CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
SANGAT BERSYUKUR.


__ADS_3

Pulangnya Reno dari rumah Riska membuat dia sangat bersyukur, bahwa semua keluarganya mendukungnya.


"Sebentar lagi kita lulus sekolah, aku ingin segera menikah saja" gumamnya tersenyum.


Sambil mengendarai Reno menelpon para sahabatnya untuk bertemu di cafe biasanya, karena posisi Riko dan Beny dekat, jadi mereka duluan datang kesana.


Terlihat dari jauh, kedua sahabatnya sudah menunggu.


"Wah.. senyumnya merekah, seperti baru dapat hadiah" goda Beny.


"Ya, cepat duduk, ceritakan apa yang sudah terjadi" timpal Riko, tapi Reno tetap diam sambil tersenyum lebar.


"Haha! kalian sangat kepo banget sih? kayak emak-emak komplek saja" ledeknya membuat Beny dan Riko mendengus.


"Ya sudah! tidak usah cerita-cerita, pendam saja sendiri dalam hatimu" gerutu Beny.


"Haha! kalian sangat lucu, ayo cepat pesan makanan saja, biar ada tenga menggerutu" ajaknya.


"Huh! bilang saja yang lapar itu kamu, bukan kita! bukankah kamu habis ada acara di rumah mu?" ledek Riko.


"Ayolah kalian bawel banget, aku benar-benar lapar ini, tadi di rumah aku sibuk mengerjakan pekerjaan ku, Riska dan semuanya sih pada asyik makan-makan" ceritanya.


"Haha! kasihan sekali kamu, jangan bilang kamu di abaikan di rumahmu sendiri karena ada calon istrimu" tebak Beny, membuat Reno terdiam.


"Haha! aku benar kan? Riko! lihat wajahnya, benar-benar kasihan" Beny makin meledeknya.


"Ya, ya terus lah kalian ledek aku, aku akan meninggalkan kalian setelah aku kenyang!" ancamnya.


Reno langsung memesan tiga macam makanan dan minuman kesukaannya, begitu pun dengan Riko dan Beny, dengan santai Reno mendengar celoteh sahabatnya.


setelah makanan datang dia langsung menyantapnya, tampa perduli ledekan sahabatnya.


"Lihat saja, aku akan tinggalkan kalian saat aku kenyang" batinnya sambil tersenyum kecil.


Seperti yang di rencana kan Reno, tampa Beny dan Riko tahu niatnya.


Reno langsung berdiri, "Maaf kawan, ke toilet sebentar" pamitnya sambil meninggalkan mereka, dengan cepat Reno berbalik arah menuju pintu keluar dengan senyum kemenangan.


Dua puluh menit berlalu Reno pun tak ada kembali membuat Beny dan Riko saling tanya.


"Beny.. kemana sih Reno? apa dia pingsan di kamar mandi?"


"Mana aku tahu! kita kan sama-sama di sini" sahut Beny.

__ADS_1


"Tunggu lah di sini, aku lihat Reno dulu, siapa tahu dia kenapa-kenapa!" ucap Riko khawatir.


Riko pun menuju ke toilet mencari keberadaan Reno tapi tidak ad, Riko langsung kembali ke mejanya dengan wajah herannya.


Beny pun heran dengan kembalinya Riko dengan sendirinya tampa bersama Reno.


"Reno mana? dia tidak ada di sana?" tanya Beny dengan herannya.


"Cepat kau telpon, perasaan ku tak enak nih" gumam Riko melihat piring makanan begitu banyaknya sudah habis.


Dengan cepat Beny menelpon dan langsung tersambung.


"Reno! kamu di mana? kami mencari mu, kenapa lama sekali? apa kamu baik-baik saja?" tanya Beny.


Sementara Reno terkikik geli mendengar pertanyaan sahabatnya.


"Maaf tadi Mang Ujang menelpon ku, kucing ku sakit, kodok ku juga mati, makanya aku langsung pulang" kilahnya menahan tawanya.


"Alasan macam apa itu? kapan kamu punya kucing dan kodok?" sambut Beny.


"Apa kau pulang? apa semua makanan ini sudah di bayar?" tanya Beny dengan frustasi.


"Maaf, aku lupa, bayarlah sekalian milikku" sahutnya tampa dosa.


"Apa! kamu gila Reno! kau sengaja kan? kurang ajar memang kamu ya!" makinya, membuat Reno tertawa sambil menutup ponselnya.


