CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
MERASA BERSALAH.


__ADS_3

Setelah Reno selesai menelpon, dan menyuruhnya pulang Riska begitu menyesal, karena tak meminta ijin pada ayah bundanya, Riska merasa sangat bersalah.


Riska melihat kearah para sahabatnya yang memperhatikannya dan merasa heran dengan perubahannya, lalu Riska pun menghampiri mereka dan duduk.


"Maaf teman-teman, aku harus pulang" Ucap Riska buru-buru menghabiskan makan dan minumnya agar tak mubazir, mereka semua hanya melongo melihat perubahan Riska yang terlihat takut.


"Ris.. pelan-pelan makanya, nanti tersedak, santai aja apa!" nasehat Mia.


Riska tak bisa menjawab karena mulutnya sudah penuh makanan, setelah habis dia telan barulah bisa bicara.


"Maaf jika kalian masih mau di sini tak apa, aku pulang duluan, ada hal yang mendesak, tak bisa di ganggu gugat" ujarnya sambil menghabiskan jus semangka yang dia pesan.


"Ris.. tega kamu meninggalkan kita" sungut Rani.


"Maaf ini darurat, kalian santai saja, terima kasih Riko, Beny atas traktirannya" ucapnya dengan tulus, sambil memaki ranselnya dan melihat jam tangannya, agar sampai rumah tepat waktu.


"Ris.. kau sungguh-sungguh?" tanya Mia memastikan.


"Hem.. maafin aku guys" sambil melambaikan tangannya langsung pulang dengan buru-buru.


Riska terus mengayuh sepedanya dengan kencang agar cepat sampai rumah, dan sesekali melihat jam tangannya.


"Huh ayo lebih cepat lagi tinggal tiga menit, jangan sampai Reno menelpon ayah atau bunda" gumamnya bicara sendiri.


Pas sampai depan rumahnya, Riska bernafas lega, langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Reno, deringan pertama pun langsung di jawab.


Reno yang lagi meeting tak perduli dengan tatapan para karyawan lain, tampa menunggu lama langsung menjawab telpon Riska.


"Halo cantik! kamu di mana?" tanya Reno, bukannya jawaban yang dia dapatkan, tapi suara orang habis lari marathon.


Huh huh huh..


"Aku baru sampai depan rumah, aku capek banget ngebut kencang dari cafe" sahut Riska sambil menetralkan nafasnya.


Reno yang mendengarnya langsung melongo, dan merasa bersalah.


"Benarkah?" tanya Reno penasaran.


"Ya! aku sudah di depan rumah" sela nya.

__ADS_1


"Baiklah, jadilah anak patuh, cepat masuk dan istirahat" sahut Reno di seberang sana, tersenyum bahagia.


Riska pun masuk rumah dengan pelan, terlihat bundanya asyik membaca dan Bimo pun lagi asyik menyusun lego nya.


Buk Salmah yang menyadari anaknya pulang langsung bertanya tampa mengalihkan perhatiannya pada buku yang di bacanya.


"Dari mana kamu kak?"


Riska ter lonjak kaget karena pertanyaan bundanya, Riska merasa bersalah karena lupa minta ijin.


"Dari cafe dekat sekolah bunda, teman-teman mengajakku makan" jawabnya lesu sambil mencium tangan bundanya.


Buk Salmah mendelik ke arah anaknya karena kesal tidak di kasih tahu, dan terus merasa khawatir.


"Dari tadi bunda menunggu mu dengan resah, karena tak biasanya kamu pulang telat, kalau pun telat pasti kamu telpon bunda, tapi kali ini kamu asyik nongkrong tapi lupa waktu dan orang tuamu!" dengusnya.


"Apa Reno ada di sana?" tanya buk Salmah dan Riska langsung menggeleng.


"Reno.. habis sekolah langsung pergi ke kantor bun!" jelas Riska.


Buk Salmah hanya manggut-manggut. "Hebatnya calon mantuku! tapi malah kamu asyik nongkrong" ledek buk Salmah membuat Riska tertunduk lesu.


"Ya bunda" gumamnya makin merasa bersalah.


"Masuklah sana, lain kali ijin dulu biar bunda atau Reno tidak khawatir, keluarganya sudah menerima mu dengan baik, kau harus benar-benar menjaga hubungan kalian" nasehat buk Salmah.


