CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
MERASA WAS-WAS.


__ADS_3

Sepanjang jalan Reno terus memikirkan pertemuan Riska dan Tara, merasa penasaran juga apa yang mereka bicarakan, karena Riska pun belum menelpon atau mengirim pesan sama sekali.


Sampai di kantor pun Reno tak fokus bekerja, Reno duduk berdiam diri di depan laptopnya, seakan enggan menyentuh pekerjaannya.


Pak burhan yang melihatnya begitu, langsung menegurnya dengan pelan. "Maaf pak Reno, apa ada masalah? sebentar lagi anda anda meeting" ujarnya dengan halus.


"Eh, pak Burhan! tidak ada apa-apa kok, ya ayo kita siap-siap" ujarnya lalu bangkit dari duduknya menuju ruang meeting.


Sepanjang pertemuan Reno terus berusaha fokus agar hasilnya maksimal, tampa memikirkan Riska lagi.


Beberapa jam pun berlalu,Reno pun selesai meeting, dia kembali ke ruangannya langsung duduk dan terus melihat ponselnya, berharap Riska menghubunginya dan memberi tahu tentang pertemuannya bersama Tara, tapi akhirnya Reno pun menyerah, dia langsung mengerjakan pekerjaannya agar bisa pulang cepat.


Sementara Riska sudah sore baru bangun dari tidur siangnya, dia bangun tapi masih rebahan dengan malas, sambil mengambil ponselnya, ingin mengirim pesan pada Reno.

__ADS_1


Riska (Ren.. apa kamu sibuk? aku mau cerita, tadi sepulang sekolah Tara tiba-tiba nongol di depan aku, buat aku sedikit risih, tadinya aku ajak dia temenan saja seperti teman-teman yang lainnya, tapi dia tak mau, besok-besok tolong antar aku pulang sampai gerbang rumah saja" pesan Riska panjang lebar terus menaruh ponselnya di meja riasnya, lalu bangun menuju kamar mandi mencuci mukanya dan belajar sebentar.


Reno yang sedang fokus bekerja penasaran dengan bunyi notifikasi di ponselnya langsung dia membukanya, sehingga membuat tersenyum lebar, karena Riska jujur padanya dan tak menyembunyikan hal yang tak Reno sukai.


"Aku makin sayang kamu" ujarnya pada foto Riska yang ada di layar ponselnya, lalu membalas pesan Riska kembali.


Reno (Kurang ajar banget orang itu, apa kamu mau aku kasih pelajaran padanya?).


Tapi saat Riska asyik merawat bunganya, matanya tampa sadar melihat keluar pagar, Tara berdiri sambil menunggangi sepedanya ke arah Riska, dan entah sejak kapan memperhatikan Riska.


Kala Riska melihatnya, Tara melambaikan tangannya dan tersenyum manis, tapi Riska biasa saja dan masuk kembali ke dalam rumahnya, meninggal kan Tara dengan senyum sendunya.


"Apa dengan paksaan saja! itu yang kamu mau kan, Riska!" gumamnya dengan tersenyum kecil sambil melihat langkah kaki mulus Riska masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Lihatlah, dari jauh saja kaki mu begitu indah, apa lagi saat aku sentuh, huh.. kamu buat aku frustasi Riska, aku akan merebutnya dari mu Reno, lihat saja nanti" gumamnya terus bicara sendiri.


Setelah Riska benar-benar masuk Tara pun pergi dari tempat dia berdiri mengamati Riska dari tadi.


Dengan langkah cepat Riska masuk kamarnya, merasa takut dengan pandangan Tara yang menurutnya berbeda dari sebelumnya.


Riska mengambil ponselnya dan melihat balasan Reno.


Riska ( Jangan Reno).


"Aku mulai merasa was-was dan aneh dengan tatapannya, aku takut Tara nekat, aku sungguh tak merasa aman kali ini, tali jika aku memberitahu Reno dan ayah dey perasaan ku ini, aku takut mereka akan semakin khawatir" lirihnya, terus memikirkan tatapan Tara.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2