
Sorenya Beny menelpon para sahabatnya untuk mengajak ketemu di cafe biasa tempat mereka nongkrong.
Sampainya di sana Riko sudah datang, sementara Reno sepertinya masih di jalan. Beny langsung mendekati sahabatnya dengan senyum merekah.
Riko yang melihat perubahan Beny menjadi heran, karena dari pagi sampai pulang sekolah dia berubah drastis, pendiam dan cuek.
"Wih.. apa ada yang belum aku tahu? kamu terlihat begitu bahagia!" sindir Riko. Beny lalu duduk sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Maksud kamu apa sih bro" kilahnya pura-pura tak tahu maksud sahabatnya.
"Ok! ok, ceritanya kamu mau membalas? baiklah!" sahut Riko dengan pasrah.
Sementara Reno baru datang, dia melihat dua sahabatnya seperti bicara serius, dia pun penasaran, dengan cepat melangkah ke arah mereka.
Beny dan Riko yang menyadari Reno datang langsung menyapanya.
"Hay Ren.. apa di jalan macet?" tanya Riko basa basi.
__ADS_1
Dengan menghela nafas kasarnya Reno duduk, "Banget! tapi aku bisa meluangkan waktu berbalas pesan bersama yayang tercinta ku" sahutnya, dengan senyum bangga. "Oh iya aku mau tanya, dari tadi aku melihat kalian bicara serius, memangnya apa yang kalian bicarakan?" tanya Reno penasaran.
"Tuh lihat wajahnya begitu ceria, bukan kah dari pagi sampai pulang sekolah tadi siang, dia terus cemberut? tapi dari tadi pas datang dia begitu bahagia" terang Riko, sambil menunjuk Beny dengan lirikan kesalnya.
Reno pun langsung menoleh ke arah Beny, diam tapi tatapannya mengandung pertanyaan, "Hehe! jangan menatap ku seperti itu dong! aku merasa seperti tersangka saja" sahut Beny, sambil nyengir.
"Sepertinya dia mau balas dendam padaku, bro!" sela Riko dengan ketus.
"Benarkah bro? apa kami tidak boleh tahu?" desak Reno.
Terus apa yang terjadi?" sela Riko penasaran. Reno pun meninju bahu Riko "Diam lah, belum juga selesai kamu main potong-potong saja" cibirnya.
"Hehe! maaf bro, aku penasaran" sahutnya.
Beny tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Riko. "Jadi dilanjutkan nggak sih?" tanya Beny
__ADS_1
dan kedua sahabatnya mengangguk antusias.
Beny pun melanjutkan ceritanya, "Aku benar-benar tak percaya, dengan cepat setelah aku ganti pakaian langsung tancap gas ke rumah Rani, sampainya aku di sana, di sambut oleh asisten rumah tangganya dan di suruh duduk di ruang tamu, terdengar sura mereka begitu akrab sambil tertawa lepas, aku pun sangat penasaran, apakah benar yang di dalam itu orang tua ku, setelah beberapa menit menunggu aku di ajak ke ruang tamu oleh asisten rumah tangganya, dan betapa kagetnya aku, yang di meja makan itu beneran orang tuaku, aku pun di persilahkan duduk oleh mamanya Rani, dan aku di kasih makan juga" ceritanya panjang lebar.
"Terus!" sela Riko, "Besok aku di suruh datang berlatih ke rumah Rani, di bimbing langsung oleh papanya Rani" jawabnya cengengesan.
"Lalu apa yang buat kamu penasaran?" sela Reno.
"Papa mama ku kenapa bisa akrab gitu? malah kami di sana sampai menjelang sore baru mereka ajak aku pulang, aku juga belajar bersama Rani, sambil menunggu papa mama ku selesai bercengkrama, aku heran saja, kalau bukan sahabat dekat mana mungkin papa bisa seakrab itu, bahkan mereka janjian berkuda dan menembak, karena jarang berlatih bersama, sampai rumah pun aku bertanya, tapi papa dan mama tak menjawab ku, Rani pun aku telpon tapi tak mengangkat telpon ku, mama pun begitu akrab dengan Rani dan mamanya" jelas Beny sambil terlihat berpikir keras, kedua sahabatnya pun terlihat heran.
Sedangkan Riska belajar bersama ayahnya, bertanya banyak hal yang tidak dia mengerti, karena sudah kelas tiga, ayahnya menekan kan, banyak belajar, agar lulus saat ujian sekolah, sementara Bimo pergi bermain ke rumah ilham, sampai sore, bercerita tentang sahabatnya Anton, sehingga saat pulang langsung di hukum ayahnya.
Selesai belajar Riska lalu berbalas pesan dengan Reno, mengabarkan bahwa akan nongkrong bersama dua sahabatnya, Riska pun meng iya kan, sambil menemani Reno yang macet di jalan.
BERSAMBUNG..
__ADS_1