
Rasa penasaran Bimo pada gadis kecil cantik jelita itu, selepas bundanya pergi, Bimo berlari ke pintu kelas, untuk melihat sosok cantik itu lagi.
Seakan tak ada kapoknya, Bimo tak ingat lagi pesan ayah dan bundanya, saking penasaran pada gadis itu.
"Ya tuhan betapa cantiknya, dia ngalahin Ana dan Ruhi" gumamnya.
Sambil mengusap dadanya yang berdebar dengan cepatnya ketika melihat gadis itu, baru saja dia mau melangkah maju, mau berkenalan, tapi dia ingat pesan ayah dan bundanya, sehingga Bimo mengurug kan niatnya.
Dengan langkah lesu kembali ke bangkunya, duduk bersebelahan dengan teman lelakinya bernama Anton.
Anton yang melihat Bimo duduk tak bersemangat, langsung bertanya, "Bimo, kamu kenapa? apa kamu sakit?" tapi hanya di balas gelengan oleh Bimo, sedangkan Anton semakin heran.
Bimo menelungkupkan wajahnya, pada kedua lengan yang dia lipat di atas mejanya, lalu memposisikan wajahnya ke arah Anton.
"Anton!"
Anton yang lagi fokus membaca, langsung menoleh ke arah Bimo, dengan mengangkat sedikit dagunya tampa bicara.
"Pernahkah kamu menyukai seorang gadis?" tanya Bimo penasaran, membuat Anton mengernyit heran, "Maksudmu?"
"Menyukai wanita cantik untuk menjadi pacar mu!" ujarnya, Anton lalu menggeleng pelan, "Aku masih kecil, tugasku belajar dan bermain, kata papa dan mama ku, aku tidak boleh memikirkan hal seperti itu, karena belum waktunya"
Bimo yang mendengar jawaban Anton pun tercengang, "Jadi sekali pun, tidak pernah?" Anton langsung mengangguk, dan kembali membaca bukunya.
Bimo lalu menegakkan tubuhnya sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Anton meliriknya, dan tersenyum kecil, baru pertama kali bertemu anak seusianya yang benar-benar sudah berpikir seperti orang dewasa tentang gadis.
Bel sekolah pun berbunyi, semua siwa siswi berhamburan masuk kelas, dan sosok yang dia cari ternyata satu kelas dengannya, sehingga membuat Bimo begitu sumringah.
Di liriknya gadis cantik itu, tampa berkedip, dengan senyum merekah, dan Anton memperhatikan Bimo yang begitu bahagia, dan memperhatikan arah pandang Bimo, barulah Anton paham.
Saat pelajaran di mulai, Bimo pun masih tak fokus, sehingga Anton menepuk pundak Bimo, dan membuat Bimo begitu kaget.
__ADS_1
"Apa sih?" ketusnya.
"Kamu tak fokus pada pelajaran, nanti guru menghukum mu, matamu ke arah gadis jelek itu terus, kamu mau datang belajar atau datang mencari pacar?" cibir Anton.
membuat Bimo makin mendelik kesal.
Buk guru yang melihat perdebatan di bangku nomer tiga itu, langsung menegurnya.
"Bimo! Anton! fokus lah, jangan bercanda terus" teriak sang guru, sehingga menghentikan perdebatan mereka.
Bimo begitu kesal pada Anton, yang merusak suasana hatinya, sampai pelajaran usai, Bimo tidak mau menegur Anton, begitu pun dengan Anton.
Setelah bel berbunyi semua keluar bermain ter masuk Bimo, tampa mau mengajak Anton, sedangkan Anton masih sibuk dengan bukunya.
Bimo begitu tak nyaman, karena belum ada teman yang dia ajak main, lalu duduk sendiri di bangku kosong yang ada di taman sekolah.
"Huh, menyebalkan si kutu buku itu! masih saja di kelas, kenapa ilham tidak sekolah disini sih! agar aku punya teman" gumamnya, sambil menunduk.
Tiba-tiba ada ada tangan yang memberikan dia minuman dingin, Bimo langsung mendongakkan kepalanya, ternyata Anton lah yang memberikannya.
"Kenapa kau berdiam diri di sini? nih, minumlah, ayo bermainlah dengan teman-teman di sebelah sana" ajak Anton.
