
Berkumpul bersama orang yang kita sayang dalam hidup kita itu sangat menyenangkan, melihatnya tersenyum bahagia itu adalah keindahan yang tiada duanya,bagi insan yang saling mencintai.
Sedangkan Bimo, tengok kiri kanan saja mencari keberadaan Ruhi, Bimo benar-benar tidak takut, ketahuan ayahnya, sudah di tegur jangan lirik cewek, tetap saja dia tidak mendengarkan.
"Bimo, kamu cari apa sih? dari tadi kamu, tengok kiri kanan saja, nanti lehermu lepas, kelamaan kayak gitu" ucap Mia.
"Iya nih, dek kamu cari apaan? bilang deh sama kita semua" ujar Rani.
"Hem, aku mencari pujaan hatiku kak, aku tidak melihatnya di sini, seperti ada yang kurang dalam diriku" ucapnya lesu.
Hah, mereka semua melongo, mendengar ucapan Bimo, seakan tak percaya tapi kenyataan mereka lihat dan dengar sendiri.
"Teruskan saja sipat jelek mu itu dek, tapi jangan salahkan kakak jika nanti kamu di kirim ke pesantren, bukan kah ayah sudah memperingatkan mu?" Riska melipat tangan di dadanya, sambil menatap Bimo dengan tajam.
Hehehe "Maafkan aku, kakak ku yakin cantik jelita, sejagat raya, aku hanya ingin bermain dengannya tidak lebih, jadi tolong adikmu yang ganteng ini, jangan bilang pada ayah" sambil menyatukan tangannya memohon.
Haha..
Mereka semua tertawa, melihat sang Casanova cilik lagi di kasih peringatan.
"Adukan saja Ris, adikmu ini beneran nggak bisa di bilang" Rani makin mengompori.
"Huh, kak Rani, jangan kayak gitu lah, nanti kakak tercinta ku tambah marah"
"Biarin" makin Rani menggodanya dengan menjulurkan lidahnya.
"Bener dek, jangan buat ayah dan bunda marah, nanti kalo Ruhi tau kamu bandel, malah buat dia tidak menyukaimu, maka dari itu jadilah anak baik" nasehat Reno.
"Sekarang kak Reno nggak asik, sama cerewetnya sama kak Riska, aku nggak mau sama kak Reno lagi" Rajuk nya kesal.
"Hem, kak Reno dan kak Riska, nggak gitu, justru kami begini karena sayang kmu dek, kalo ayah sudah benar-benar marah, kami tidak bisa membantu, hanya bisa do'akan kamu betah di pesantren" nasehatnya.
"kakak tidak akan pernah bantu kamu lagi, terserah kamu, apa pun yang kamu lakukan, silahkan! aku tidak perduli!" ucap Riska melengos, mengayuh sepedanya lebih kencang, Reno langsung mengejarnya.
__ADS_1
"Dek Bimo jangan begitu, kami semua sayang sama kamu, lihat acara kita, jadi nggak seru kan? kalau ada yang marah" bujuk Riko, Bimo menunduk menyesali ucapannya.
"Nanti kamu minta maaf pada kak Riska dan Reno ya?" bujuk Beni, Mia dan Rani, memeluk Bimo.
"Maafkan Bimo, aku tidak akan nakal lagi, nanti akan minta maaf pada kak Reno dan kak Riska" ucapnya, tangisnya ditahan.
Sedangkan Reno mengejar Riska yang lagi marah.
"Cantik, tunggu! jangan kencang-kencang nanti kamu jatuh" teriak Reno, baru Riska memelankan sepedanya.
"Jangan marah gitu dong, lihat teman-teman masih di tempat, kamu main kabur saja"
"Maafkan aku, ucapnya menunduk.
Reno mengusap punggung tangan Riska dengan sayang.
"sedangkan di tempat lain, sherly ditinggalkan begitu saja oleh johan, dia menangis, sedih di campakkan saat tak punya siapa-siapa lagi, aku harus kemana? balik ke rumah, ayah akan marah padaku, ibu tiri ku akan terus meneriaki ku, dan luna sudah tidak mau berteman lagi dengan ku, aku harus kemana" batinnya meronta, lalu dia memesan ojek online, dengan sisa uangnya yang tak seberapa, dan entah tujuan kemana.
