CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
MENGUPING.


__ADS_3

Reno datang ke rumah Riska setelah pulang kerja seperti janjinya, hampir menjelang isya dia pun sampai di rumah Riska, karena pekerjaan yang tak bisa di tunda.


Reno duduk menunggu ayahnya Riska selesai solat baru akan mengobrol, sebelumnya di temani Riska di ruang tamu.


Yang mengejutkan Reno adalah Bimo saat keluar mengambil mainannya yang tertinggal di teras depan dia hanya melewati Reno dan Riska dengan wajah sedih, dan tampa menoleh ke arah mereka.


Reno terus melihat ke arah Bimo, begitu pun saat kembali, Bimo tetap cuek. Dengan heran Reno melirik Riska tapi Riska pura-pura tak tahu.


"Bimo!" teriak Reno kala sudah sedikit menjauh, Bimo pun berbalik melihat Reno.


"Ada apa kak?" tanya Bimo dengan lesu.


"Kau kenapa dek!" tanya Reno singkat.


"Jangan tanya aku dulu kak, aku lagi sedih, semua orang tak ada yang sayang pada ku, dan tak ada yang mau Bimo di sini lagi" gumamnya.


"Bimo! kenapa bicara begitu sih! nggak baik dek!" tegur Riska.


"Ini sebenarnya ada apa sih?" tanya Reno heran.


"Bunda sama ayah lagi marah padanya, begitu juga aku! tadi sore kami di sidang satu persatu" jawab Riska.

__ADS_1


Baru saja mau bicara lagi tapi ayahnya keburu datang, dan akhirnya Riska bangun dan langsung masuk menuju dapur untuk membuatkan minuman.


"Sudah lama nak Reno!" tanya pak Arif basa basi.


"Baru saja om!" jawab Reno sambil mengambil tangan pak Arif untuk bersalaman dan langsung dia cium dengan sopan.


"Maaf sudah buat kamu repot-repot datang padahal kamu begitu sibuk, om hanya ingin membahas tentang kamu dan Riska" ujarnya.


"Maksud om?" tanya Reno penasaran.


"Om sempat melihat bahwa Riska di ikuti oleh teman sekelas mu, anak laki-laki di kompleks depan sana, om hanya bilang jangan sekali pun kau main kekerasan, cukup kau jaga Riska saja, dan kau ikuti Riska pulang sampai rumah, baru lah kamu pergi ke kantor" terangnya pak Arif.


"Oh, ternyata itu, saya kira.. om akan menentang hubungan kami" ucap Reno dengan lega.


"Tidak mau om" sela Reno.


"Haha! begitu saja takut" ledek pak Arif.


"karena saya sudah cinta berat sama putri om, boleh kah kami nikah muda?" tanya Reno dengan malu.


"Boleh saja, asal kalian siap mental dan segala hal, dan finansial juga, masalah kuliah kan kalian bisa setelah menikah"

__ADS_1


Sontak saja membuat Reno bahagia dengan jawaban pak Arif, "Terima kasih om!" ujarnya sumringah.


Riska yang mendengar percakapan ayahnya dan Reno di balik dinding hanya senyum-senyum sendiri sambil memegang dadanya.


Bundanya yang melihat Riska menguping langsung di colek bahunya, sehingga membuat Riska kaget.


"Ih bunda! bikin kakak kaget saja!" bisiknya.


"Tak baik menguping pembicaraan laki-laki, biarkan mereka menyelesaikan sendiri, kamu tunggu jadi saja! kepo sekali kamu ini" tegur bundanya.


"Iya bunda maaf!" jawab Riska malu.


"Ayo ke dapur, bungkuskan calon mertua mu kue" ajak buk Salmah.


Riska terus tersenyum simpul, mendengar kata calon mertua, dan mengikuti langkah bundanya menuju dapur.


"Kak! apa kalian berencana nikah muda?" tanya sang bunda.


"Jika Tuhan memberi ku jodoh saat usia muda tentu akan kakak terima, dan begitu juga sebaliknya bunda" ujarnya mantap.


"Hem! nanti rumah ini akan menjadi sepi, apa lagi saat Bimo akan beranjak dewasa nanti, kalian tak akan pernah bisa ada waktu buat kami" keluh bundanya, sehingga membuat Riska juga sedih.

__ADS_1


pengemasan kue terus dalam diam, mereka larut dalam pikiran masing-masing.


BERSAMBUNG..


__ADS_2