"Reno tunggu!" teriknya, tapi reno dengan cepat mematikan ponselnya, dan tertawa terbahak-bahak sendiri. "Rasain kalian, lagian senangnya meledek aku terus" gumamnya bahagia.


"Sialan! Reno sudah pulang, sekarang kita berdua yang akan membayar makanan ini" gerutu Beny, membuat Riko melongo.


"Kampret! aku kira tadi dia bercanda, saat kita meledeknya bilang akan meninggalkan kita, awas saja besok pagi" ucap Riko mendengus.


"Ayo kita bayar, dan langsung pulang" sela Beny pun dengan kesalnya.


***


Di rumah Riska, bundanya langsung bertanya tentang neneknya Reno karena penasaran.


"Kak! sini cepat, bunda ingin bertanya, bagaimana reaksi neneknya Reno dengan mu? apakah beliau cerewet? atau menyinggung mu?" tanya buk Salmah dengan penasaran.


"Hehe! bunda tanya satu-satu dong! kan kakak bingung" keluhnya manja.


"Hem.. cepat katakan saja, bunda penasaran"

__ADS_1


Dengan jujur Riska menceritakan semuanya yang dia alami di sana dan perlakuan neneknya begitu baik, sehingga betah di sana.


"Syukurlah, mereka menerima mu dengan baik" sela ayah yang susah tidur memikirkan putrinya.


Bimo pun datang berlari dan bercerita, "Ayah! kak reno di marahi bundanya, malah kak Riska yang di sayang oleh mereka semuanya" ceritanya menggebu-gebu.


"Hah! benarkah?" tanya pak Arif dan di iya kan Bimo.


Sementara Riska hanya tersenyum simpul.


"Ayah bersyukur mereka semua menerima mu, sekarang ayah bernafas lega, lulus sekolah kalian mau menikah pun tak apa, ayah akan tenang melepas mu pada keluarga yang begitu baik" ujarnya penuh syukur.


Ucapan ayahnya membuat Riska tersipu, "Ayah kenapa begitu? aku ingin sekolah dulu baru menikah"


"Tak masalah jika kamu menikah, masalah kuliah kau bisa melakukannya setelah menikah" sela bundanya.


"Baiklah, bagaimana baiknya menurut kalian saja, aku menurut saja" ucap Riska pasrah.


"Ya mending begitu sayang, biar kalian lebih leluasa bersama, agar kami juga tak merasa khawatir terus" sela ayahnya.


sedangkan Reno sampai rumahnya begitu bahagia, karena habis menjahili teman-temannya.


"Rasain, lagian pada jahil sih, aku akan menunggu reaksi mereka besok, haha" gumamnya sambil tertawa.


Anton yang melihat kakaknya tertawa langsung menghampirinya dan bertanya, "Kakak, tertawakan siapa, terlihat begitu lucu, bagi-bagi dong kak" rengeknya penasaran.


"Haha! kamu kepo kayak Bimo" ledeknya, sehingga membuat Anton manyun. "Kakak pelit, Anton tidak mau bicara lagi dengan kakak" rajuk nya, sambil meninggal Reno yang senyum sendiri.


"Hey.. mau ke mana? sini temani kakak!" teriak Reno tapi di cuekin Anton. "Yah, tuh bocah ngambek deh, biarin saja deh, hari ini aku terasa lelah sekali" keluhnya.


Reno langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sambil membayangkan senyum Riska yang membuatnya selalu terbayang.


"Lulus sekolah aku pastikan, akan melamarnya, aku tak bisa membiarkannya tampa ikatan" gumamnya bahagia.


Reno melihat ponselnya, ada pesan masuk dari sahabatnya yang lagi marah,


Riko (Siapkan dirimu besok pagi, kami sangat marah padamu).


"Hahaha, nggak kebayang muka kesel mereka, aku sengaja memesan banyak makanan, agar mereka yang bayar" ujarnya bicara sendiri.


"Ternyata mereka sangat marah, dasar cemen, biar kalian kapok" gumamnya tersenyum, lalu melanjutkan istirahatnya, karena tubuhnya merasa sangat letih, lama-lama Reno pun tertidur pulas.


Sedangkan Riska, sampai menjelang magrib menunggu kabar dari Reno tapi tak kunjung ada.

__ADS_1


"Reno kemana ya? tak biasanya dia menghilang, apa dia masih bekerja?" gumamnya resah.


BERSAMBUNG..


__ADS_2