
Buk Salmah yang tak tahu apa yang terjadi pada kedua anaknya, sehingga membuat suaminya begitu marah, lalu memandang wajah anaknya satu persatu dengan tatapan bertanya-tanya.
"Maaf kan aku bunda! tadi siang.. tadi siang kakak bohong pada bunda!" ujarnya penuh sesal.
"Maksud kakak?" tanya buk Salmah dengan singkat. "Jelasin yang benar, dan berkata jujur sama bunda dan ayah kak!" ucap sang bunda menaik kan sedikit nada bicaranya.
"Tadi siang itu aku bertemu teman sekolah ku yang tinggal di komplek sebelah, dia terus mengejar-ngejar ku, sehingga membuat ku marah dan risih" terangnya.
"Apa Reno tahu tentang dia?" tanya buk Salmah. sedangkan Riska hanya mengangguk.
"Apa tanggapan Reno? itulah yang kami takut kan, kami tidak mau melihat mu pacaran dulu, khusus fokus belajar saja!"
"Tapi kakak dan Reno tak pacaran bunda!" ujarnya.
"Benar! tak ada kata pacaran, tapi kamu sudah mengenal semua keluarganya dan sering kesana, dan kamu berani mengambil cincin mahal dari Reno sebagai tanda pengikat mu, keluarganya sudah percaya pada mu sepenuhnya, maka tanggung jawab mu sangat besar, kamu bertanggung jawab agar tetap menjaga perasaan mereka tak kecewa, termasuk Reno! jika itu kamu lakukan di belakang kami, buka mereka saja yang kecewa, kami juga akan kecewa dan malu, saran bunda tidak usah berteman dengan lelaki mana pun, selain Reno yang sudah terlanjur mengikat mu!" tegasnya buk Salmah.
__ADS_1
Riska tertunduk malu dengan ucapan bundanya, sedangkan ayahnya hanya diam sambil membaca koran. "Maaf kan kakak bunda, ayah! sudah sering ku tolak, tapi dia terus nekat, yang ku takut kan, Reno lah yang nekat padanya"
Pak Arif mendengar anaknya bicara begitu tentang Reno sedikit terkejut.
"Peringatkan Reno jangan pernah main kekerasan, dan sekarang itulah tugas mu, bagaimana caranya semuanya bisa aman dan damai, tampak ada kekerasan" sahut sang ayah sedikit resah.
"Baik ayah, tadi siang sudah ku kasih tahu Reno tentang itu, saat dia bilang apa perlu aku hajar, tapi aku mencegahnya" balas Riska.
"Bagus, nanti biar ayah saja yang bicara sesama lelaki, bilang sama Reno, kalau dah tidak sibuk lagi suruh hubungi ayah" pesan pak Arif.
"Baik ayah, kakak pamit ke kamar dulu" ucap Riska, dan sekilas melirik Bimo sambil mengerling kan sebelah matanya, yang duduk agak renggang dari mereka agar tak mendengar pembicaraan orang dewasa.
"Bimo! ayo sini, bunda mau bicara!" teriak buk Salmah, sehingga membuat Bimo makin gugup.
Dengan perlahan Bimo mendekati kedua orang tuanya, dan sesekali melirik kakaknya yang sudah menjauh pergi. "Huh! betapa berat cobaan ku sore ini, apes bener dah aku!" keluhnya dalam batinnya.
__ADS_1
"Cepat apa dek! jalan kok kayak siput gitu!" dengus buk Salmah.
"Ya bunda!" teriaknya sedikit berlari kecil.
"Duduk!" perintah bundanya, sedangkan ayahnya terus cuek.
"Berkata jujur lah, apa kesalahan mu sehingga ayahmu marah begitu!" tunjuknya pada suaminya.
"Itu.. itu.. tadi aku hanya bercanda saja bunda, dan ayah mendengarnya" ujarnya dengan gugup.
Saat ayahnya meliriknya malah membuat Bimo makin gugup.
"Laki-laki harus berani bicara yang jujur, dan bertanggung jawab, jangan bicara berbelit-belit, itu tidak baik!" tegur ayahnya.
"Maaf kan Bimo ayah, bunda" ujarnya penuh sesal.
__ADS_1
"Ya, terus ada apa? jelasin sama bunda" tuntut buk Salmah.
BERSAMBUNG..