Begitu banyak kebahagiaan mu, tak bisakah kau memberiku satu saja? segalanya sudah kamu miliki tapi tidak dengan ku, kenapa kita harus mencintai wanita yang sama? bahkan kau lebih dulu menyukainya, aku benar-benar kalah sebelum waktunya" gumam Tara menyadari kekalahannya, sambil memandang Reno yang masih kejar-kejaran bersama sahabatnya.


Dengan menghembuskan nafas kasar Tara langsung pulang membawa luka hatinya.


Dari arah jauh Tara melihat Riska berpisah bersama sahabatnya di persimpangan, Tara pun langsung mengejarnya.


"Ini lah kesempatan ku, berhasil atau tidak, aku harus mencobanya, setidaknya dia menganggap ku menjadi teman, itu sudah cukup" gumamnya sambil mengejar.


Riska yang asyik mengayuh sepedanya dengan pelan sambil mendengar kan musik, langsung menoleh saat ada yang memanggilnya.


"Riska! Riska tunggu!"


Betapa kagetnya Riska, melihat Tara yang mengejarnya, Riska langsung mengayuh sepedanya makin kenceng.


"Riska! please.. aku tidak akan macam-macam, aku hanya mau berteman saja, percayalah, aku tahu kamu tidak menyukai ku, dan kau sekarang menyukai Reno" teriak Tara.


Tapi Riska tetap diam, sambil mengayuh sepedanya dengan kencang, sedangkan Tara dengan motornya. saat sudah sampai gerbang rumahnya, Riska memelankan sepedanya.


"Kalau kau sudah tahu, tolong, cukup anggap aku teman saja, itu lebih baik, terima kasih atas semua rasa mu padaku" ujarnya memohon.


"Baiklah, kita teman" sela Tara sambil mengulur kan tangannya, tapi Riska hanya menyatu kedua tangannya ke atas.


Dengan tersenyum kecut Tara menarik uluran tangannya, lalu menarik napasnya yang terdalam dan menghembuskannya dengan kasar.


"Baik aku terima, aku akui.., aku sudah kalah jauh darinya, Reno..bahkan lebih dulu menyukaimu dari pada aku, terima kasih sudah menganggap ku teman" lirihnya sambil tersenyum kecil, lalu melajukan motornya, pergi dari hadapan Riska.


"Huh, akhirnya pergi juga, maaf hatiku cuman satu, cuma buat Reno" gumamnya, lalu masuk halaman rumahnya.


Terlihat di teras sudah ada bundanya dengan adiknya lagi main dan bunda lagi main ponsel.

__ADS_1


Riska dengan semangat mengucapkan salam, lalu di jawab pula oleh bundanya, sambil Riska mencium tangan bundanya.


"Siapa laki-laki di depan tadi kak? jangan pernah coba-coba mempermainkan hati seseorang, sementara kau tahu, laki-laki yang tulus sudah menantimu sejak dulu" buk Salmah berusaha menasehati anaknya.


"Aku tahu bunda, makanya aku tak meladeninya, dia teman satu sekolah juga, anak komplek depan sana, Reno pun tahu aku tidak menyukainya, bunda tenang saja, bukan hati Reno yang akan terluka jika aku begitu, tapi hati ke dua orang tuanya juga akan terluka" terang Riska.


"Bukan hanya mereka, ayah dan bunda termasuk Bimo juga akan terluka, baguslah jika kau paham itu, karena orang yang tulus menantimu dari kamu masih sagat kecil sampai tiba waktunya nanti dia cuma Reno, cinta sejati yang dia berikan, akan membuatmu selalu bahagia, sampai kamu menua nanti, kami akan rela melepas mu hanya pada lelaki yang tulus,dan sungguh-sungguh mencintaimu nak, tanpa ada kekerasan" ujarnya sambil menatap mata anaknya dengan teduh, sedangkan Riska sudah berkaca-kaca.


"Aku akan berusaha semampuku bunda, tidak akan pernah menyakiti kalian, hiks hiks" selanya sambil sesenggukan. Buk Salmah mengusap lembut kepala putrinya dengan sayang.


"Cepat masuk sana, ayahmu sebentar lagi pulang, nanti di kira ada apa-apa lihat kamu sedih" perintah buk Salmah.


