
Reno yang merasa heran dengan sikap manja dan cengeng pamannya, membuatnya ingin tahu seperti apa ngidam itu.
Mamanya yang melihat Reno heran langsung menyemprotnya dengan ucapan lagi, sehingga membuatnya cemberut.
"Jangan heran begitu Reno! bagaimana pun tingkah paman mu itu karena dia mengidam, tunggu kamu setelah menikah saat istrimu hamil, pasti tingkah aneh-aneh akan terlihat dari dirimu" jelasnya panjang lebar.
"Benarkah ma? tapi tak apa jika aku di manjain" ujarnya, sambil melirik Riska, mamanya yang melihat tingkah anaknya langsung dia cubit.
"Sakit ma! kenapa Reno di cubit?" keluhnya sambil mengusap lengannya.
"Mata mu itu di jaga, sekolah mu lagi sebentar, jangan sampai kamu mencolek Riska, atau meliriknya dengan genit, tidak boleh!" tegasnya, sambil merangkul Riska yang menunduk malu.
Neneknya yang melihat tingkah cucunya juga menjadi gemas sendiri.
"Tak apa kalian menikah muda, agar nenek bisa bertemu dengan cicit ku, agar aku bisa mati dengan tenang!"
"Mami..! teriak semua anak menantunya, dengan sedih.
Buk Laras adalah sosok ibu dan mertua yang baik, selalu memperlakukan anak dan menantunya dengan sama, sehingga buk Rima dan Selena merasa bukan ibu mertua, tapi melainkan serasa ibu kandung sendiri.
__ADS_1
"Umur tidak ada yang tahu, siapa tahu besok, atau lusa, bahkan nanti mami mungkin tiada, kalian harus selalu rukun dan saling menyayangi, apa pun kesusahan tetap saling membantu" nasehatnya, membuat mereka sedih.
"Mami akan selalu sehat, sampai cicit buyut mami lahir nanti"
Buk Rima dan Selena langsung memeluk mertuanya dengan sayang.
Riska yang melihat kasih sayang keluarga itu begitu terharu, begitu beruntung di terima di keluarga yang begitu baik, bahkan Riska ikut meneteskan air matanya.
"Nenek akan panjang umur, Reno janji selepas sekolah akan langsung menikah, dan membuat kan nenek cicit yang banyak" guraunya, membuat Riska mendelik ke arahnya, sedangkan Reno hanya cengengesan.
Pagi yang begitu indah, acara kumpul keluarga menghabiskan hari minggu dengan begitu ceria.
Riska dan Bimo bermain sampai sore barulah di antar pulang, setelah selesai membuat kue yang banyak untuk aunty Selena dan nenek Laras.
Kala Reno sudah sampai, terlihat Riko sudah duduk bersama Beny, Dengan kesalnya Riko melajukan jalannya agar segera sampai.
Bug bug.. plak..
"Auh..sakit!" keluh Riko mengusap lengannya, sambil mendelik kearah Reno.
__ADS_1
Reno duduk menghempaskan dirinya, sambil memandang Riko dengan kesalnya.
"Tega banget kamu! tak ada satu pun pesan kami yang kamu balas, bahkan terkesan menghindari kami" dengusnya.
"Hehe, maafkan aku bro, aku sengaja mengetes kesabaran kalian"
Deny kesal, Beny juga mendorong, bahu Riko.
"Haha, aku tak menyangka, kalau aku di jodohkan dengan pacarku sendiri" ujarnya cengengesan.
"Kata kan yang sebenarnya bro" timpal Beny, Reno pun diam tanda tak perduli.
Riko melihat ke arah Reno dengan tatapan tatapan mengejek, lalu tertawa.
"Haha sabar bro, jangan begitu" ujarnya melihat Reno dan Beny.
"Tidak usah berbelit-belit, katakan saja, apa susahnya" cibir Reno.
"Haha, ya seperti yang kalian tahu, aku dan Mia tampa tahu ternyata kami di jodohkan dari bayi, tampa kami tahu" ujarnya tersenyum.
__ADS_1
"Saat aku pulang dari cafe kemarin, pas sampai rumah, aku di sambut mama, katanya ada sahabat lama papaku dan keluarganya, tadinya aku ogah-ogahan bertemu mereka, tapi saat tante Ayu menyebut nama Mia aku kaget, dan perlahan melihatnya ternyata mereka adalah keluarga Mia, pas kami saling lihat ternyata benar Mia pacar ku sendiri, Mia pun sama kagetnya" cerita Riko sambil tersenyum.
BERSAMBUNG..