
Buk salmah terus menunggu jawaban anaknya tapi tak kunjung juga Bimo bicara, hingga dengan kesal mengebrak meja.
Brak..
"Apa sesusah itu kamu bicara Bim! bunda murka kalau begini terus, capek bunda dek!" ujarnya.
"Ayah! daftarin saja nih anak di pesantren itu, capek bunda urus anak laki mu yang satu ini, menyerah aku bang!" keluhnya.
Sedangkan pak Arif hanya diam saja sambil melirik Bimo yang sudah menangis, tapi tak bersuara.
"Nakal kamu dek! tuh lihat Anton teman mu dia anak yang baik dan patuh, sekali di bilang jangan mana berani di ulang lagi, lah kamu kok, semakin di larang semakin jadi, nanti bilang maaf, besoknya juga terulang lagi, ayo dah! ayah nikahi kamu sama anak kecil yang namanya Ruhi itu, mau nggak!" tegur ayahnya.
Bimo terus menunduk dan menggelengkan kepalanya karena merasa takut dan bersalah.
"Tidak ayah, bunda, maaf.. "
__ADS_1
"Stop! kebanyakan minta maaf jadinya kesalahan mu terus di ulang-ulang deh, kesel bunda!" dengus buk Salmah.
"Cepat masuk mandi sana, bentar lagi magrib, bisa-bisa nanti tambah panjang deh aku ngomel" sembur bundanya.
"Sabar dek, sabar!" hibur suaminya sambil mengelus dada istrinya, Bimo dengan hati-hati dan perasaan bersalah langsung bangun dan masuk ke kamarnya.
"Heran aku sama anak mu bang!"
"Anak kita kali dek! jangan bilang anak abang saja, kayaknya usilnya itu menurun pada mu! hehe.. " goda suaminya sehingga membuat istrinya makin kesal.
Sementara Riska di kamar langsung mengirim pesan pada Reno bahwa ayahnya mau bicara dengannya, dan di suruh langsung menelpon ke nomer pak Arif.
Riska gelisah karena tak juga di balas, bahkan pesannya juga belum di balas atau pun di baca, sambil terus melihat ponselnya.
"Reno, ayo dong di baca! sesibuk itu kah dirimu di sana?" gumam Riska.
__ADS_1
Karena bosan tak juga kunjung di balas, akhirnya Riska menelpon Mia tapi tak kunjung di jawab, dan akhirnya menelpon Rani dan langsung di jawab, karena ingin bicara sementara menunggu magrib.
Rani yang asyik menonton drakor sedikit kesal karena panggilan Riska. "Ada apa sih buk, ganggu saja" ketusnya.
"Ih gitu banget sih! seharusnya berterima kasih padaku, bahwa aku membebaskan mu dari mimpi halu mu itu, aku tak mau kamu lama-lama jadi gila karena cowok yang tak mengenal mu itu!" balas Riska.
"Biarin saja ayang ku tak mengenal ku, asal kan dia selalu di hati ku, haha.. aku terus bermimpi karenanya, ingin rasanya aku yang berada di dalam pelukannya" ujarnya sambil tertawa.
"Ih kumat gilanya, suruh saja Beny peluk kamu, sana minta peluk" suruh Riska.
"Hehe! mana berani aku buk, yang ada aku di hukum papa, auto langsung aku di kirim ke kutub utara sana"
"Bagus lah biar halu mu itu hilang, sekalian panggil semua yayang mu dari sana, kan asyik!' sela Riska.
" Ah.. kamu kok gitu sih, tega sekali anda ini, sesekali dukung lah aku, aku juga butuh nutrisi pikiran dan cuci mata yang cakep-cakep agar tak stress, kamu saja yang beruntung sudah punya Reno yang sudah mirip opa-opa Korea, walau lebih ganteng ayang Beny ku haha"
__ADS_1
Riska hanya geleng-geleng kepala karena ucapan sahabatnya yang terus mengidolakan cowok Korea, sehingga di kamarnya juga penuh dengan poster mereka.
BERSAMBUNG..