CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
KEGUGUPAN RISKA.


__ADS_3

"Entahlah perasaan apa ini, kenapa, aku jadi begini sih, ah..sial teman-temanku pasti heran dengan sikap ku, kenapa juga dia di depan sih, aku kan merasa deg deg gan. sambil meraba dadanya, merasakan debaran jantungnya yang lebih cepat dari biasanya. kenapa aku bisa gugup begini sih saat melihatnya" batin Riska.


"Tunggu!" Teriak Rani dan Mia, barengan.


Riska makin gugup, saat ke dua sahabatnya teriak memanggilnya.


"Hey, ada apa denganmu? kamu mau lari begitu saja tanpa penjelasan?" sungut Mia berkacak pinggang.


"Hah, pen penjelasan apa? gagap Riska, pada sahabatnya.


"Wah wah ada yang lagi amnesia, ayo cepat kita bawa ke rumah sakit, biar ingatannya kembali" sindir Rani.


"Tidak ada apa-apa kok, ayo cepat kita ke kelas, bentar lagi bel masuk bunyi" Riska langsung lari meniggalkan ke dua sahabatnya.


Mia dan Rani begitu sebal, dengan kelakuan Riska, muncul lagi Reno dengan sahabatnya makin buat Mia dan Rani sebal.


"kamu apa kan sahabatku hah!" teriak Mia.


"Tidak ada" sahut Reno berlalu pergi.


"Kami juga heran dengan kelakuan Reno, tak biasanya dia begitu, jadi kalian jangan minta penjelasan pada kami" terang Beni.


Huh Rani mendengus, mendengar ucapan Beni.


Di kelas Riska masih gugup, untung saja aku nggak satu kelas sama Reno, aku bisa-bisa makin gugup, "Ada apa ya dengan jantungku ini? apa aku kena serangan jantung?" batinnya.


Sesampainya di kelas Mia dan Rani, langsung mendekati Riska. menatap tajam pada Riska, dan yang di tatap hanya diam.


"kalian kenapa? kok marah begitu? apa aku ada salah?" ucap Riska pura-pura.


"Ya kamu harus jelaskan! apa kamu sudah jadian sama Reno?" tanya Mia,Riska hanya menggeleng.


"Terus kanapa sikap kalian begitu? kamu dan Reno sama-sama aneh" sahut Rani.


"Em..aku tidak tahu" gumam Riska.


"Sudahlah, diam Rani! nanti kita bahas lagi, lihat pelajaran sudah di mulai itu" Riska hanya nyengir pada sahabatnya.


"Aduh aku merasa tersangka deh, nanti pas keluar main kedua sahabatku ini pasti tidak akan tinggal diam. Ahh kenapa aku gugup begini sih, kan aku beneran tidak pacaran sama Reno, ya ya aku tidak usah merasa bersalah"


Riska terus bicara sendiri dalam hati, sepanjang pelajaran dia tidak konsentrasi.


Bel pun berbunyi, Riska mau tetap di dalam kelas, tapi di paksa keluar sama sahabatnya, karena mereka sudah lapar.


"Ayo cepatlah, kenapa kamu hari ini aneh sih, tadinya yang bar-bar, sekarang malah berubah menjadi anak kucing kamu Ris" dengus Mia.

__ADS_1


"Ya nih aku rasa kayaknya dia kesambet deh" angguk Rani.


Dari arah beberapa meter Reno melihat perdebatan sahabat Riska, dia hanya senyum saja.


"Tuh lihat mereka juga heran, bukan kita saja yang heran dengan kelakuan kalian" ucap Beni.


"Bener bro" ujar Riko.


"Apaan sih kalian ribut mulu dari pagi, kayak emak-emak tukang sayur" ledek Reno.


"Bug, kampret, lo udah buat kita penasaran tauk.., malah ngatain kita emak-emak lagi" Beni meninju Reno dengan ringan.


Reno hanya menggeleng sambil tersenyum.


"Beneran aku dan Riska tidak pacaran, kan sama ayahnya tidak boleh, aku sudah janji juga sama ayahnya untuk menjaganya dan menunggu dia sampai lulus sekolah"


"Lalu kenapa Riska seperti itu juga? biasanya dia sangat bar-bar kalo bertemu kamu, tapi sekarang kok manis gitu kayak kucing" sahut Riko.


Reno yang di tanya hanya, senyum simpul, terpancar jelas di wajahnya begitu bahagia.


Begitu pun dengan Riska dia menjawab pertanyaan temannya dengan biasa saja, tapi mereka tidak percaya, karena itu bukan sipat Riska, yang terlihat manis.


sepulang sekolah tetap sama, sikap mereka berdua saat bertemu sangat membuat mereka heran. saling menyapa dengan manis, senyum simpul, dengan malu-malu.


