
Pak Hanif terus melirik anaknya meminta penjelasan tapi Beny pura-pura tak melihatnya, sehingga pak Hanif menjulurkan tangannya di bawah meja mencubit paha Beny.
"Aduh.. sakit!" teriaknya membuat semua isi meja menatapnya dengan heran, sedangkan buk Rosa melotot ke arah anak dan suaminya.
"Ada apa nak Beny?" tanya buk Hani.
Beny yang di tanya langsung nyengir, tak tahu harus jawab apa.
Pak Hanif pun lagi mencubitnya, sehingga Beny langsung mendelik ke arah papanya.
"Papa sakit! kenapa cubit terus sih?" kesalnya, sambil mengusap pahanya.
Pak Hanif yang ketahuan, langsung nyengir kuda, dan garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Hehe! maaf membuat suasana jadi kacau, habisnya saya mau tanya Beny kenapa kesini!" ujarnya salah tingkah, dan malu.
"Haha! kalian pasti seru kalau berdua ya? menjadi teman sekali gus teman bertengkar, aku pun begitu dengan yongki kakaknya Rani, kadang mamanya sampai mengusir kami ke lapangan" sela pak Rhido, sementara istrinya mendelik ke arahnya, malu karena kartunya di bongkar.
"Papa ini apaan sih?" sahut buk Hani.
"Hehe! memang kenyataan kan ma? kenapa harus malu" balas pak Rhido.
Buk Rosa juga makin mendelik ke arah suaminya dan anaknya, yang di lihat hanya cengengesan.
"Ini gara-gara kalian berdua, kekonyolan kalian buat mama malu" bisiknya pelan.
"Tidak apa-apa buk, biarkan saja, malah membuat suasana menjadi ramai, tapi sayangnya Yongki lagi tak ada di rumah" lerai pak Rhido.
"Hem..saya minta maaf atas kekonyolan Beny dan papanya, pak Rhido, jeng Hani" ucapnya dengan tulus. "Kadang-kadang orang dua ini bikin saya sebal, andai saya punya anak perempuan seperti Rani, kalau lagi kesel ada teman shoping" keluh buk Rosa pada anak dan suaminya.
Sementara Rani terus tersenyum malu, sesekali saling lirik dengan Beny.
Habis makan mereka pindah ke ruang tamu, sedang kan Beny dan Rani belajar bersama di ruang perpustakaan keluarga Rani.
__ADS_1
Dengan senyum mengembang Beny terus melihat ke arah Rani tanpa melihat bukunya.
"Kamu jangan lihat aku terus, nanti papa dan kak Yongki marah" gumam Rani.
"Hehe! kita kan lagi berdua, tidak ada siapa-siapa di sini" kilahnya.
"Huh.. siapa bilang, coba kamu lihat, kamera di pojok itu, kau kira papa tak tahu? itu buat memantau jika aku dan kak Yongki di hukum papa" terang Rani dengan suara kecil.
Beny pun menengok ke arah kamera dengan pelan, dan betapa kagetnya dia saat melihat kamera cctv-nya sambil menyatukan kedua tangannya meminta maaf.
Rani yang melihat tingkah Beny langsung tertawa, "Haha! kamu benar-benar lucu, kenapa kamu minta maaf ke arah kamera itu?" tanya Rani.
"Hehe.. ya karena aku salah, nanti kalau pas om dan tante lihat aku begini makin sulit aku mendekati mu" jelasnya membuat Rani tersipu.
Setelah mereka selesai belajar, mereka langsung keluar dari ruang perpustakaan, dan melihat orang tua mereka bercengkrama, entah membicarakan apa, buk Rosa yang melihat Beny sudah selesai langsung menyapanya. "Sudah selesai nak? ayo kita pulang" ajak buk Rosa setelah Beny duduk.
"Beny datanglah besok latihan bersama abang Rani, kamu sudah ada kemajuan, maka tingkatkan lebih baik lagi" nasehat pak Rhido.
"Bagus itu yang om suka, lelaki yang pantang menyerah dan pintar" pujinya sambil manggut-manggut.
