
Keesokkan paginya seperti biasa Riska dan juga sahabatnya jalan bersama, saling menunggu di gang komplek.
Terlihat jelas senyuman tak luntur-luntur dari bibir tipis Rani, Mia dan Riska saling pandang melihat dan saling tersenyum simpul, ikut bahagia melihat temanya bahagia.
"Ayo cepat berangkat, biar kita bisa ketemu sama pangeran kita" sindir Mia, membuat Rani makin merona.
Dengan laju sedang mereka beriringan mengayuh sepeda mereka, dalam beberapa menit saja sudah sampai, terlihat tiga pemuda yang masih bertengger di atas motor besar mereka tertawa lepas entah membicarakan apa.
"Rani.. siap-siap pangeran sudah terlihat, jangan sampai kamu pingsan ya? ledek Mia.
"Hus.. kok gitu sih? atau nikah muda saja habis lulus sekolah" sahut Riska.
"Cie.. yang tak sabar menikah, calon mu kan sudah mapan, sudah bisa bekerja, beda dengan aku dan Mia" sela Rani.
"Hehe! lihat nanti saja, kalau memang sudah jodoh, mau gimana lagi!" jawabnya dengan malu.
Sampainya mereka di depan gerbang sekolah, ketiga pemuda tersenyum pada pasangan mereka, Beny pun tak kalah girangnya.
Riko yang melihat tingkah Beny langsung di goda.
"Kemarin ada yang cuek dan cemberut sekarang paling bahagia ya?" godanya dengan senyum.
"Hehe.. maaf, kan kemarin restunya belum pasti, tapi sekarang udah pasti, mana mungkin aku sia-sia kan" ujarnya membuat Rani tersenyum malu.
"Rani.. kemaren aku telpon kenapa tak di jawab? aku penasaran kenapa papa dan mama ku bisa akrab begitu?" tanya Beny dengan penasaran.
"Bisa dong, kan papa ku dan papa mu, sahabatan dari kecil, ya otomatis mama kita juga ikut sahabatan dong! abang Yongki juga sekarang pacaran sama kaka Zahra sepupu mu, aku dengar dari mama, dua bulan lagi mereka lamaran" terangnya membuat Beny melongo.
"Berarti selama ini aku tak tahu apa-apa? tega sekali mereka menyembunyikan semua itu, sampai aku berjuang sendiri" keluhnya dengan kecewa.
"Haha! kasian, om dan tante kan sepertinya sengaja rahasia kan padamu" ejeknya sambil tertawa.
"Pantesan mama begitu dekat dan sayang padamu" cibirnya.
"Mamanya Mia dan Riska juga sahabat mama ku dan mama Reno loh! sepertinya andai kita semua jodoh dan punya anak, kita nggak apa menjodohkan mereka, seperti kita di jodohkan" sela Rani.
"Cie.. yang udah tak sabaran nikah, lihat buk, kita masih memakai seragam sekolah" cibir Riska. "Alah.. paling kamu, habis lulus langsung ke KUA" sela Rani menggoda Riska.
"Sudah-sudah, ayo kita masuk, bel sebentar lagi bunyi besan" ajak Reno.
__ADS_1
"Hahaha! terdengar lucu, baiklah semoga kita semua selalu sehat dan berjodoh" sahut Riko dan mereka serempak mengucapkan Amin.
Semuanya masuk gerbang memarkirkan sepeda motor dan sepeda mereka, lalu beriringan masuk kelas masing-masing, beberapa menit mereka masuk kelas, bel pun berbunyi menandakan pelajaran akan segera di mulai.
Semuanya belajar dengan khusuk tampa ada keributan.
***
Sementara Bimo sampai di sekolah pun selalu terlihat murung, Anton yang melihat Bimo murung langsung menanyakannya.
"Bim.. kamu kenapa? kenapa kamu pagi-pagi terlibat murung? dari tadi sejak masuk kelas mukamu di tekuk terus!" tanya Anton dengan perasaan herannya.
"Kemarin aku di marahi ayah ku" gumamnya sedih.
"Kamu salah apa?" tanya Anton.
"Aku main ke rumah ilham sampai sore, aku lupa waktu, dan ayah bilang akan memasukkan aku ke pesantren, aku tak mau kesana" lirihnya.
"Lagian kamu salah, bagaimana ayahmu tak marah!" cibir Anton.
"Ya aku salah, tapi aku tak mau, masuk pesantren, aku akan rindu keluarga ku" gumamnya sedih
Dengan pelan Anton menepuk pundak Bimo untuk menguatkan.
"Minta maaf lah sama ayahmu, aku yakin beliau pasti memaafkan mu" hibur Anton.