"Oh Tuhan, geli aku melihat kalian begitu!" gerutunya, mereka ber empat antara sahabat Reno dan Riska.


"Hati-hati cantik, jangan singgah di mana pun, langsung pulang, ok?" Kata-kata manis dari Reno buat mereka pingin muntah.


dan Riska anehnya langsung menganggukkan kepala, tersenyum malu.


Riska pun berlalu, sama ke dua sahabatnya, Reno berhenti menatapnya setelah Riska tak terlihat.


"Masih belum puas kah? pujaan


hatimu sudah pulang, apa kamu mau di sini jadi penjaga gerbang sekolah bro?" ledek Riko, melihat ke aneh han sahabatnya bikin dia pusing.


"Ya, ayo kita pulang, mereka sama-sama menaiki motor masing-masing dengan cepat.


Tak pernah aku merasa sebahagia ini Tuhan, tolong biarkanlah aku merasakan rasa ini selamanya, aku mencintai gadis itu, ku mohon jagalah dia untuk ku. berbicara dalam hati sendiri, senyuman tak pudar dari bibir Reno.


"Riska ayo kita mampir ke kedai dulu beli minum" ucap Mia.


"Tidak Mia, kita langsung pulang saja ya?" belum saja temannya bicara, Riska langsung kabur berbelok menuju rumahnya.


Rani hanya berkacak pinggang, melihat punggung Riska yang menjauh, heran atas sikap temannya yang menurutnya tak biasa itu.

__ADS_1


"Ya udah ayo kita pulang saja" ajak Mia pada Rani.


Hari berlalu begitu cepat semuanya masih sama,hanya Reno dan Riska yang di rasa berubah oleh sahabatnya. mereka sudah kenaikan kelas.


Ayah dan bundanya merayakan kecil-kecilan di halaman rumahnya, membuat bakar-bakar. kedua sahabatnya tentu saja di undang. tanpa Riska tau Reno juga datang, tapi yang mengundangnya adalah Bimo waktu sepedaan kemarin dan Reno juga mengajukan mengajak sahabatnya, tentu saja Bimo setuju karena dia sudah suka pada Reno bahkan sudah di anggap kakaknya.


"Assalamu'alaikum, om, tante, Riska, Bimo dan semuanya. Riska tentu saja kaget.


"Siapa yang mengundangnya? setahu ku yang hadir keluarga ayah dan bunda dan ke dua sahabat ku"


Melihat Bimo yang antusias menyambut Reno dan sahabatnya tentu saja dia curiga, Riska memandang Bimo dengan tatapan bertanya.


"Aku yang mengundang kak Reno dan temannya kak, jagan menatapku begitu, bukan kah kakak tidak kasih aku mengundang Ana?" ucap Bimo nyengir, memperlihatkan gigi ompong nya.


"Lalu Desi kamu kemana kan hah?" sembur Riska.


"Dia hanya teman kencan ku kak, tetap Ana yang terbaik" ucapnya, Riska hanya memutar bola matanya.


"Huh dasar Playboy, siap-siap lah kamu di hukum ayah" sungut Riska.


Yang mendengar perdebatan itu hanya melongo, apalagi atas pengakuan Bimo yang masih kecil tapi sudah mengenal cewek, benar-benar lucu pikir sebagian mereka.


Tentu ayah dan bundanya malu atas cara bicara Bimo kecil, yang luar biasa itu.


"Masuk nak Reno, ajak teman-teman mu bergabung"


"Baik tante" ucap Reno sopan.


"Dek kenalkan, ini kak Beni dan kak Riko, mereka sahabatnya kak Reno" ujar Reno mengenalkan sahabatnya pada Bimo.


"Senang berkenalan dengan mu kak Beni dan kak Riko, aku Bimo" Bimo begitu senang sambil bersalaman.


Tentu saja Reno membawa kado spesial buat Riska, kado itu kecil tapi isinya juga tak kalah bagusnya, langsung disodorkan pada Riska.


"Selamat atas kenaikan kelasnya ya, ini kado buatmu simpanlah baik-baik bila saatnya kamu bersedia memakainya, baru kamu pakai aku akan sagat senang" ucap Reno, dan


mereka sama-sama tersipu malu.


"Terima kasih, selamat kenaikan kelas juga buatmu" ucap Riska merona.


"Silahkan nikmati hidangannya ala kadarnya, ayah dan bunda selalu buat acara syukuran setiap kenaikan kelas ku, aku mau simpan kado darimu dulu, sekali lagi terima kasih" ucap Riska merona.


Teman-temannya yang melihat sikap mereka hanya geleng-geleng, mereka bilang tak pacaran, tapi sikap mereka begitu manis.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2