
Dengan kesalnya Riska kembali memungut ponselnya yang dia lempar ke atas kasurnya, dan ingin menghubungi Reno kembali.
Tapi matanya masih tertuju pada notifikasi pesan dari Tara.
Tara ("jangan berusaha membenci ku Ris.. karena aku tak bisa menyakiti mu, seperti biasa saja, jika kita memang akan di takdir kan, maka terima lah aku, tapi jika sebaliknya tetaplah jadi sahabat ku"
pesan Tara membuat Riska jengah, antara kasihan dan juga benci.
Riska (Baiklah, asal kamu tak mengganggu ku, benar kata mu, biarkan berjalan semestinya, kita juga masih remaja tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, jika memang benar kita tidak bisa seperti yang kamu harapkan, tolong terima dengan lapang dada, tanpa ada permusuhan antara kita").
Balasan Riska membuat Tara juga merenung akan kesalahannya, terlalu memaksakan perasaannya pada Riska.
Tara ("Maaf kan aku Ris..! aku terlalu terobsesi pada mu, tampa sadar dengan cara ku ini, kamu akan membenci ku")
Riska (justru itu, ayo berteman, ingat! kita masih memakai seragam sekolah, aku tidak mau pelajaran terakhir kita menjadi terganggu, karena memikirkan cinta, aku dan Reno pun tidak pacaran, walau pun keluarganya sering mengundang ku bertamu ke rumahnya, ayo kita fokus belajar") nasehat Riska.
Tara ( "Maaf kan aku" ) balas Tara, dan Riska pun memutuskan percakapan mereka.
__ADS_1
Tara berbaring sambil melihat langit-langit kamarnya, dengan perasaan sedih, "Tadinya aku ingin terus memaksa mu, bahkan dengan cara kasar, tapi aku rasanya tak tega menyakiti mu, atau pun membuatmu menangis, benar kata mu, jika memang nanti semesta menyatukan kita aku akan sangat bahagia, tapi jika sebaliknya, aku akan coba mencari wanita lain yang persis seperti mu" gumam Tara sambil memejamkan matanya.
Tampa dia sadari setetes bening mengalir dari ujung matanya.
Begitu pun dengan Riska, dia duduk di pinggir kasurnya terus memikirkan isi dari pesan Tara.
"Huh.. Tara Tara! kamu membuat ku pusing" keluhnya lalu membaringkan tubuhnya di atas kasurnya, sambil kembali menghubungi Reno.
Sementara Reno masih sibuk dengan pekerjaannya dan terus merasa gelisah dengan Riska dan Tara, sehingga konsentrasinya terbagi pada Riska dan kerjaannya.
Pak Hasan yang melihat Reno gelisah, hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Anak muda ini benar-benar hebat, masih muda sudah mencintai anak orang, tapi benar-benar bertanggung jawab juga dalam bekerja, bagi anak lain mereka masih labil, tapi tidak dengannya" batin pak Hasan, sambil memperhatikannya dari meja kerjanya.
Ting..
Pesan Riska membuat Reno kaget, karena bunyi notifikasinya begitu nyaring, terlebih lagi Reno begitu fokus dengan pekerjaannya.
Reno langsung membuka pesan itu dan membuatnya makin tak karuan.
__ADS_1
"Awas saja kamu Tara jika berani bermain api dengan ku, akan aku cari kamu!" geramnya sambil mengepalkan tangannya.
Reno ("Sebentar lagi aku selesai") balas Reno, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
Riska sambil menunggu Reno dia kembali belajar untuk menghilangkan perasaan tak enak hati pada dirinya, tapi baru saja mau mulai belajar pintu kamarnya di ketuk.
"Masuk saja, tidak di kunci" teriaknya, dan muncul lah Bimo sambil menenteng bukunya karena ingin di ajarin mengerjakan tugasnya.
"Kak! ajarin, tolong lah, aku tak bisa" keluhnya sambil menunjukkan bukunya.
Riska mendengus kesal karena adiknya yang terus minta bantuan.
"Kebiasaan kamu dek, lihat aku juga sedang sibuk, sana minta di ajarin sama ayah saja" usir Riska.
"Tidak! nanti ayah marah, kalau aku tak bisa!" sela Bimo.
Tapi akhirnya Riska pun mengajarkan adiknya mengerjakan tugas sekolahnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG..