
Riska yang menunggu kabar dari Reno begitu cemas, sedangkan Reno tertidur pulas, dia bangun sudah malam, dan tak enak hati menghubungi Riska atau pun mengirim pesan.
"Tidur lah cantik, selamat malam, besok kita bertemu di sekolah saja" bisiknya pada foto Riska yang ada di layar ponselnya.
Keesokan pagi di sekolah Reno sudah di sambut oleh kedua sahabatnya, mereka masih bertengger di atas motor besar mereka.
Reno yang baru datang ke sekolah, dari jauh sudah melihat kedua sahabatnya, dengan wajah yang berbeda, sehingga membuatnya terkekeh.
"Ternyata mereka sudah menunggu ku, kemarin mereka pasti sangat marah" kekehnya tersenyum mengejek.
Mendekatnya Reno ke pintu gerbang langsung di cegat.
"Apa tak mau kau jelaskan? kenapa kemarin kau menghilang!" sembur Riko, Beny pun mendengus kesal.
"Maksudnya apa sih?" Reno pura-pura tak tahu.
"Nggak usah ngeles lah! katakan saja" sela Beny.
"Hehe! apa sih? ayo kita masuk, sebentar lagi bel berbunyi" kilahnya.
Dari jauh Reno melihat Riska, dan mendapat ide lagi untuk mengerjai sahabatnya. Reno melambaikan tangannya ke arah Riska, agar dia bisa ngeles.
"Reno! ngapain kamu panggil Riska? kau mau cari perlindungan? begitu kah! ingat ya? tak ada maaf buatmu" cibir Riko.
Reno melongo mendengar ancaman sahabatnya, menurutnya sangat lucu. "Haha! tega sekali kamu sayang!" godanya sambil mencolek Riko, tapi tangannya langsung di tepis.
"Sialan lo.. aku masih normal!" semburnya membuat Reno makin terkekeh.
Riska dan sahabatnya yang mendengar Reno seperti itu menjadi geli. "Haha! Reno kamu kenapa?" tanya Mia heran.
"Itu yayang mu tiba-tiba marah" kilahnya.
"Huh.. kau sungguh pintar ya? semua cewek kamu manfaatkan" cibir Beny.
"Ayo pada bubar, kita masuk ayo, bel sudah mau bunyi tuh" sela Riska, membuat Reno senang bebas dari sahabatnya.
Riko dan Beny terus mendelik ke arah Reno, sedangkan Reno langsung mengangkat dua jarinya sebagai permintaan damai, tapi Riko dan Beny mendengus sambil menggelengkan kepala, membuat Reno terkekeh.
"Cantik, maaf semalam aku tidak menghubungi mu, aku ketiduran" bisik Reno pelan di dekat Riska, membuat Riska tersenyum dan mengangguk.
Mereka pun masuk kelas bersama-sama, sedangkan Riko dan Beny terus merajuk pada Reno, tapi
__ADS_1
mereka dengan khusuk mengikuti pelajaran.
Di sekolahan Bimo dan Anton, sangat seru, saat gurunya mengadakan lomba membaca, Bimo di pasangkan dengan cewek bernama Tari, kala Bimo menang, Tari langsung menangis kencang, tak rela Bimo mengalahkannya.
"Hua hua.. Bimo nakal, tidak mau mengalah sama cewek" raungnya sedih.
"Hah! kita kan lagi lomba Tari, bukan main-main" sahut Bimo, tapi Tari tidak terima.
"Aku nggak mau, pokoknya kamu harus kalah" teriaknya, membuat Bimo dan Anton melongo.
"Sudah Tari, kamu anak baik, tidak boleh begitu, karena ini lomba, harus siap siapa pun yang kalah dan menang" nasehat buk gurunya
Tapi Tari tetap menangis, gurunya sungguh kewalahan, menghadapinya karena dia sangat manja
Anton yang melihatnya langsung mendelik kesal, "Diam lah dasar cengeng" cibirnya, Tari makin kencang nangisnya.
Akhirnya Bimo maju dan mendekati Tari, "kenapa kamu menangis saat kalah? kalau kau kalah itu tandanya kamu harus rajin belajar, bukan menyuruh orang menyerah pura-pura kalah, itu namanya tak tahu malu, menangis saja sampai kau capek, tidak akan merubah bahwa kamu kalah" dengus Bimo, membuat Tari langsung terdiam tapi masih terisak sesenggukan.