Dengan gembira hati pak Hanif dan buk Rosa anaknya di terima belajar di rumah pak Rhido dan buk Hani.
karena sudah menjelang sore, tak enak hati pada tuan rumah, karena mereka harus istirahat, jadi keluarga pak Hanif undur diri.
Buk Rosa yang begitu menginginkan anak perempuan, dengan sayangnya dia memeluk dan mencium Rani, karena dia begitu menyukai Rani.
"Kami permisi, maaf sudah begitu lama kami bertamu, terima kasih atas jamuannya,semuanya sangat enak, dan maaf sudah menganggu istirahat pak Rhido dan buk Hani" ucap buk Rosa tak enak hati.
"Tidak apa pak Hanif, buk Rosa, sudah lama juga kita tidak berbincang-bincang, lain waktu mungkin kita bisa lebih sering, latihan bersama" ajaknya dengan tulus.
"Tentu! saya akan menanti waktu luang anda" jawab pak Hanif sambil berjabat tangan, dan langsung masuk ke mobilnya.
Sedangkan Beny menaiki motornya, dan berpamitan juga dengan keluarga Rani, sepanjang jalan dia bernyanyi dan bersiul, merasa benar-benar bahagia, sudah mendapatkan lampu hijau dari keluarga Rani, dan dia merasa heran kenapa papa dan mamanya begitu akrab dengan mereka.
__ADS_1
Buk Rosa yang melihat anaknya bahagia dari kaca spion begitu gemes. "Pa.. lihat anakmu senyum-senyum terus" liriknya pada suaminya.
Pak Hanif pun ikut melihat Beny dan tersenyum juga, "Ya dia terlihat sangat bahagia, lihat saja dia pasti sangat penasaran kenapa kita bisa akrab, pasti sampai rumah nanti dia akan minta penjelasan" cibirnya.
"Ya, seharusnya papa kasih tahu, bahwa beliau sahabat papa dari kecil, malah makin membuat anak sendiri takut" keluh buk Rosa dengan kesal.
"Bukan begitu ma, nanti dia ke enakkan kalau tahu yang sebenarnya, dan tidak mau berjuang, nanti ujung-ujungnya meminta bantuan kita" ucap pak Hanif menerangkan, dan itu membuat buk Rosa mengerti juga.
"Tolong mama jangan kasih tahu Beny tentang persahabatan kita, biarkan berjuang sendiri" pesannya.
Sampai rumah, Beny langsung menodong papa dan mamanya dengan pertanyaan, pak Hanif yang baru saja mau memasuki kamarnya langsung di panggil anaknya.
"Pa..! papa harus menjelaskan semuanya" pintanya dengan tegas.
Pak Hanif langsung menoleh dan pura-pura tak tahu apa-apa.
"Ada apa? apa yang harus papa jelaskan?" kilahnya.
Istrinya yang melihat, perdebatan anak dan suaminya diam tak menyahut, Beny pun melihat ke arah mamanya tapi di acuh kan.
"Ma.. ayolah, jelasin" mohonnya, tapi buk Rosa hanya mengangkat kedua bahunya, dan langsung masuk kamarnya, dan di ikuti suaminya.
Dengan kesal Beny menghempaskan bokongnya di sopa ruang keluarganya, menatap kesal ke arah kedua orang tuanya.
Pas menutup pintunya, dengan jahil pak Hanif menjulurkan lidahnya pada anaknya, sehingga membuat Beny makin kesal.
Beny langsung bangun dan menaiki tangga menuju kamarnya, dengan menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. "Awas saja jika aku tahu papa dan mama berbohong padaku, aku akan buat perhitungan" gerutunya.
Sampai kamar pun Beny langsung menelpon Rani untuk memastikan kecurigaannya, tapi beberapa kali menelpon Rani tak menjawab, Beny pun pasrah dan langsung tidur karena merasa capek.
Sementara Riska sibuk belajar, di bimbing papanya langsung, di taman belakang rumahnya, yang di penuhi bunga-bunga indah.
BERSAMBUNG..
__ADS_1