CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
KAU MENGENALI KU.


__ADS_3

Anton memanggil papanya untuk berkenalan dengan teman-teman barunya, sedangkan pak bara langsung merasa panas dingin, saat akan bertemu pujaan hatinya.


Saat di luar rumah atau di sekolah dulu selalu di panggil Bagas, tapi kalau dengan keluarga terdekat selalu di panggil Bara.


"Pa..ayo sini kenalkan pada teman-teman baru ku" teriak Anton.


Dengan langkah gontai pak Bagas menghampiri mereka, dengan perasaan gugup tak menentu, ingin rasanya dia berlari dan bersembunyi, karena dari dulu dia tak berani mendekati Salmah, tapi hanya memandangnya dari jauh saja.


"Hay om, kenalkan nama ku Bimo!" dengan senyum kecil, pak Bagas menyalami Bimo.


"Hem.. kenal kan juga nama om, Bagas Barata kusuma" ujarnya memperkenalkan diri dengan gugup.


Semua yang ada di sana bersalaman dan berkenalan, pas giliran menjabat tangan buk Salamah, hatinya berdesir hebat antara gugup dan senang, pertama kali menyentuh kulit perempuan yang dia sukai, "kenalkan, aku...aku Bagas" ucapnya sambil terbata dan salah tingkah.


Sedangkan buk Salamah merasa pernah mendengar nama itu saat sekolah dulu, karena sahabatnya sering meledeknya, dengan mengingat ucapan sahabatnya dulu.


"Salmah! lihatlah, Bagas setiap hari selalu memperhatikan mu, tatapan matanya penuh cinta" goda Hanum sahabatnya, saat berada di kantin sekolah.


"Jangan sok pede deh, dia kan punya mata, bebas melihat segala arah, tundukkan matamu, Hanum!" berusaha menasehati sahabatnya.


"Lihat lah sedikit saja, aku yakin, kau penasaran dengan wajah tampannya, jagan hanya tahu namanya saja" ledeknya, senyum sendiri melirik Bagas, sementara Salmah terus menunduk.


Saat bangun dari kursinya, tak sengaja menatap Bagas, dan pandangan mata mereka beradu sekilas, lalu dengan cepat Salmah menundukkan pandangannya, lamunannya terhenti kala suaminya mengenalkan diri.


"Salam kenal saya ayahnya Bimo, Arif Abraham..semoga anak kita selalu akur, setiap pulang sekolah selalu membicarakan tentang nak Anton, Bimo ini kadang-kadang anaknya pecicilan, suka bikin rusuh kadang bikin orang kesal" balasnya, pak Arif mengenalkan diri dan anaknya.


"Saya maklumi, namanya juga anak kecil, semoga bertambah usia nanti pasti berubah, tapi..sedangkan Anton, dia terlalu pendiam dan kaku, mungkin karena dari kecil tak pernah keluar main, selain sekolah dan belajar, ini pertama kalinya saya mengajaknya keluar" ucap kikuk, dan sedikit sedih.


"Ayo kita sarapan sama-sama, kebetulan istriku bawa bekal banyak, karena kami datang beramai-ramai" ajaknya dengan sopan.


Pak Bagas melirik pak Budi untuk minta pendapat, tapi langsung di angguk kan pak Budi.


Anton begitu ceria berkumpul bersama mereka, pertama kalinya melihat anaknya tertawa lepas dan bahagia. sampai matanya tertuju pada Reno di apit Bimo dan Anton.


Maaf, apakah kamu anaknya Pak Josep Permana kusuma?"


Reno terkesiap mendengar ucapan pak Bagas.

__ADS_1


"Ya om, apa anda mengenal papa saya?" tanya Reno penasaran.


"Ya, siapa sih yang tak kenal dengan beliau orang baik dan sukses, dan saya titip salam pada beliau, karena lama kami tidak bertemu lagi" lirihnya sedih, dan Reno semakin heran, semakin memperhatikan wajahnya semakin mirip dengan papanya.


"Apakah anda paman ku Bara?" Tanya Reno dengan spontan, membuat pak Bagas langsung tersenyum.


"Kau mengenali ku?"


Bukannya menjawab, Reno langsung berdiri lalu menghampirinya dan memeluknya, "Kenapa paman tak pernah bilang kalau sudah pulang, terakhir aku melihatmu dulu, saat aku seusia Anton, itu pun ingatan ku tentangmu sedikit demi sedikit hilang" selanya dengan sedih, dan pak Bagas mengusap punggung Reno dengan sayang.


Semua orang yang ada di sana terkejut dan terharu dengan mereka yang saling mengenal dan berpelukan, dan ternyata mereka satu keluarga.


"Maaf semuanya, aku merusak momen liburan kita" Reno menunduk dan rasa bersalah.