Johan pergi numpang ke kos mantan ceweknya, bernama Dewi,
"Dewi, aku numpang ya? sampai aku dapat kos yang baru, aku terusir karena nunggak bayar kos" ucapnya santai, lalu merebahkan badannya di atas kasur Dewi.
"Oke, sementara ya, aku nggak enak sama tetangga, dan yang punya kos juga ntar protes"
"Ok wik" ucapnya.
"Ya udah, kamu istirahat saja, aku mau kerja, nanti kalo lapar, makan saja apa yang ada, aku sudah masak" pesannya.
"Makasih Dewi, kamu memang terbaik, aku pasti membalas kebaikan mu saat aku sukses nanti"
"Haha, jagan berjanji apa pun, karena di saat sukses banyak orang yang lupa dengan janjinya, beda di saat lagi susah"
"Maafkan aku, Dewi" ucapnya tulus.
__ADS_1
"Tidak masalah, istirahat lah, aku pergi dulu" Dewi pun pergi meninggalkan Johan di kosnya sendiri.
Ternyata jessica sudah tau, dalang kehancurannya adalah sahabat dan kekasihnya.
"Dasar manusia penjilat, ternyata mereka manfaatkan aku hanya karena uang, pasangan sampah, aku tidak akan memaafkan kalian berdua, kalian pacaran tampa aku tau, sungguh hebat" geramnya jessica.
Sekarang Jessica pun tau juga, bahwa mereka juga hancur sepertinya, ternyata kalian hidup enak dari uang ku? untung saja waktu itu aku tidak memberikan johan uang, sehingga aku tidak kesusahan.
Ternyata yang memberi tahu kan Jessica adalah luna, agar jessica berhati-hati jika bertemu mereka nanti, tentunya karena luna kasihan pada jessica, bagaimana pun juga mereka adalah teman, walau pun sekarang sudah menjalani hidup masing-masing.
Sedangkan kedua orang tua jessica, kadang juga merindukan anaknya.
"Pa, kemanakah Jessica pergi ya? mama sangat merindukan anak itu" buk Tari sering melamun, memikirkan anaknya dan langsung menangis tersedu-sedu.
"Mama jagan pernah ingat atau sebut nama anak itu lagi! papa anggap dia sudah mati, susah payah aku bangun usaha sendiri, sekarang semuanya hancur, andai saja dia tidak tidur dan pacaran dengan laki-laki brengsek itu, mungkin Reno dan keluarganya masih mempertimbang kan pernikahan itu" geram pak Bayu.
"Tolong maafkan anakmu pa, kita sudah begini, sekarang jual lah perusahaan papa dan kita hidup di kampung sama-sama" bujuk buk Tari.
"Tak semudah itu aku menyerah, ma, bertahan lah, aku pasti bisa bangkit lagi" ujarnya.
"Baiklah terserah papa saja, jangan sampai papa menyesal, usaha yang tersisa hanya ini saja, jika itu hancur, kita akan menjadi gembel pa" pak Bayu merenung, mendengar ucapan istrinya.
Reno pun sudah bisa membujuk Riska.
"Ayo kita kembali cantik, nggak enak sama teman-teman, maafin Bimo, dia masih kecil dia hanya ingin bermain dengan seusianya, nanti biar aku saja yang berbicara dengan Bimo, ok" Riska mengangguk, Reno menenangkannya sambil mengusap kepada Riska dengan sayang.
"Ayah sudah menyerahkan urusan Bimo padaku, jika aku gagal, ayah nanti marah sama aku, sikap Bimo ini bukanlah main-main, kemarin saja, dia pulang cemberut, berdebat sama teman-temannya, gara-gara Ruhi" ujarnya.
"Baiklah serahkan padaku, aku tau perasaan mu dan juga ayah, akan kekhawatirannya pada Bimo, tenanglah biar aku yang tangani, ayo kita kembali" ajak Reno.
Mereka pun kembali teman-temannya merasa tenang, melihat Riska sudah lebih baik, Bimo pun berlari kearah kakaknya, dan memeluk Riska sambil minta maaf.
"Maafkan Bimo kak, sudah buat kakak marah, aku tidak mau di kirim ke pesantren, aku tidak akan nakal lagi" ucapnya sesenggukan. Riska hanya diam agar Bimo benar-benar ngerti tidak baik seperti itu.
__ADS_1
Mereka pun bermain lagi dengan gembira, bersepeda sama-sama saling mengejar, seakan tak terjadi apa-apa bimo pun tak lagi bertingkah.
BERSAMBUNG..