
Paginya Bimo di tunggu oleh Anton di depan kelasnya, terlihat Bimo berlari menghampirinya.
"Selamat pagi Anton, apa kabar?" tanya Bimo begitu ceria.
"Baik, apa bundamu ikut?" bukannya menjawab, malah membuat Bimo mengernyit heran.
"Untuk apa tanya bunda ku?"
"Aku hanya mau menyampaikan ucapan terima kasih papa ku" ujarnya dengan wajah datar.
"Oh, bunda datang nanti siang, saat menjemput ku ayo masuk kelas" ajak Bimo, Anton pun ikut masuk, sebentar lagi bel berbunyi.
Sedangkan Riska juga sudah di tunggu ke dua sahabatnya, di simpang jalan seperti biasanya.
"Nah, itu dia" tunjuk Mia pada Rani.
"Hem, kita langsung tanya ya?" sahut Rani.
Riska melihat sahabatnya dari jauh sudah merasa jengah, "Pasti dua emak-emak rempong ini bertanya tentang itu terus"gumamnya kesal.
"Hay Riska yang cantik, tentu kau tahu yang ada di otak kami, maka tolong kasih penjelasan yang lebih detail" ucap Mia, dan di iyakan juga oleh Rani.
Sedangkan Riska hanya mendengus mendengar tuntutan ke dua sahabatnya.
"Apa yang mau kalian dengar? yah seperti itulah adanya, Reno tidak suka melihat aku unggah foto, ayo kita jalan, nanti kita telat" ujarnya lalu mengayuh sepedanya.
Mia dan Rani hanya bengong, mendengar penjelasan Riska, sambil melihat Riska yang makin menjauh.
"Eh, kok dia main tinggal saja sih, ayo kita kejar" ajak Rani pada Mia yang masih bengong.
"Hey Riska, tunggu!" teriak Mia.
Riska hanya menoleh sambil tersenyum, dan menjulurkan lidahnya ke arah mereka, lalu makin kencang mengayuh sepedanya.
Mereka pun saling kejar-kejaran, dan tertawa lepas sampai sekolah
"Huh, capeknya, menguras semua sarapan ku" keluh Mia.
"Haha! dasar makanan saja yang ada di otakmu" ledek Riska, membuat Mia mencebik kan bibirnya.
Reno dan sahabatnya melihat Riska yang baru sampai bersama sahabatnya, Reno pun menghampiri mereka, yang baru tiba di parkiran.
"kalian lama sekali, kami menunggu mu dari tadi" ucap Reno sambil berkacak pinggang.
"Hehe, maaf kami mutar dari arah sana" tunjuk Riska, membuat Reno heran.
"Ngapain lewat sana, kan memang jauh, kalian ini ada-ada saja, ayo cepat pada masuk sana, sebentar lagi bel berbunyi" titah Reno dan Riska dengan patuh masuk kelasnya.
__ADS_1
"Bro kenapa tidak jadi kau tanya Riska?" celetuk Beny mengingatkan.
Reno hanya menghela nafasnya dengan kasar.
"Tak usah, biarkan saja, dia lagi asyik tampa mememikir kan apa pun, toh juja Riska sudah hapus foto itu" sela Reno dengan sedikit lega, sekarang yang membuat ku khwatir adalah mamaku" keluh Reno.
Mereka pun masuk bareng ke kelas mereka, karena bel sudah berbunyi. selama pelajaran berlangsung mereka mengikutinya dengan baik tampa ada bisik-bisik sekalipun,
begitu pun di kelasnya Riska.
***
Di sekolah Bimo, saat jam pelajaran olahraga, mereka di ajak main basket, Bimo sangat senang, karena itu pertama kalinya bagi Bimo.
sedangkan Anton tampa Bimo tahu, Anton sudah jago, karena di rumah sering berlatih setiap di bosan habis belajar.
Guru yang mengajarkan sungguh sabar, sehingga Bimo bisa memasukkan bola ke dalam ring juga.
"Hore.. Anton, lihat, akau bisa" sorak Bimo antusias, membuat Anton tersenyum.
"Ya, kau hebat Bimo" puji Anton.
Bimo terus bersorak bahagia, guru pun memerintahkan mereka untuk istirahat, untuk minum.