Riska langsung masuk rumah dengan langkah gontai, sambil menuju kamarnya.


"Hum.. semua ini memang salah ku" gumamnya, sambil melepas seragam sekolahnya, pergi membersihkan diri dan solat.


Selesai menjalankan kewajibannya Riska langsung istirahat, sambil merebahkan tubuhnya dia membuka ponselnya membuka galerinya memandang fotonya Reno, sebagai permintaan maafnya Riska dengan iseng mengirim fotonya yang lagi tidur dan tersenyum.


Reno masih meeting saat mendengar notifikasi di ponselnya langsung dia buka, dan berhenti sejenak untuk melihat ponselnya, betapa terkejutnya melihat foto wanita yang di cintainya Reno langsung sumringah, dan membalasnya.


Reno (Terima kasih sayang, istirahat lah, aku lagi meeting)


Riska (Maaf mengganggu mu, aku merindukanmu, maafkan salah ku hari ini, itu sebagai permintaan maaf ku, lanjutkan bekerja sayang) balasnya, tak lupa menaruh tanda love di akhir, sehingga membuat Reno senyum-senyum sendiri.


Para karyawan di ruang meeting semua terheran-heran, tadinya melihat wajah atasan mereka kusut, tapi setelah di telpon langsung berubah sumringah.

__ADS_1


Reno yang menyadari dirinya di tatap, menjadi salah tingkah.


"Hem.. kita lanjutkan" ujarnya sambil tersenyum, pak Burhan yang melihat Reno begitu ceria hanya tersenyum simpul, sambil menunduk.


Meeting pun berjalan lancar sampai sore, Reno segera menyelesaikan pekerjaannya biar bisa pulang cepat dan menemui sahabatnya, saat keluar meeting langsung kirim pesan pada Riko dan Beny untuk bertemu di tempat nongkrong biasanya.


***


Sedangkan di cafe Mia, Rani dan yang lainnya, setelah beberapa menit Riska pulang, mereka pun ikut pulang setelah menghabiskan makanan dan minuman mereka, tapi di parkiran mereka masih mengobrol karena tak rela waktu bersama mereka sangat sebentar karena Riska yang duluan pulang.


"Beb.. minggu besok kita jalan yuk" ajak Riko pada Mia.


"Boleh, tapi kamu yang ijin sama papi mami ku!" minta Mia.


"Apa tak bisa kamu saja yang minta ijin beb" keluhnya dengan lesu.


"Ya udah kalau tidak mau, tidak usah jalan, nggak apa kok" sungut Mia kesal.


Riko makin lesu mendengar ucapan Mia, karena dia sendiri tidak berani minta ijin, Riko selalu berbohong pada sahabatnya bahwa cintanya mulus tampa rintangan restu orang tua mereka, tapi nyatanya setiap jalan mereka selalu diam-diam.


Beny mendelik ke arah Riko dan Mia. "Bukannya kalian sudah di restui? bebas keluar jalan kapan pun kalian ada waktu?" tanya Beny.


"Tau ah.." sungut Mia makin kesal, "Tanya saja sama temanmu yang cemen itu, setidaknya kamu berani bicara langsung dengan papanya Rani, tapi dia!" tunjuknya dengan marah.


"Ayo Rani kita pulang" dengusnya.


Beny yang melihat Rani menaiki sepedanya langsung menghampirinya.


"Rani, hati-hati di jalan, besok kalau kalian ada acara ngumpul, maaf aku tidak hadir, aku ada latihan sama calon kakak ipar ku" ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya sehingga membuat Rani tersipu.


"Percaya diri banget kamu! kamu kira abangku akan bersikap baik padamu! dia sangat galak, hati-hati saja saat latihan" gurau Rani sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa, itu perjuangan ku untuk menaklukkan hati calon papa mertua dan kakak ipar ku" ucapnya mantap, dengan senyum lebar, sambil melihat Rani mulai menaiki sepedanya.


"Baiklah, semangat berjuang, bila ke dua rintangan itu bisa kamu lewati, aku menerimamu!" teriak Rani dengan malu sambil melajukan sepedanya.


"Apa? katakan sekali lagi" teriak Beny sambil mengejar sepeda Rani, tapi sudah keburu menjauh. "Lihat saja nanti, aku pasti akan meluluhkan mereka! gadisku" teriak Beny, sambil mengacak-acak rambutnya karena bahagia dengan ucapan Rani.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2