
Dengan cepat Bimo mengejar ayahnya dan langsung meminta maaf atas semua yang sudah dia ucap kan.
"Ayah, maaf kan adik, semua yang tadi ayah dengar hanya bercanda" ucap Bimo.
Tapi pak Arif tetap diam tampa mau bicara apa-apa, malah sengaja melirik tanaman yang baru saja di siram. "Lulus sekolah dasar mu, persiapkan diri untuk ke pesantren, sepertinya makin besar kamu tidak bisa di biar kan, harus cepat mondok, biar bisa mengontrol pikiran mu tentang anak gadis" ujarnya dengan tegas.
Bimo menunduk tak berani bicara lagi, merasa takut dan menyesal dengan apa yang dia ucap kan.
"Huh.. soalnya aku, kenapa jadi begini sih! kenapa aku bisa bodoh sekali bicara sembarangan dan tak lihat ayah di dekat ku!" batin Bimo penuh sesal.
"Ayah! maaf kan aku" lirihnya.
"Ya! terus lah meminta maaf, lagi dan lagi, sampai mulut adik berbusa pun tak apa-apa"
"Tidak ayah! adik sungguh-sungguh dengan ini, ujarnya sambil menyatukan kedua tangannya meminta maaf.
__ADS_1
" Percuma! kamu akan terus bohong, ayah kecewa sama adik" dengus ayahnya lalu masuk kedalam rumah.
Sedangkan Bimo tegus mengekor masuk rumah sambil terus memohon maaf pada ayahnya.
Sampainya di dalam rumah Riska dan bundanya saling lirik, karena melihat muka masam dua laki-laki beda generasi itu.
Lalu buk Salmah memberanikan diri bertanya. "kalian kenapa? datang dari belakangan kok mukanya pada di tekuk gitu, sini! ayo cicipi kue bunda, ini resep baru" tawarnya.
Dengan lesu Bimo menghampiri meja makan, dan sekilas melirik ayahnya yang sudah duduk sambil menikmati kuenya dengan secangkir teh hangat.
"Kalau di tanya tuh jawab yang benar, jangan diam saja kayak orang bisu, giliran bahas cewek aja begitu lancar dan girangnya, ingat ya! kalau berani saja adik pacaran, uang jajan dan uang makan, sekolah dan kebutuhan mu yang lainnya, kamu tanggung sendiri" ancamnya.
Dengan menunduk sedih dan mengangguk kan kepalanya. "Baik ayah, adek akan ingat terus pesan ayah, maaf kan Bimo ayah" ujarnya.
"Sudah-sudah! kalian ada apa sih?" tanya buk Salmah.
__ADS_1
"Palingan salah karena cewek bun, biarkan saja sesama lelaki menyelesaikannya" celetuk Riska.
"Kakak juga! ayah tak suka kamu merespon laki-laki lain entah itu di jalan atau lewat chat, tetap konsisten! karena lelaki dan perempuan sama sekali tak ada namanya sahabat atau pun teman. Ayah tidak mau kamu membuat banyak orang kecewa dan malu, terutama nak Reno!" ucap ayah dengan tegasnya.
Riska yang mendengarnya langsung menunduk, begitu terkejut dengan kemarahan ayahnya, "Bagaimana ayah bisa tahu sih, apakah ayah ada di belakang ku tadi siang" batinnya dengan rasa gugup.
"Baik ayah! kakak minta maaf" balas Riska.
Bundanya mendelik ke arah Riska, seakan meminta penjelasan, tapi Riska langsung menunduk tak berani juga membalas tatapan bundanya.
"Ada apa sih sebenernya! kenapa bunda tak tahu apa-apa di sini, apa bunda tak boleh tahu!" sindirnya.
"Boleh bunda, tanya saja sama anak gadis dan anak bujang mu!" ucap pak Arif. sambil melirik ke arah Riska dan Bimo.
"Kalian buat ulah lagi?" tanya bundanya, tapi keduanya terus diam menunduk, tak berani bicara apa-apa.
__ADS_1
BERSAMBUNG..