"Perkenalkan, beliau pamanku, adik satu-satunya papa ku, yang sudah dari remaja tinggal di luar negeri bersama nenek ku" ceritanya dengan tegas.


"Anton, aku kakak sepupu mu, kau paham?" ujarnya, dengan ceria Anton bangkit dan berlari menghampiri Reno lalu memeluknya.


"Bagaimana kabar nenek? terakhir kami berkunjung saat liburan kelas tiga, sekolah menengah pertama, waktu itu paman melanjutkan pendidikan ke negara lain, papa kasihan pada nenek, lalu mengajaknya ikut pulang tapi beliau tidak mau, di sana katanya lebih mandiri" lirihnya.


Dengan sayang pak Bagas merangkul bahu Reno.


"Oh.. jadi kalian satu keluarga yang sudah lama terpisah?" sela pak Arif.


"Hehe benar mas, dan sengaja saya tak memberikan kabar pada kakak saya, karena kalau saya pulang dengan tiba-tiba, pasti di kira saya punya masalah"


Dengan pelan pak Bagas meninju bahu Reno, "Ponakan kecilku sudah dewasa ternyata, tentunya sekarang kau sudah punya pacar, ayo kenalkan pada paman"


Reno hanya cengengesan sambil garuk kepala yang tak gatal, melirik sekilas ke arah Riska, sedangkan pak Arif hanya geleng kepala tersenyum kecil melihat tingkah Reno.


"Hehe, belum ada paman, hem.. yang aku suka belum boleh pacaran, tunggu lulus sekolah dulu" gumamnya sambil merangkul pamannya.


Dan tentu membuat pak Bagas terheran-heran.


"Apa anak gadisnya pak Arif dan buk Salmah?" bisiknya, dan di iya kan oleh Reno sehingga membuat pak Bagas merasa kasihan.


"Kenapa nasibmu, harus sama dengan paman?" keluhnya sedih, membuat Reno heran, minta penjelasan, tapi pak Bagas melepas rangkulannya dengan cepat.

__ADS_1


Suasana liburan terasa menyenangkan bagi mereka, termasuk Bimo dan Anton, berlari kesana kemari saling mengejar.


Para remaja bercanda ria bersama, begitu juga para orang tua, pak Arif dan pak Bagas seperti orang sudah kenal lama obrolan mereka selalu nyambung, sehingga membuat satu sama lain betah mengobrol.


Reno yang teringat papanya langsung menelponnya dengan deringan pertama langsung di jawab.


"Ada apa Ren..? kamu lagi dimana kenapa terlihat ramai sekali?" tanya pak Josep tapi Reno diam saja, sambil mengarahkan kameranya ke wajah pamannya.


Dan betapa terkejutnya pak Josep memandang adiknya sudah di dekat putranya, yang terlihat hampir sama mirip Reno.


"Kalian diaman? apa kamu diam-diam keluar negeri menemui paman mu? Reno.. jawab papa!" teriaknya panik.


"Haha, kak, Reno ponakanku tak keluar negeri, tapi aku yang sudah pulang kak" jelasnya tapi pak Josep masih tak percaya.


"Maksudmu pulang kemana? jawab yang benar bocah tengil" makinya pada adiknya.


"Hehe, kakak jagan marah, lihat sudah banyak kerutan di wajahmu, masak kalah sama mami!" ledeknya, makin membuat pak Josep geram.


"Katakan!" teriaknya tak sabar.


"Aku sudah di Indonesia kak" balasnya, langsung mengucap salam, tampa memberi kesempatan kakaknya bertanya lagi.


Sedangkan pak Josep di rumahnya sudah ketar ketir tak percaya, takut anaknya keluar negeri dan betah seperti mami dan adiknya.


"Haha, paman sungguh jahil, sampai-sampai paman di sebut bocah tengil, aku saja tak pernah di panggil begitu" gurau Reno.


"Dasar.. awas nanti kalian kualat bohongin orang tua" ledek pak Arif pada Reno dan pamannya.


"Mas sepertinya saya duluan, mau mampir ke papanya Reno, pasti di sana dia sudah ketar ketir, hihi" ujarnya terkikik geli, pak Arif melihatnya lucu, hanya geleng-geleng saja.


Pak Bagas lalu melihat anaknya yang bahagia dia pun sebenarnya lebih bahagia, bertemu dengan pujaan hatinya, keponakannya dan memakan makanan buatan Salmah, tapi haya sebatas angan saja, karena sangat menghormati pak Arif, dan istrinya.


"Anton! ayo sudah dulu mainnya, besok kan masuk sekolah, kamu bisa bertemu dengan Bimo" teriaknya pada Anton yang masih asyik bermain.


"Ya pa, Bimo aku pulang dulu, kau tahu? aku sangat senang hari ini" ujarnya bahagia.


Reno dan rombongan pamannya pulang lebih dulu setelah berpamitan, dan mereka semua pun pulang juga karena sudah mau siang.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2