Bimo sangat senang, bahkan sampai pulang sekolah pun Bimo terus bersama Anton.
"Tante Salmah, papaku nitip ucapan terima kasih, karena sudah menasehati ku kemarin" ucap Anton dengan sumringah.
"Sama-sama sayang" jawab buk Salmah tersenyum.
Supir yang sudah mengirim kan gambar mereka, tersenyum kecil karena tugasnya sudah di laksanakan.
mereka pun berpisah di halaman sekolah, Bimo pun pulang bersama bundanya menaiki sepeda motor.
Sementara pak Bagas yang menerima foto anaknya dan sahabatnya serta bundanya,
langsung tercengang, bahwa gadis yang sering dia lihat dulu adalah orang yang sama.
"Salmah, ternyata anak kita berteman, sudah sangat lama, aku tak melihat mu, kau masih seperti dulu, selalu anggun dan cantik" pujinya tampa sadar.
***
sementara di sekolah Riska, dari baru datang dan sampai pulang sekolah terus di lirik oleh teman-temanya.
Tapi Riska selalu cuek, sedangkan Tara menyimpan poto itu sebelum di hapus oleh Riska, dia terus memandang Riska dari jauh, yang begitu ceria.
"Andai aku yang selalu di sampingmu, aku akan selalu menjagamu, aku mencintaimu Riska" gumamnya.
__ADS_1
Begitu kesal karena melihat Reno dengan leluasa berada di dekatnya tampa merasa risih atu pun marah.
"Aku benar-benar sudah kalah" batinnya sedih, lalu pergi dengan perasaan yang hancur.
Reno pun menyadari keberadaan Tara tapi sengaja, pura-pura tak melihatnya, Reno paham dengan apa yang dirasakan Tara, "Tapi tidak bisa aku korbankan perasaan ku juga" batinnya.
"Riska, langsung pulang, jangan singgah di mana pun" pesan Reno.
Mia dan Rani mendelik kesal, Reno yang menyadari mereka kesal malah cuek saja.
"Reno, kami akan makan bakso bersama, tidak usah suruh Riska langsung pulang" sela Mia.
"Tidak bisa, lain kali saja, atau hari minggu kita sepedaan bareng-bareng" tawarnya.
"Baiklah, janji?" tanya mereka serempak.
"Ok, aku akan menepati janjiku" ucap Reno meyakinkan membuat mereka semua senang.
"Rani, apa aku boleh datang bermain?" tanya Beny sopan.
"Benarkah? apa kau sudah begitu berani?" godanya, membuat Beny salah tingkah.
"Haha! selamat berjuang kawan" goda Reno juga, sedangkan Riko menepuk pelan punggung Beny.
"Tak bisakah kau membujuk papamu?" keluh Beny lesu.
"Dasar cemen, kalau tak berani, jangan sekali-kali kau mencobanya" gerutu Rani.
"Ayo kita pulang saja" sela Mia, menyudahi perdebatan mereka, lalu menarik tangan Rani dan Riska menuju sepeda mereka.
Beny terus memandagi kepergian Rani, dengan hati yang sedih.
"Sudahlah, jangan begitu, kau sekarang kan rajin berlatih, entah tantangannya seperti apa nanti, yang penting kau harus mempersiapkan diri" hibur Reno, memberi semangat.
"Betul yang di katakan Reno, ayo kita pulang, bukankah kamu ada latihan?"sahut Riko juga.
"Ya udah, ayo! terima kasih, untuk kalian yang selalu memberi suport buat ku" lirihnya sedih.
"kita ini sahabat, semoga persahabatan kita sampai kita menua bersama, siapa tahu di masa depan salah satu di antara kita, kelak jadi besan" khayal Reno.
"Hahaha, terlalu jauh bro mimpimu itu" sela Riko, sambil berlari.
"Sialan, kalian tak mau berbesan dengan ku? hah! awas jika nanti anak mu menyukai anak ku, aku tidak akan meretuinya ya? ingat itu!" teriak Reno sambil mengejar Riko, sedangkan Beny terus tersenyum melihat kelakuan sahabatnya.
Mereka pun pulang bersama, beriringan menaiki motor mereka, pas di lampu merah, Reno berpisah menuju arah kantornya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1