
Reno gelisah karena tak melihat Riska dan sahabatnya, hampir istirahat selesai mereka juga tak kunjung datang.
"Riko.. telpon Mia, mereka di mana sih? Riska juga belum makan siang" ujarnya ketar ketir.
Dengan cueknya Riko terus menghabiskan makanannya, karena sudah tahu para cewek lagi merajuk, dan artinya tak bisa di ganggu.
"Riko!" teriak Reno.
"Apa sih? sudah aku bilang, jagan ganggu kalau cewek lagi marah, biarkan dia tenang dulu, nanti kalau udah baikan dia sendiri yang datang nyamperin" jelasnya, tapi Reno malah pergi meninggalkan mereka.
"Reno! Reno! kau mau kemana?" teriak Beny. "Cari Riska" sahutnya singkat lalu pergi begitu saja.
"Huh.. susah di bilangin tuh anak, terserah deh" sela Riko.
Reno pun mencari Riska ke kelasnya tapi tidak ada, dan menanyakan pada teman-temannya yang lain keberadaan Riska dan sahabatnya, setelah Reno tahu Riska di perpustakaan, dia langsung kesana, dan benar saja Riska lagi asyik dan begitu fokus dengan buku-buku yang dia baca, dengan pelan Reno duduk di sebelahnya.
"Kenapa kau melewatkan makan siang mu cantik, nanti kamu sakit" tegur Reno dengan pelan, sambil duduk.
Riska yang tak menyadari kedatangan Reno sangat kaget, saat Reno tiba-tiba duduk dan langsung bicara, "Astaga.. kau mengagetkan aku Ren!" teriaknya sambil memegang dadanya.
"Maaf sayang aku tak sengaja" sesal Reno
"Ada apa kamu mencari ku kesini?" kesalnya.
"Apa kau tak lapar? aku menunggu mu lama di kantin, tapi kamu sama sekali tak keliatan, makanya aku cari ke sini, sebelumnya aku mencari mu ke dalam kelasmu, tapi kamu tidak ada, apa kamu marah tentang tadi pagi?"
"Hah? tidak sama sekali" selanya dengan sedikit kaget, "Terus kenapa kamu seakan menghindari ku?" tanya Reno sedih.
"Kau sangat berlebihan, aku sama sekali tidak marah, sungguh!" sambil mengangkat dua jarinya meyakinkan Reno.
"kenapa kamu berdiam di sini, dan tidak ke kantin menemui ku?"
Dengan kesal Riska menjelaskan lagi, "Huh.. sayang kau terlalu bawel hari ini, apa ada pekerjaan mu di kantor tidak bisa terselesaikan? aku baik-baik saja, aku kesini karena ada pelajaran yang tidak aku mengerti, jadi aku mencari buku ini" tunjuknya pada buku yang dia baca.
__ADS_1
"Hehe! maafin aku cantik, em.. dan aku senang kamu memanggil ku sayang" ucapnya bahagia.
Riska merapikan semua bukunya, dan memanggil sahabatnya, serta mengajak Reno keluar dari perpustakaan.
"Ayo kita keluar, sebentar lagi bel masuk, nanti apa kau langsung kerja lagi?"
"Tentu cantik, aku akan berjuang lebih keras dari sekarang, untuk masa depan kita" bisik Reno sambil berdiri di dekat Riska agar tak ada temannya yang mendengarnya, sehingga membuat Riska tersenyum malu.
"Hem, ya, kau harus bekerja keras, jangan andalkan orang tua, aku tidak mau punya suami anak mama" gumamnya, dan langsung meningal kan Reno, tapi dengan langkah cepat Reno mengejarnya.
Dengan senyuman mengembang jalan bersama di sepanjang koridor sekolah menuju kelasnya, banyak teman-temannya yang iri, akan kedekatan mereka, Tara pun di ujung koridor hanya melihatnya dengan perasaan sedih.
Reno dan Riska lalu berpisah di depan kelas menuju kelas masing-masing, Beny dan Riko yang melihat Reno masuk dengan wajah yang ceria jadi merasa heran.
"Bro, kau habis dari mana? kami tunggu-tunggu di kantin tak ada nongol lagi" tanya Beny.
Reno yang di tanya hanya cengengesan lalu duduk di bangkunya, "Kan aku bilang, mau cari yayang ku, kenapa malah pura-pura tidak tahu aku kemana?"
"Ren.. kok Jessica tak kelihatan lagi di sekolah, apa dia pindah sekolah ya?" tanya Beny, membuat Riko dan Reno heran.