"Ayo bangun, pelajaran akan di mulai, jangan sedih terus-menerus, nanti minta bantuan kak Riska saja" hiburnya. Bimo pun dengan cepat bangun menegakkan punggungnya.
Sepanjang pelajaran dia masih terlihat murung, dan tak bersemangat, Anton yang melihat sahabatnya begitu jadi ikut sedih.
Dengan menghela nafasnya dengan kasar, Anton merangkul bahu Bimo.
"Ayo semangat lah, jangan murung terus, nanti buk guru melihatmu tak semangat" bisiknya.
Dengan patuh Bimo pun mengikuti ucapan Anton, Bimo berusaha ceria seperti biasa, walau pun hatinya masih sedih.
Saat jam keluar main, Anton mengajak Bimo main basket sebentar, setelah Bimo terlihat ceria lagi, Anton pun mengajaknya berhenti, takutnya nanti bajunya basah, Anton lalu mengajak Bimo ke kantin membeli minuman dingin.
Dari meja pojok ada teman sekelasnya yang memperhatikan Anton dan Bimo.
__ADS_1
"Mereka sangat akrab, ingin banget aku berteman dengan mereka, papa bilang Anton sepupu ku juga, tapi aku malu mendekatinya" gumam Aldo.
Bimo yang sudah kembali ceria langsung tersenyum melihat Anton mentraktirnya es krim kesukaannya,
"Terima kasih Anton! kamu tahu aja kesukaan aku" ujarnya sumringah.
"Ya, aku sengaja belikan kamu es krim, agar kamu ceria lagi, ayo makan nanti keburu meleleh" ajaknya.
"Sekali lagi terima kasih Anton, aku pingin datang main lagi dah, saat libur nanti, tapi nggak tahu kak Riska mau atau nggak!" keluhnya dengan sedih.
"Ya datang lah ajak kak Riska, aku suka kue buatannya terasa lezat, apa lagi kalau kita makan habis main basket dan ditemani milkshake coklat" sahut Anton. "Ya, dan aku milkshake vanilla kesukaan ku!" teriak Bimo dengan girang, mereka pun tersenyum bahagia.
Dengan fokus Anton dan Bimo menjilat es krimnya, tanpa mereka tahu ada temannya, anak sepupu dari buk Rima ingin sekali bergabung bermain dengan mereka.
"Ayo cepat kita habiskan Bimo.. bentar lagi bel masuk, nanti sayang tidak kita habiskan"
"Ya, ini lagi sedikit, es krim ini lezat sekali Anton, terima kasih ya! besok aku yang gantian traktir, hehe" janji Bimo. "Tidak usah, tapi.. " gumamnya malu.
"Tapi apa? bilang saja, jika aku mampu pasti aku kasih" sela Bimo antusias, karena Anton jarang minta sesuatu.
Dengan malu Anton menggaruk kepalanya, "Hehe! aku jadi malu, aku.. aku minta kue buatan bunda Salamah, apa boleh?" tanya Anton ragu-ragu.
"Haha! aku kira apaan, tentu boleh, nanti sore aku ajak kak Riska datang anterin kuenya ya!" ujarnya tersenyum.
"Benarkah? mama dan kedua adik bayi pasti akan senang" sela Anton begitu antusias.
"Kalau kedua adik kembar lahir boleh kan aku sering main dengan mereka? aku ingin sekali punya adik, tapi bunda katanya belum bisa jadi!" keluh Bimo dengan sedih.
Anton yang melihat sahabatnya menginginkan adik jadi kasihan, karena dia pernah merasa kesepian selalu sendiri, tak ada teman bermain. "Tentu saja boleh, kita jaga mereka sama-sama, jika mereka perempuan kita harus extra menjaganya dari cowok-cowok genit, kayak kamu suka menggoda anak gadis, hihihi" ledek Anton, sehingga membuat Bimo mencebikkan bibirnya.
"Awas saja nanti kalau mereka lahir, kamu kasih tahu mereka tentang keburukan ku" ancam Bimo dengan kesalnya.
"Hahaha, tergantung! dan awas saja kamu mengajarkan mereka yang jelek-jelek" sela Anton, sambil berlari dan menjulurkan lidahnya pada Bimo.
"Hey, tunggu jangan lari" teriak Bimo. "Ayo! bel sudah mau bunyi, kejar aku Bimo!" teriak Anton balik.
Bimo pun langsung berlari mengejar Anton, sambil tertawa terbahak-bahak.
keceriaan Anton dan Bimo tak luput dari perhatian Aldo, dengan sedih dia pun berjalan masuk kelas.
__ADS_1
BERSAMBUNG..