CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
MERASA TERTANTANG.


__ADS_3

Dengan senyum kesal Tara pergi dari depan rumah Riska dengan wajah kesalnya.


"Huh! apa susahnya sih menerima ku, apa lagi hubungan mu dengan Reno pun belum jelas, kamu terlalu jual mahal, dan sikap mu ini membuat ku merasa tertantang" gumamnya sambil tersenyum licik.


"Lihat saja nanti, kamu akan menyesal karena terus menghindari ku, aku tak mau kalah dari Reno!" batinnya, mantap.


Sampai rumahnya langsung masuk kamarnya tampa memperdulikan panggilan mamanya.


Dengan kesal langsung membanting pintu.


Sambil menghempas kan tubuhnya di kasur terus mengepalkan tangannya, membayangkan wajah Riska yang begitu cuek, sambil memejamkan matanya.


"Kamu lihat saja nanti!" gumamnya.


Tara bangun dengan perlahan, masih dengan wajah kecewanya, terus memandangi wajah Riska di layar ponselnya, "Huh.. maafkan aku, seburuk apa pun sikap mu, tapi kenapa rasa cinta ku lebih besar dari rasa benci ku, sehingga aku sulit menyakiti mu" keluhnya sendiri, lalu menunduk memejamkan matanya.


Terus mengingat senyum manis dan cerianya dari awal Tara melihatnya, wanita cantik dan manis, berwajah oval, mata bulat nan bulu mata lentik dan bibir tipisnya membuatnya tak bisa berpaling dari Riska. "Kamu sudah mengambil semua cinta ku, hingga aku tak mampu berpaling Ris.. tapi sayangnya cinta ku bertepuk sebelah tangan, kata kan aku harus apa Ris..!" lirihnya, hingga bulir bening keluar dengan sendirinya dari pelupuk mata Tara.


Di luar kamarnya buk Yuni mamanya Tara mengetuk pintu kamar anaknya, karena merasa ada yang terjadi pada putranya.


Tok.. tok..

__ADS_1


"Bang! abang kenapa? ayo buka pintunya, mama mau bicara sebentar" teriak buk Yuni.


"Tak ada apa-apa ma!" teriak Tara dengan buru-buru.


"Ayo buka sebentar, mama mau bicara" desaknya dengan tak mau menyerah.


"Nanti saja ma, abang mau belajar" teriaknya lagi.


Dengan merasa putus asa buk Yuni berhenti memaksa putranya untuk bicara, "Baiklah sayang, kalau ada apa-apa, bilang sama mama ya!'


Tara pun di dalam kamarnya merasa bersalah pada mamanya, tapi itu masalah pribadinya, tidak mau orang tuanya ikut campur.


Dengan memberanikan dirinya Tara mencari nomer Riska yang dia minta pada teman kelompoknya, dan mengirim sebuah pesan singkat.


Tara ("kamu sungguh indah, seperti bunga-bunga yang kamu siram, hingga aku sama sekali tak berani menyentuh atau menyakiti mu").


Tara ("Tapi suatu saat aku berharap bisa menyentuhnya dan membawa ke dalam pelukan ku!")


Ting..


pesan Tara pun terkirim, sehingga membuat hatinya bergetar, entah balasan apa yang akan Riska berikan.

__ADS_1


Riska yang sedang bertukar pesan dari dengan Reno membuatnya merasa tak nyaman.


"Apaan sih ni orang! ganggu terus" gumamnya dengan rasa kesal.


Riska mengenalnya karena foto profilnya adalah wajah Ruhi.


Dengan menghela nafasnya dengan kasar Riska membalas.


Riska ("Tolong jangan begini Tara, kita bersahabat saja, tolong jangan ada dendam di antara kita, aku do'ain kamu mendapatkan yang lebih baik dari ku").


Tara ("ku merasa menjadi pengecut bila menyerah sebelum berjuang, sebelum janur kuning melengkung aku tak akan menyerah Riska, kamu cinta pertama ku").


"Riska ("Hentikan Tara! jangan membuat aku risih, dari siapa kamu mendapatkan nomerku! jangan hubungi aku lagi!") kesalnya.


Tara kembali membalas hanya mengirim kata-kata singkat,


Tara ("I love you Riska Cantika").


Dengan geram Riska melempar ponselnya di atas kasurnya saat membaca pesan terakhir dari Tara.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2