***
Sedangkan Tara yang sudah terlanjur kecewa dan sakit hati dengan Reno, tampa dia perduli lagi, setelah Bel berbunyi, Tara langsung pergi menghampiri Riska, yang lagi asyik di kantin bersama kedua sahabatnya.
Tampa Riska sadari kedatangan Tara yang tiba-tiba membuat dia kaget dan kedua sahabatnya, dan langsung bangun dari duduknya, tapi dengan cepat Tara menghalangi Riska, tampa berani dia sentuh.
"Tunggu Riska! aku hanya mau bicara sebentar!" tegasnya, sedangkan Riska tetap diam tampa bicara apa pun.
Tara menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar, sambil melihat ke arah Riska.
"Aku mau tanya, apakah kamu sudah resmi pacaran dengan Reno? kalau sudah.. aku akan mundur, tapi.. kalau belum, aku tetap akan maju, aku hanya ingin kasih tahu, aku menyukaimu" ucap Tara, membuat Mia dan Rani tercengang.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak boleh pacaran, apa lagi saat kelas tiga ini, aku ingin fokus belajar, tampa harus memikirkan lain hal, atau orang lain dalam pikiran ku, silahkan cari yang lain saja, aku tidak.. " dengan menyatukan kedua tangannya memohon, agar tidak di ganggu.
"Cukup! aku tahu, tapi aku akan tetap menunggu mu, dan bersaing dengan sehat sama Reno!" ujarnya lalu pergi begitu saja, membuat Riska dan ke dua sahabatnya makin tercengang, Reno di ujung sana yang melihat Tara yang ngotot bicara, dan sudah jelas Riska menolak, membuatnya makin geram.
"Sabar bro, jangan emosi, biarkan saja, nanti semakin kau menekannya, dia akan semakin berani, asalkan Riska sudah sepenuhnya mencintai mu, biarkan saja" nasehat Riko.
Reno pun mengikuti saran sahabatnya, tampa dia bertanya pun pada Riska.
Sepulang sekolah, Reno menunggu Riska di gerbang sekolah.
Riska yang melihat Reno menunggunya, langsung menghampirinya, dengan senyum merekah, begitu pun dengan Reno.
"Cantik, pulang lah, jagan mampir ke mana-mana, aku habis ini akan langsung ke kantor, pak Burhan sudah mengirimkan jadwal ku sampai nanti sore, nanti sebelum kau tidur, kasih kabar aku ya? agar aku tidak menganggu mu dengan pesan ku saat kau sudah tidur" pesan Reno panjang lebar, membuat Riska merona.
"Hem, baiklah, kau juga hati-hatilah di jalan" jawab Riska malu-malu.
Mia dan Rani menghampiri Riska, "Hem, udah dong buk, relakan kepergian abangnya, kan mau pergi cari uang buat adek" ledek Mia, sedangkan yang lain menahan tawanya, membuat Riska makin malu dan salah tingkah.
"Em, ya udah, aku.. pulang dulu.."
"Ya sayang!" goda Mia dan Rani serempak, Riska langsung melotot dan malu ke arah sahabatnya.
"Hihihi, maaf sayang, ayo kita pulang, relakan abangnya cari nafkah dulu ya?" ledek nya makin gencar, sedangkan Reno hanya tersenyum simpul.
"Pulang lah cantik, hati-hati di jalan, kirimkan pesan kalau kamu sudah sampai rumah" pesannya sekali lagi.
Riska pun pulang dengan kedua sahabatnya mengayuh sepeda kesayangannya, dan Reno langsung menuju ke kantor papanya, pekerjaan menantinya sudah menumpuk di sana.
Sampainya Reno di kantor, beberapa karyawan menatapnya heran, karena melihat Reno memakai seragam sekolah, tapi mereka cuma menatap saja, tidak berani berbisik, atau bergosip karena takut pada bos mereka.
Setelah Reno tiba di ruangannya, pak Burhan langsung menunjukkan, berkas yang akan di kerjakan, dan langsung meninggal kan Reno dengan kesibukannya.
Cukup lama berkutat, sampai menjelang magrib Reno masih dengan kesibukannya, dan berusaha menyelesaikannya dengan cepat, setelah hampir jam sembilan, baru lah semua pekerjaannya selesai, dengan cepat Reno merapikan semua dokumennya dan langsung pulang, karena merasa sudah sangat letih, seharian sekolah dan bekerja.
__ADS_1
BERSAMBUNG..