
Rasa sedih yang dirasakan Bimo membuatnya tak berhenti menangis, bundanya masuk ke kamar Bimo untuk menghiburnya.
"Sayang, sudah dong nangisnya, nanti hidung mu mampet, ayo kita pergi membujuk ayah" ajak bundanya.
Bimo pun ikut bersama bundanya menemui ayahnya.
Pak Arif yang melihat istri dan anaknya datang, langsung menghentikan aktivitasnya.
"Ayah, Bimo minta maaf, Bimo ngaku salah, tolong jangan masuk kan adek ke pondok pesantren, adek nggak mau pisah dari ayah, bunda, dan kakak, di sana adek akan sendirian" lirih nya, memohon, sambil menyatukan kedua tangannya.
"Ayah tidak mau gagal, kamu setiap di bilangin nggak mau" sela nya.
"Adek janji tidak begitu lagi ayah" sesalnya.
"Baik, ayah pegang janjimu, jika terulang, ayah akan langsung masukkan kamu ke pondok, ingat itu, sekarang ayah beri sekali kesempatan, dan untuk bunda, lain kali tidak ada tawar menawar lagi" ujarnya, Bimo dan bundanya tersenyum.
"Terima kasih ayah"
Bimo langsung memeluk ayahnya, dan tersenyum bahagia.
"Ingat tidak boleh main cinta-cinta sebelum lulus sekolah" titahnya, di anggukkan oleh Bimo.
Bimo pun keluar dari kamar ayah dan bundanya, dengan bahagia.
Riska yang melihat Bimo ceria lagi, juga ikut senang.
"Kak, ayah memaafkan aku" ceritanya bangga.
"Baguslah, maka jangan buat ayah marah lagi, dan jangan ke rumah Ruhi dan Ana lagi, mainnya sama teman cowok saja, kau mengerti?" ucapnya penuh peringatan.
"Ya kak aku mengerti" balasnya deng senyum yang merekah.
"Adik tidur sana sudah malam, ingat mulai besok jangan main sama cewek"
Bimo hanya menanggapi dengan senyuman.
Dengan ceria Bimo masuk kamarnya untuk tidur, Riska yang melihat adiknya juga bahagia.
Selesai membereskan meja dan mencuci piring yang kotor, Riska pun masuk ke kamarnya, menghempaskan diri di kasur empuknya, sambil mengambil ponselnya, mengirim pesan untuk Reno.
Riska (Selamat malam, kamu lagi ngapain? apakah sudah tidur? ).
Cukup lama Riska menunggu balasan tapi tak ada balasannya.
__ADS_1
Riska pun memutuskan mengirim satu pesan lagi.
Riska ( tidur lah, aku juga sudah mengantuk, semoga mimpi yang indah).
Lalu Riska mematikan ponselnya dan tidur, karena sudah jamnya dia tidur.
Sedangkan Reno di rumahnya lagi duduk membicarakan tentang kehebohan yang Tasya buat, dan di salah satu video itu ada namanya yang di sebut, akhir membuat dia malu, dan Reno tidak menyadari Riska mengirim pesan karena ponselnya ada di kamarnya.
"Ternyata itu alas dia datang waktu itu, dia mau datang menggoda mu, mengajak mu bermain kuda lumping" geram buk Rima.
Reno mengerutkan keningnya mendengar ucapan mamanya.
"Kenapa? kamu tidak percaya sama mama? mama sudah tau gelagatnya sejak pertama kali melihatnya, dia wanita begitu" dengus buk Rima.
"Benarkah ma" tanya pak Joseph heran.
"Reno juga tak menyangka pah, dia seperti itu, baiklah, Reno istirahat dulu pah, mah" ujarnya, lalu meniggalkan kedua orang tuanya di ruang tamu.
Sampainya di kamar Reno mengambil ponselnya yang lagi di charger, lalu betapa kagetnya, melihat pesan Riska yang tidak dia balas-balas dari tadi.
"Waduh, kenapa aku lupa sih membawa ponsel keluar kamar, ini gara-gara membahas nona Tasya jadi aku lupa deh!" gumamnya sambil membalas pesan Riska.
Reno (Selamat malam juga sayang, maaf baru balas, tadi aku di bawah sama ke dua calon mertuamu, bahas sesuatu, tidurlah, selamat malam sayangku).