Dengan kesal Beny bangun langsung meninju bahu Reno, "Kampret lo, cuma nanya doang di kira suka, tetap adik Rani lah di hatiku, kalian mau aku di dor dor sama papanya hah? udak berani bilang sama papanya malah mau ngejar cewek lain" keluhnya dengan penuh kekesalan.
Kedua sahabatnya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresinya, yang ketakutan pada calon mertuanya. "Haha! sabar kawan, kami bantu do'ain kok" sahut Riko.
"Tentunya dengan usaha dong" timpal Reno, dan di anggukkan oleh Beny.
Pelajaran pun berlangsung mereka mengikutinya dengan khusuk sampai bel pulang sekolah.
"Ren.. apa kau masih sibuk?" tanya Riko. Reno yang di tanya langsung tanya balik, "Apa ada yang bisa aku bantu?"
Dengan ragu-ragu Riko membalas dengan senyuman, "Apa ada lowongan di kantor mu untuk paruh waktu?" tanya dengan cengengesan.
Reno bukannya menjawab malah bertanya balik, "Untuk apa?"
__ADS_1
"Tentu saja untuk ku, aku hanya ingin mandiri saja, sekalian belajar bisnis, aku tidak mau menjadi dokter seperti keinginan ayahku" keluhnya.
"Bukannya aku tak mau bantu, tapi aku sudah janji sama om, untuk menasehati mu, dan tidak memberikan pekerjaan padamu, coba lah keinginan om, jika nanti kamu benar-benar tak mampu lagi, bicarakan baik-baik dan berhenti. Lihat aku, awalnya aku tolak semua permintaan papa ku karena tidak sesuai keinginan ku, tapi tanpa aku sadari semua ini untuk kebaikan ku sendiri, dan sekarang aku menikmati pekerjaan ini dengan senang hati" nasehatnya panjang lebar pada sahabatnya.
"Lihat aku juga kawan hal yang tidak aku sukai, malah menuntut semua dalam hidupku, dan sekarang aku mulai menyukainya, coba lah dulu, apa pun selama hal yang positif, cobalah, tak mungkin orang tua menjerumuskan kita" timpal Beny.
Riko menunduk dan terlihat berpikir dengan keputusan yang akan dia ambil, mengangkat kepalanya dengan perlahan dan tersenyum kecil, "Baiklah akan aku coba!" jawabnya.
"Nah, begitu dong, kelak dimasa depan, kau akan menjadi dokter pribadi kita" puji Reno, dan di iya kan juga oleh Beny.
"Ya betul banget, dokter Riko prayoga, akan menjadi dokter pribadi kita di masa depan" ujarnya memberi semangat sambil merangkul bahu Riko dan sama-sama keluar kelas.
***
Bimo dan Anton semakin akrab, mereka selalu bersama-sama, tak pernah berjauhan, Bimo yang kocak dan Anton sedikit pendiam, tapi tak membuat Bimo bosan, ada saja caranya membuat Anton ikut tersenyum.
Pas pulang sekolah, mereka sudah di tunggu oleh para orang tua mereka, Anton di jemput kedua orang tuanya, sedang kan Bimo oleh bundanya seperti biasanya, tapi sedikit terlambat.
Anton melihat kedua orang tuanya sungguh senang, dia mengajak Bimo berlari bersama.
"Sayang hati-hati, nanti jatuh!" teriaknya, ikut berlari menyambut anaknya.
Datang lah buk Salmah setelah Bimo keluar lalu menghampirinya.
"Bunda! tumben telat" tanya Bimo.
"Maaf, tadi ban motor bunda bocor, jadi mampir dulu ke bengkel" ujarnya.
Bagas melihat buk Salmah begitu senang, dan memanggil istrinya untuk mempertahankan. "Sayang ayo kenalin bundanya Bimo, sekali gus calon mertuanya Reno" tunjuknya pada istrinya.
Baru saja buk Salmah dan Bimo mau pergi langsung di panggil oleh pak Bagas, "Buk Salmah! tunggu sebentar!" teriaknya sambil menghampiri mereka bersama anak dan istrinya.
Buk Salmah yang di panggil pun berhenti, "Pak Bagas ada apa ya?"
__ADS_1
"Oh itu.. saya mau mengucapkan terima kasih, berkat saya gabung dengan keluarga kalian kemarin, saya jadi bertemu Reno, dan kenalin ini istri saya, mamanya Anton" ucap pak Bagas, mereka pun berkenalan satu sama lain, berbincang sebentar lalu mereka pun berpisah menuju rumah masing-masing.
BERSAMBUNG..