"Ingat jagan dekati laki-laki tadi itu, meski dia bilang mau berteman dengan mu, teman cukup di lingkungan sekolah saja, laki-laki dan perempuan tak boleh berteman, apa lagi jika sudah ada yang mengikatnya" ujarnya mengingatkan lagi.


"Baik bunda, tadi aku pun bilang begitu, cuman sebatas teman saja, karena dia sudah mengaku, sudah kalah jauh dari Reno" terangnya, dan bundanya cuma manggut-manggut saja.


***


Anton heran melihat papanya berada di rumah jam segitu, biasanya akan sibuk terus di kantornya, tetapi merasa senang juga karena melihat papanya ada di rumah saat dia pulang sekolah.


Sehabis salam pada papanya, Anton langsung duduk, sementara mamanya, sekarang lagi ada perjalanan bisnis keluar negeri, mereka jarang bertemu atau pun berkumpul, layaknya keluarga.


"Bagaimana sekolah mu tadi Anton?" tanya pak Bagas perhatian, sambil menyeruput teh hangatnya.


"Baik pah, tadi ada pelajaran olahraga juga, kami main basket di sekolah" ceritanya dengan sopan.


"Bagus, apa kamu sudah bertemu dengan bundanya temanmu itu?"


"Sudah pah, sudah Anton sampaikan juga ucapan terima kasih papa" sahut Anton antusias.


"Ok, kau boleh berteman dengan Bimo, papa yakin dia anak baik"


"Sungguh pah, terima kasih" ujarnya begitu bahagia.

__ADS_1


Pak Bagas senang melihat anaknya senang, dia sadar anaknya dari bayi kurang perhatian dan kasih sayang, berteman dengan anaknya Salmah yang baik, tentu Anton juga akan tumbuh menjadi baik dan ceria.


"Ingin rasanya menghabiskan waktu bersama istri ku dan juga anak ku, tapi nyatanya istriku lebih sibuk, akan kariernya, apa sebenarnya yang dia kejar selama ini, aku tak pernah cari tahu, karena aku percaya padanya, tapi sekarang rasanya sudah kelewat batas, dia semakin mengabaikan tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu" gumamnya sambil memandang senyum anaknya, karena di kasih berteman dengan Bimo.


Pak Bagas menghela nafasnya dengan kasar, sungguh frustasi dengan rumah tangganya yang entah arahnya kemana.


"Anton, besok minggu kita main sepeda yuk! kamu bangun pagi-pagi seperti biasa, kita keliling taman" ajaknya ingin sesekali menghabiskan waktu bersama anaknya.


Anton yang mendengar papanya mengajaknya main sepeda begitu kaget dan bahagia, karena biasanya hari minggu pun papanya sibuk bekerja dan bekerja, seperti mamanya juga.


"Sungguh pah? hore.. hore.. pasti sangat menyenangkan pah, terima kasih pah, paman budi! paman budi!" teriaknya.


Pak budi yang kaget di panggil tiba-tiba, dia kira Anton di marahi papanya seperti biasa, langsung lari tergopoh-gopoh.


"Ada apa den?" tanya pak budi penasaran.


"Besok, papa ajak aku main sepeda ke taman" ujarnya antusias.


"Sungguh..!"


"Tentu saja, aku akan bangun pagi-pagi besok, aku akan suruh mbok Darmi dulu besok bangunin aku" ujarnya sambil berlari ke dapur mencari pengasuhnya.


"Mbok! mbok! tolong bangun kan aku besok pagi-pagi, aku akan pergi bersepeda bersama papa" ucapan tanpa jeda.


Mbok Darmi asisten rumah tangga kepercayaan pak Bagas, sekaligus orang yang merawat Anton dari bayi hingga besar, begitu senang melihat Anton bahagia.


Benarkah? tentu mbok tidak akan lupa, mbok akan buatkan bekal juga untuk kalian makan di taman, ok!"


"Ok, mbok, ingat ya, dan buatkan bekalnya yang enak" pintanya antusias.


Pak Bagas yang melihat anak bahagia juga ikut bahagia, "Ternyata dia sudah cukup lama menanti momen ini, ternyata sesederhana itu kah untuk bahagia? maafkan papa nak tidak pernah melihat sedih mu karena kesibukan ku" gumamnya dengan sendu.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2