***
Jarangnya berkumpul bersama sahabat, karena kesibukan Reno, Riko dan Beny nongkrong berdua di kafe favorit mereka, dan mengajak Rani dan Mia.
"Coba kita ajak Riska tadi, siapa tahu dia mau ikut" keluh Mia.
"Hem, benar, nggak seru tampa mereka, sepertinya ada yang kurang" sahut Rani.
"Ayolah, kok pada sedih sih, kemarin Reno janji dia ada waktu pas dia libur, nanti kalian bisa ajak Riska, kalau sekarang kalian ajak, nanti Reno tidak fokus kerja" nasehat Riko.
"Memang sih, terasa berbeda tampa mereka berdua, sejak Reno memutuskan bekerja dia jarang ada waktu buat main lagi, salut aku sama dia, pikirannya begitu dewasa dan bertanggung jawab, sepertinya kita harus contoh dia" sahut Beny.
"Ayo kita pesan makanan, kita nikmati saja dulu" ajak Riko.
Mereka pun memesan makanan yang mereka sukai sambil bercengkrama, dan sesekali foto bersama, dan Mia mengunggahnya di sosial medianya.
Setelah mereka selesai makan, Riko dan Beny mengantar masing-masing pasangan mereka, Mia dan Riko, sedangkan Beny dan Rani.
Riko dan Mia sudah resmi pacaran, mereka berkeliling kota sambil jalan pulang, untuk menghabiskan waktu berdua, mampirlah mereka di sebuah taman cukup ramai pentingnya kebanyakan dari pasangan muda mudi.
__ADS_1
Mereka duduk di sana sambil membeli aneka jajan yang terjual di sana, sambil mengobrol.
Sedangkan Beny dan Rani langsung pulang, tampa mampir kemana pun, karena sudah di peringatkan, mereka harus pulang tepat waktu sesuai waktu yang di tentukan ayahnya Rani.
Ayah Rani begitu ketat karena beliau seorang tentara, begitu pun kakaknya, mengikuti jejak papanya.
Baru saja Beny sampai rumahnya Rani, sudah terlihat papanya menunggu di teras rumahnya sambil memainkan ponselnya.
Beny pun dengan perasaan takut memarkirkan motornya, dan berpamitan pulang pada papanya Rani.
"Kalian mampir kemana? kenapa telat?" tegur papanya.
"Kami tidak kemana-mana om, habis makan, kami langsung pulang" jawab Beny dengan perasaan gugupnya.
"Benar pah.. kami tidak mampir kemana pun, dari kafe kami langsung pulang" sahut Rani.
"Benarkah? terus kenapa telat beberapa menit?" ucap papanya penuh selidik.
"Karena macet papa" jawab Rani.
"Alasan saja, kamu masuk sana, papa mau bicara pada bocah ini" tunjuk papanya pakai dagunya.
Rani pun masuk meninggalkan mereka berdua, sedangkan Beny wajahnya sudah terlihat pias, karena merasa takut pada papanya Rani.
"Kalian baru kelas tiga, awas kalau ada yang pacaran, sebelum lulus sekolah, om tidak mau pelajaran dan pikiran anak om terganggu, kau mengerti?" ujarnya tentang, tapi terdengar menakutkan bagi Beny.
"Baik om, kami memang tidak pacaran, kami hanya berteman" jelasnya takut.
"Tapi kau sepertinya menyukai anak om, memangnya apa kamu siap dengan tantangan ku?" cibirnya, sambil melihat kearah Beny dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Apa itu om? akan saya lakukan, kalau itu syarat untuk mendapatkan anak om" jawabnya, harap cemas.
"Baik, datang lah, saat kamu sudah lulus sekolah, om mau lihat kemampuan mu, dan sejauh mana kamu mampu bertahan"
'Hah, aku kira sekarang, aku sudah benar-benar takut, apa lagi sampai aku di tembak' batinnya.
Baik om, saya akan datang saat saya sudah lulus sekolah, dan membuktikan aku mampu atau tidak untuk anak om"
"Bagus, sekarang pulang lah, ini sudah malam"
Dengan perasaan lega Beny pun pamit pulang, tapi sepanjang jalan terus memikirkan, tantangan apa yang akan dia terima.
"Sepertinya aku harus masuk tentara seperti keinginan papaku, karena calon mertuaku seorang tentara, oh.. sungguh menakutkan, untuk mendapatkan kamu Rani" gumamnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG..