CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
KEBAHAGIAAN.


__ADS_3

Setelah lama bertukar kabar, Selena dengan keluarganya, dia sangat sedih karena, saat kebahagiaan yang dia rasa kedua orang tuanya jauh di sana.


Bagas yang melihatnya langsung menghibur istrinya, begitu pun dengan anggota keluarga yang lain, terus berusaha menghibur Selena agar selalu bahagia.


"Sayang jangan bersedih, saat acara syukuran kehamilan mu yang kedua, papa dan mama akan kesini, kau lihat kan? mereka sangat bahagia" bujuk Bagas, Selena mengangguk dan langsung ceria.


"Mama harus selalu bahagia, agar adik-adikku juga bahagia" bujuk Anton, menyemangati, sambil mengelus perut mamanya yang masih rata.


Buk Rima yang melihat keharmonisan keluarga kecil itu, juga ikut bahagia.


"Kalian nginap lah di sini, katakan kau mau makan apa? kakak akan buat kan" ucap buk Rima antusias.


Terlihat Selena berpikir, dan akhirnya tersenyum, "Kak!" panggilnya manja, sambil meremas tangannya dengan malu-malu.


"Hem.. katakan dek, jagan malu" ujarnya memastikan, sambil menunggu permintaan Selena, buk Rima harap-harap cemas, karena paham ibu hamil kadang di luar kendali.


"Em.. aku ingin membuat kue, ada resep baru dari buk Salmah, tapi.. aku mau kakak yang buatin" sambil menunduk dan tersenyum malu.


semua orang yang melihatnya sangat menggemaskan, tingkah Selena benar-benar seperti anak kecil.


"Baiklah, mana resepnya?" pinta buk Rima, dengan cepat Selena merogoh tasnya mencari resep kue yang dia simpan.


Dengan hati riang Selena mengikuti kakak iparnya ke dapur, dan ikut membantu, buk Rima melarangnya tapi dia tetap tak mau, alhasil mereka membuat bersama-sama.


Keharmonisan keluarga itu sungguh terasa lengkap, karena semua anggota keluarga sudah berkumpul.


Sedangkan Selena begitu tak sabar menunggu kue itu matang.


"Kak, lama sekali matangnya aku ingin mencicipinya" ujarnya tak sabar, terlihat air liurnya beberapa kali dia telan.


"Sabarlah sebentar lagi beberapa menit, sambil menunggu kau makan buah dulu" ajaknya, dengan selalu tersenyum Selena pun meng iya kan.


Buk Rima mengupas kan buah mangga yang sudah matang, dan beberapa buah lainnya, untuk makan bersama-sama.


Saat kue sudah matang, Selena begitu antusias, dia sampai bertepuk tangan saking bahagianya,


"Kak, aku yang potong" rengeknya, tampa bicara apa pun buk Rima mempersilahkan, Selena membagi semua anggota keluarganya, termasuk para pelayan rumah itu, semua di suruh berkumpul.


Reno pun tiba di waktu yang tepat, kala mencium aroma kue kesukaannya, dia begitu senang apalagi dalam keadaan sedikit lapar.

__ADS_1


"Mami, bagaimana rasanya? apa enak?" tanya Selena sumringah.


Mami mertuanya, terlihat berpikir, dan langsung tersenyum, "Ini sangat enak, kalian pintar membuat kuenya, mami sangat menyukainya" pujinya.


"Itu resep dari calon mertuanya Reno" ceritanya polos.


Hug hug hug..


Reno yang lagi asyik makan kue kesukaannya langsung tersedak karena ucapan bibinya.


Neneknya terlihat heran, karena belum tahu reno sudah ada yang dia sukai. "Benarkah Reno? kau sudah punya pacar?" tanya sang nenek.


Reno yang tersedak, langsung minum untuk melegakan tenggorokannya, dan tersenyum pada neneknya, "Belum boleh pacaran nek, kami hanya berteman" ceritanya menunduk.


"Benarkah? coba kamu kenalkan sama nenek, biar nenek nilai, cewek seperti apa dia!" dengan tegas ingin bertemu.


Reno langsung terlihat lesu, bingung bagaimana cara menjelaskan pada Riska agar mau ikut bersamanya datang ke rumahnya, "Akan Reno usaha kan nek" ujarnya lesu.


"Besok bawalah dia kesini saat pulang sekolah" ujarnya Tampa harus di bantah. "Tapi nek..!" mohonnya frustasi.


"Tidak ada api-api!"


***


Ke esok kan paginya Reno menunggu Riska di depan sekolah, untuk mengajaknya main kerumahnya.


"Cantik, tunggu dulu!" pintanya tersenyum.


"Ada apa? ayo kita kedalam saja, jagan di sini" ajak Riska, dan di ikuti oleh Reno.


Selesainya Riska memarkirkan sepedanya, dia langsung menghampiri Reno, "Ada apa? apakah sangat serius sehingga kamu terlihat gugup?" tanya Riska begitu heran.


"Huh.. cantik, nanti sepulang sekolah, maukah kamu datang ke rumah ku" pintanya dengan lesu.


"Ada apa? katakan yang jelas!" tuntutnya tak sabar.


"I itu, nenek mau bertemu kamu, minta kamu datang ke rumah ingin mengenal mu, ini gara-gara aunty Selena menyebut nama kamu, karena resep kue yang mereka buat, resep dari bunda" ceritanya dengan berapi-api.


Riska berpikir sangat lama, menimbang permintaan neneknya Reno, "Pikirnya gak ada salahnya, itung-itung bersilaturahmi" batinnya.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku harus ijin dulu sama ayah dan bunda"


"Tentu sayang, ajaklah Bimo juga, aku akan menjemput kalian" ujarnya sambil mengerlingkan mata, sehingga membuat Riska tersenyum malu.


"Tapi apa kau tak bekerja?" tanya Riska perhatian.


"Nanti aku bisa mengerjakan pekerjaan ku dari rumah, sambil menunggu mu berbincang dengan nenek"


"Kenapa terdengar menyeramkan? apakah nenekmu galak?" tanya Riska dengan rasa takutnya.


"Haha! kau kira nenek ku hantu? tidak, nenek orangnya baik, apalagi jika kau bisa mengambil hatinya, beliau akan benar-benar menyayangi mu" tuturnya menyakinkan.


Sepanjang pelajaran Riska tak fokus, dia terus memikirkan ucapan Reno, Mia dan Rani yang melihat sahabatnya tak seperti biasanya, menjadi sedikit khawatir.


Pas keluar bermain kedua sahabatnya bertanya karena penasaran, "Ris.. kau kenapa? dari tadi terlihat berpikir" tanya Mia merasa khawatir.


"Ah.. itu, aku sangat bimbang, neneknya Reno ingin bertemu" keluhnya lesu, Mia dan Rani langsung kaget, karena keluarga Reno semuanya serius dalam hubungan apa pun.


"Wau.. benar-benar luar biasa, mereka benar-benar merestui mu, kalian benar-benar beruntung" puji Rani dengan sendu. karena dalam hal apa pun hidupnya tak pernah beruntung.


Riska dan Mia langsung memeluk Rani, "Sabar Rani, aku yakin suatu saat kamu akan mendapatkan restu orang tuamu" hibur mereka.


setelah selesai makan di kantin Riska dan sahabatnya, pun menuju kelas, karena sebentar lagi bel berbunyi.


Sepanjang pelajaran Riska tak konsen, hingga pulang sekolah menuju parkiran sepedanya, dia terus memikirkan sikap apa yang pantas dia lakukan nanti, "Apakah neneknya Reno galak? cerewet? aku takut beliau marah karena aku suka cucunya, atau akan menyuruhku menjauhi Reno?" batinnya.


"Riska!" teriak Mia, membuat Riska kaget kala menuntun sepedanya.


"Ada apa Mia?"


"Ada apa, ada apa, lihat itu! sepedaku yang kamu ambil" sungutnya dengan kesal.


Sambil nyengir Riska menyadari kesalahannya.


"Hehe! maafkan aku Mia" sesalnya sambil menyatukan kedua tangannya, "Ya udah, sini tukaran sepedanya, kita pulang ayok" ajaknya.


Rani yang melihat perdebatan kedua sahabatnya jadi tertawa terpingkal-pingkal merasa lucu, "Haha! kalian ini lucu banget sih, kok bisa-bisanya salah ambil, kamu juga Riska, bawa sepedanya Mia, apa sekeras itu kamu memikirkan tentang neneknya Reno?" tanya Rani, dan di anggukkan oleh Riska.


"Percayalah, kalau beliau ingin bertemu denganmu, berarti dia ingin mengenal mu lebih jauh, dan siap atau tidaknya, lambat laun kamu juga akan bertemu" nasehat Rani.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2