"Huu.. dasar cemen" sindir teman yang lain sehingga membuatnya makin menangis lagi, dan langsung duduk.
Tari terus terisak dalam diam tapi tak berani bersuara, buk gurunya merasa lega karena Tari tak menangis histeris lagi.
"Sudah lah, biarkan saja Anton" nasehatnya
pelajaran pun berlanjut tampa drama tangis lagi
***
Setelah Reno usai pelajaran, dia langsung meminta maaf pada ke dua sahabatnya karena sudah menjahilinya, dan juga Riska.
Pulang sekolah Reno langsung ke kantor karena pekerjaan sudah menantinya, berkutat dengan pekerjaan yang sudah di sediakan pak Burhan.
Sementara Riko dan Beny mengajak para cewek termasuk Riska untuk nongkrongnya di cafe dekat sekolah, mereka memesan makanan dan minuman masing-masing dan makan bersama.
Tak lupa Riko dan Beny mengunggah kebersamaan mereka di sosial media sosialnya, sengaja membuat Reno panas, untuk membalasnya.
Ting..
Reno yang lagi sibuk di kejutkan bunyi notifikasi di ponselnya, masuk beruntun beberapa kali, langsung dia buka, dan betapa terkejutnya
"Ini apaan sih? dari tadi bunyi terus, anak-anak pada kirim apa ini, kan udah kelar aku minta maaf pada mereka" sungut Reno sedikit kesal.
__ADS_1
Tapi betapa terkejutnya, pas di buka beberapa foto kebersamaan mereka yang lagi makan bersama di unggah Riko, dengan hestek pembalasan yang sempurna, Reno yang melihatnya langsung murka.
"Riko! Beny!" teriaknya frustasi.
Reno langsung menelpon Riko tapi tak aktif, menelpon Beny juga nomernya tak aktif.
Reno melihat berbagai komentar dari beberapa teman-teman yang lain dan saudara mereka, untuk minta berkenalan dengan para cewek, terutama dengan Riska.
Pak Burhan langsung berlari mendengar Reno teriak, di kira ada kejadian buruk.
"Pak Reno ada apa? apa ada yang salah? atau sesuatu yang buruk?" tanya pak Burhan yang melihat Reno memijit pangkal hidungnya.
"Lebih buruk dari apa pun pak" balasnya dengan lesu.
Reno lalu menelpon Riska, beberapa kali barulah di jawab, Riska lalu mencari kursi kosong untuk bicara agar tak di dengar para sahabatnya.
"Cantik kamu di mana? cepat pulang!" bujuknya dengan pelan menahan emosinya.
"Aku di cafe dekat sekolah Ren.. Riko dan Beny memaksa kita, dan mereka juga yang traktir kita" jawab Riska polos.
"Makan mu sudah selesai apa belum?" geramnya dengan tertahan.
"Sudah Ren.. ini aku mau pulang, nanti takutnya ayah sama bunda marah, karena belum ijin"
"Sama aku juga kau belum ijin! malah menerima ajakan Riko dan Beny, aku tidak suka walau pun mereka sahabat ku, tetap saja mereka itu cowok, kalian bukan muhrim! cepat pulang!" perintahnya, dengan masih kesal.
Sementara Riska tercengang dengan perkataan Reno, dan dia menyadari kesalahannya.
"Baik aku pulang sekarang, jangan marah" gumamnya, teman-temannya yang melihat perubahan Riska menjadi tegang karena mereka tak kira ayahnya yang menelpon.
"Huh.. maafkan aku sayang, aku kesal melihat komentar teman dan saudaranya yang lain, yang ingin mengenalmu, aku jadi tak fokus lagi bekerja karena memikirkan mu" keluhnya frustasi, membuat Riska makin bersalah.
"Cepatlah pulang sekarang, hubungi aku setelah kamu sampai rumah, dalam sepuluh menit kamu tak sampai rumah dan tak menelpon ku, aku akan telepon ayah dan bunda" ancam Reno tak bisa di ganggu gugat.
"Baik! baik sayang! jangan marah, aku pulang sekarang, maafkan aku!" mohonnya sambil mengucap salam lalu mengakhiri percakapannya.
Reno di seberang sana langsung tersenyum lega.
Pak Burhan yang melihat sudah ceria jadi geleng-geleng kepala, "Pak Reno, lulus sekolah langsung menikah saja, biar aman" usulnya dan di angguk kan Reno.
BERSAMBUNG..
__ADS_1